Aduan ke OJK Membludak, Ribuan Warga Jatim Cari Perlindungan dari Risiko Finansial

Reporter : Redaksi
Ilustrasi OJK (Istimewa)

Surabaya, MEMANGGIL.CO – Maraknya penipuan digital dan kejahatan keuangan berbasis online mulai mengubah perilaku masyarakat Jawa Timur. Dalam tiga bulan pertama 2026, lebih dari 3.600 warga mendatangi Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur untuk mengadu, berkonsultasi, hingga mencari informasi terkait persoalan jasa keuangan yang mereka hadapi.

Tingginya interaksi masyarakat dengan regulator juga terlihat dari melonjaknya permintaan akses Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Sepanjang Januari hingga Maret 2026, OJK Jawa Timur menerima lebih dari 15 ribu permohonan layanan SLIK. Angka ini menunjukkan masyarakat semakin aktif memeriksa rekam jejak kredit dan kondisi keuangan mereka sebagai langkah antisipasi terhadap berbagai risiko finansial.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Horas VM Tarihoran, menilai peningkatan tersebut menjadi indikator tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan konsumen di sektor jasa keuangan.

"Masih ada lebih dari 3.600 masyarakat yang datang langsung ke kantor OJK untuk mengadu, melapor, atau sekadar meminta informasi. Sementara permintaan layanan SLIK mencapai lebih dari 15 ribu selama tiga bulan," ujar Horas, Selasa (23/6/2026).

Menurutnya, ancaman terbesar yang kini dihadapi masyarakat bukan hanya persoalan utang atau kredit bermasalah, tetapi juga maraknya penipuan digital yang semakin beragam modusnya. Karena itu, korban diminta segera melaporkan kejadian yang dialami agar peluang penyelamatan dana dapat dimaksimalkan melalui mekanisme yang tersedia.

"Semakin cepat dilaporkan, semakin besar kemungkinan dana bisa diselamatkan," kata Horas. Ia mengimbau masyarakat memanfaatkan layanan Indonesia Anti Scam Center (IASC) apabila menjadi korban penipuan transaksi digital.

Di tengah meningkatnya kebutuhan perlindungan konsumen, industri perbankan Jawa Timur justru masih menunjukkan ketahanan yang kuat. Hingga April 2026, kredit perbankan tumbuh 2,87 persen secara tahunan, sedangkan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,78 persen. Kondisi permodalan juga tetap solid dengan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 32,9 persen, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) gross berada di level 3,72 persen.

"Permodalan perbankan di Jawa Timur masih kuat dan risiko kredit tetap terjaga," jelas Horas.

Meski demikian, tantangan masih terlihat pada sektor UMKM. Pangsa kredit UMKM mencapai 36,77 persen dari total kredit perbankan Jawa Timur, namun rasio kredit bermasalahnya telah menyentuh 5,45 persen. Kondisi ini menjadi sinyal perlunya peningkatan kualitas usaha dan tata kelola keuangan pelaku UMKM agar lebih siap mengakses pembiayaan formal.

Sementara itu, minat masyarakat terhadap instrumen investasi terus meningkat. OJK mencatat jumlah investor pasar modal di Jawa Timur yang memiliki Single Investor Identification (SID) telah mencapai 2,9 juta orang atau tumbuh 60,47 persen. Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan jumlah investor terbesar ketiga di Indonesia setelah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Lonjakan jumlah investor, tingginya permintaan layanan SLIK, serta ribuan pengaduan yang masuk ke OJK menggambarkan satu fenomena yang sama: masyarakat Jawa Timur semakin aktif mengelola dan melindungi aset keuangannya. Tantangan berikutnya bagi regulator adalah memastikan peningkatan literasi keuangan mampu berjalan seiring dengan perlindungan konsumen di tengah semakin kompleksnya ancaman kejahatan digital.

Editor : B. Wibowo

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru