Edisi Muktamar ke-35 NU

Sosok KH Miftachul Akhyar, Kiai dari Surabaya yang Kembali Dipercaya Jadi Rais Aam PBNU

Reporter : Redaksi
KH Miftachul Akhyar. (Tangkapan layar YouTube NU Online)

Jombang, MEMANGGIL.CO - Nama KH Miftachul Akhyar kembali berada di posisi puncak kepemimpinan Nahdlatul Ulama. Dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, ia kembali ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU untuk masa khidmah 2026–2031.

Penetapan itu bukan lahir dari pemilihan langsung seluruh peserta muktamar. KH Miftachul Akhyar dipilih melalui musyawarah sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Baca juga: Gus Fahim Blora Respons Hasil Muktamar ke-35 NU, Titip Pesan untuk Rais Aam dan Ketum PBNU Terpilih

Musyawarah berlangsung tertutup pada Minggu (30/8/2026) malam. Hasilnya kemudian disampaikan dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU oleh KH Anwar Iskandar.

“Setelah melakukan musyawarah tertutup anggota Ahlul Halli wal Aqdi secara mufakat, bahwa nama KH Miftachul Akhyar dipilih menjadi Rais Aam Pengurus Besar Masa Khidmat 2026-2031,” kata KH Anwar Iskandar saat membacakan hasil musyawarah AHWA.

Keputusan tersebut membuat KH Miftachul Akhyar kembali memimpin jajaran Syuriyah PBNU untuk lima tahun mendatang.

Namun, sosok KH Miftachul Akhyar bukan nama baru dalam struktur kepemimpinan NU. Jauh sebelum berada di level nasional, ia telah melewati perjalanan panjang sebagai ulama, pengasuh pesantren sekaligus pengurus NU.

KH Miftachul Akhyar lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 30 Juni 1953. Ia merupakan anak kesembilan dari 13 bersaudara. Ayahnya, KH Abdul Ghoni, dikenal sebagai pengasuh Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya.

Lingkungan keluarga tersebut menjadi salah satu fondasi awal perjalanan keilmuan KH Miftachul Akhyar. Sejak muda, ia tumbuh dalam tradisi pesantren yang menjadikan pendidikan agama sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Dari lingkungan keluarga itulah perjalanan pendidikannya berkembang ke sejumlah pesantren.

KH Miftachul Akhyar tercatat pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang. Pesantren ini kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya, termasuk ketika ia kembali ke Tambakberas sebagai bagian dari rangkaian Muktamar ke-35 NU.

Setelah dari Tambak Beras, ia melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Perjalanan belajarnya kemudian berlanjut ke Pondok Pesantren Al-Anwar Lasem, Sarang, Jawa Tengah.

Tidak berhenti di lingkungan pesantren, KH Miftachul Akhyar juga mengikuti Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Makki di Malang. Pengalaman belajar di sejumlah pusat pendidikan Islam tersebut membentuk perjalanan keilmuan KH Miftachul Akhyar sebelum kemudian aktif mengembangkan pendidikan dan dakwah di Surabaya.

Sepulang dari perjalanan menuntut ilmu, KH Miftachul Akhyar tidak hanya menjalankan aktivitas dakwah melalui pengajian. Ia kemudian membangun Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan, Surabaya.

Gagasan tersebut berawal dari aktivitas pengajian di lingkungan tempat tinggalnya.

Menurut riwayat yang dimuat NU Online, awalnya KH Miftachul Akhyar berniat mendiami rumah sang kakek. Namun, setelah melihat kondisi masyarakat sekitar dan pentingnya nilai religius, ia mulai membuka pengajian.

Dari aktivitas pengajian itulah kemudian berkembang lembaga pendidikan pesantren. Pondok Pesantren Miftachus Sunnah menjadi salah satu ruang bagi KH Miftachul Akhyar untuk melanjutkan aktivitas pendidikan dan dakwah.

Ia juga dikenal memiliki rutinitas pengajian kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha'illah as-Sakandari yang digelar setiap Jumat setelah salat Jumat.

Meniti Karier Organisasi NU

Baca juga: Prabowo Resmi Terima KTA NU di Jombang, Janji Saat Buka Muktamar Akhirnya Ditunaikan

Perjalanan KH Miftachul Akhyar di NU juga berlangsung bertahap. Ia mulai mendapatkan kepercayaan di tingkat cabang. Pada 2000–2005, ia menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya.

Setelah itu, kiprahnya berlanjut ke tingkat Jawa Timur. KH Miftachul Akhyar dipercaya menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur untuk dua periode, yakni 2007–2013 dan 2013–2018.

Dari struktur NU tingkat wilayah, perjalanan organisasinya kemudian memasuki tingkat nasional. Ia dipercaya menjadi Wakil Rais Aam PBNU periode 2015–2020.

Karier tersebut kemudian membawa KH Miftachul Akhyar ke posisi yang lebih tinggi ketika ia dipercaya menjadi Pj Rais Aam PBNU pada 2018–2020, menggantikan KH Ma'ruf Amin. Sejak saat itu, namanya semakin kuat dalam jajaran ulama senior NU di tingkat nasional.

Dari Pj Rais Aam Menjadi Rais Aam

Perjalanan tersebut kemudian berlanjut pada Muktamar NU berikutnya. KH Miftachul Akhyar dipercaya sebagai Rais Aam PBNU periode 2021–2026. Kini, dalam Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, kepercayaan itu kembali diberikan kepadanya.

Sebelum ditetapkan menjadi Rais Aam, KH Miftachul Akhyar juga terpilih kembali sebagai salah satu anggota AHWA.

Sembilan ulama yang masuk dalam AHWA kemudian menjalankan musyawarah tertutup untuk menentukan Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031.

Hasilnya mengerucut pada satu nama, yakni KH Miftachul Akhyar. Keputusan tersebut diambil secara mufakat oleh sembilan anggota AHWA.

Baca juga: Sosok Gus Kikin, Dari Dunia Pelayaran hingga Dipercaya Memimpin PBNU 2026-2031

Terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar memperpanjang perannya sebagai Rais Aam PBNU. Ia akan memimpin jajaran Syuriyah PBNU pada masa khidmah 2026–2031.

Posisi tersebut memiliki peran strategis dalam perjalanan organisasi NU. Rais Aam berada di jajaran tertinggi Syuriyah yang berkaitan dengan arah keagamaan dan kebijakan organisasi.

Dengan keputusan AHWA tersebut, salah satu teka-teki utama Muktamar ke-35 NU telah terjawab. Kini perhatian beralih pada susunan kepemimpinan PBNU lainnya, terutama posisi Ketua Umum PBNU.

Jika Rais Aam telah ditetapkan, maka proses berikutnya adalah menentukan figur yang akan memimpin jajaran Tanfidziyah PBNU.

Muktamar ke-35 NU pun memasuki fase penting dalam menentukan wajah kepemimpinan organisasi untuk lima tahun mendatang.

Bagi KH Miftachul Akhyar sendiri, keputusan AHWA tersebut menjadi kelanjutan panjang dari perjalanan yang dimulai dari lingkungan pesantren di Surabaya.

Dari belajar di sejumlah pesantren, membuka pengajian, mendirikan pesantren, memimpin NU di tingkat cabang dan wilayah, menjadi Wakil Rais Aam, hingga akhirnya dipercaya menduduki posisi Rais Aam PBNU.

Kini mandat itu kembali berada di tangannya. KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya menjadi Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031. Sebuah perjalanan panjang dari pesantren menuju pucuk Syuriyah NU yang kembali berlanjut di Muktamar ke-35 NU Tambakberas.

Editor : Ahmad Adirin

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru