Jakarta, MEMANGGIL.CO - Pemerintah Kabupaten Blora kembali mendorong penguatan sektor perdagangan dengan mengusulkan revitalisasi Pasar Lama Cepu atau yang lebih dikenal sebagai Pasar Plaza Cepu. Pasar yang berada di kawasan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur itu dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat perdagangan sekaligus jalur distribusi komoditas unggulan Blora.
Usulan tersebut disampaikan Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman saat bertemu jajaran Kementerian Perdagangan Republik Indonesia di Jakarta. Bupati yang akrab disapa Gus Arief itu datang bersama sejumlah kepala organisasi perangkat daerah untuk membahas pengembangan sarana perdagangan sekaligus perluasan pemasaran produk unggulan daerah.
Baca juga: Warga Klokah Blora Krisis Air Bersih, Kejati Jateng Kirim 20 Tangki Bantuan
Dalam pertemuan tersebut, Gus Arief diterima Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Iqbal Shoffan Shofwan dan Direktur Sarana Perdagangan dan Logistik Sri Sugy Atmanto.
Gus Arief mengatakan keberadaan Pasar Plaza Cepu memiliki nilai strategis karena berada di kawasan yang menjadi salah satu akses utama menuju Jawa Tengah dari arah timur. Karena itu, keberadaan pasar tersebut dinilai perlu diperkuat agar tidak sekadar menjadi tempat transaksi masyarakat, tetapi juga mampu menjadi bagian dari rantai distribusi perdagangan antardaerah.
“Lokasinya sangat strategis karena berada di pintu masuk Jawa Tengah dari arah timur. Dengan posisi tersebut, Pasar Plaza Cepu memiliki peluang besar menjadi pusat transaksi perdagangan dan pergerakan ekonomi masyarakat,” ungkapnya, ditulis Rabu (9/9/2026).
Menurut Gus Arief, revitalisasi pasar dibutuhkan untuk menyesuaikan sarana perdagangan dengan perkembangan aktivitas ekonomi masyarakat. Apalagi, sektor pangan menjadi salah satu penopang penting perekonomian Kabupaten Blora bersama sektor energi.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Blora berada di kisaran 5,4 persen. Kondisi tersebut, kata dia, perlu diikuti dengan penguatan infrastruktur perdagangan sehingga peningkatan produksi di tingkat petani dan pelaku usaha dapat tersambung dengan akses pasar yang lebih luas.
“Pertumbuhan ekonomi Blora saat ini sebagian besar ditopang sektor pangan dan energi. Karena itu kami ingin membangun kembali Pasar Plaza Cepu agar menjadi pusat perdagangan yang lebih representatif dan mampu mendukung aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Beras Organik Jadi Komoditas yang Dibawa ke Jakarta
Selain memperjuangkan revitalisasi Pasar Plaza Cepu, Gus Arief membawa agenda lain dalam pertemuan tersebut, yakni pengembangan pertanian organik di Kabupaten Blora.
Pemkab Blora saat ini tengah menyiapkan regulasi mengenai pertanian organik. Langkah tersebut diarahkan untuk memberikan kepastian bagi petani sekaligus mendorong pengembangan pertanian yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Salah satu produk yang diperkenalkan dalam pertemuan itu adalah beras organik dari Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban. Komoditas tersebut telah mendapatkan pendampingan dari Pertamina sejak 2017 dan kini terus dikembangkan sebagai salah satu produk pertanian unggulan Blora.
Pengembangan pertanian organik di Blora juga tidak hanya dilakukan oleh kelompok tani. Sejumlah organisasi kemasyarakatan, di antaranya PCNU, Muhammadiyah dan LDII, turut mengembangkan budidaya pertanian organik di sejumlah wilayah.
Gus Arief mengatakan persoalan utama bukan lagi sekadar menghasilkan produk, tetapi bagaimana memastikan hasil pertanian tersebut memiliki pasar yang jelas.
Pemkab Blora bahkan telah menjalin kerja sama dengan ID FOOD untuk memperluas penyerapan beras organik. Dalam kerja sama tersebut, ID FOOD disebut siap menyerap hingga 2.000 ton beras organik Blora setiap tahun.
“Permintaan pasar sudah ada. ID FOOD siap menampung 2.000 ton per tahun, tetapi saat ini produksi kami baru sekitar 1.000 ton. Ini menjadi peluang besar yang terus kami dorong,” katanya.
Baca juga: Tembakau Jadi Andalan Pertanian Blora, 3.000 Hektare Digarap 10.600 Petani
Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang untuk meningkatkan kapasitas produksi. Jika produksi dapat digenjot dan kualitas tetap terjaga, pasar yang telah tersedia dapat menjadi salah satu pintu bagi petani Blora meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.
Potensi Sapi hingga Rp3,5 Miliar Sekali Pasaran
Dalam pertemuan itu, Gus Arief juga memaparkan potensi perdagangan ternak di Kabupaten Blora. Daerah tersebut dikenal memiliki populasi sapi potong yang besar di Jawa Tengah sekaligus aktivitas perdagangan hewan yang cukup tinggi.
Ia menyebut aktivitas pasar hewan berlangsung mengikuti sistem pasaran Jawa. Dalam satu kali pasaran, nilai transaksi perdagangan ternak bahkan dapat mencapai miliaran rupiah.
“Pasar hewan di Blora buka setiap pasaran Pon atau lima hari sekali. Nilai transaksi dalam satu kali pasaran mencapai Rp3,5 miliar,” ujarnya.
Potensi tersebut menjadi gambaran lain mengenai besarnya aktivitas perdagangan komoditas di Blora. Karena itu, menurut Gus Arief, penguatan sarana perdagangan perlu dilakukan secara lebih terintegrasi agar potensi produksi daerah dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.
Kemendag Buka Jalan Revitalisasi
Usulan Pemkab Blora mendapat respons dari Kementerian Perdagangan. Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Iqbal Shoffan Shofwan menyatakan akan membantu mengupayakan usulan revitalisasi Pasar Plaza Cepu agar dapat memperoleh dukungan pemerintah pusat.
Baca juga: Perkumpulan Penambang Minyak Soko Blora Setor 170 Ton per Bulan, Ratusan Warga Ikut Rasakan Manfaat
Menurut Iqbal, pasar rakyat memiliki posisi penting dalam mata rantai perdagangan. Keberadaan pasar yang layak dan representatif tidak hanya memberikan kenyamanan bagi pedagang serta pembeli, tetapi juga dapat memperkuat sistem distribusi komoditas daerah.
Kementerian Perdagangan juga mendorong Blora memanfaatkan Trade Expo Indonesia (TEI) sebagai ruang promosi produk unggulan daerah. Pameran perdagangan yang digelar Kementerian Perdagangan setiap Oktober tersebut dinilai dapat menjadi salah satu pintu untuk memperkenalkan produk Blora ke pasar yang lebih luas.
Beras organik menjadi salah satu komoditas yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan. Tren konsumsi pangan sehat dan produk yang lebih ramah lingkungan dinilai membuka ceruk pasar yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha dan petani Blora.
Sementara itu, Direktur Sarana Perdagangan dan Logistik Sri Sugy Atmanto meminta Pemkab Blora memperkuat basis data seluruh pasar yang ada di wilayahnya.
Pemkab diminta menyusun profil pasar secara lengkap dan memasukkan data tersebut ke dalam Sistem Informasi Sarana Perdagangan (SISP). Data itu nantinya dapat menjadi salah satu dasar pemerintah pusat dalam memetakan kebutuhan sarana perdagangan sekaligus menentukan prioritas program revitalisasi.
Pertemuan di Kementerian Perdagangan tersebut akhirnya tidak hanya membicarakan bangunan Pasar Plaza Cepu. Di balik usulan revitalisasi pasar, Pemkab Blora juga sedang berupaya membangun mata rantai ekonomi dari produksi hingga pemasaran, mulai dari beras organik hingga perdagangan ternak.
Bagi Blora, tantangannya kini bukan semata meningkatkan produksi pangan. Persoalan berikutnya adalah memastikan produk yang dihasilkan petani memiliki pasar, distribusi yang efisien, serta sarana perdagangan yang mampu menghubungkan komoditas lokal dengan konsumen yang lebih luas.
Dengan posisi Cepu yang berada di kawasan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, revitalisasi Pasar Plaza Cepu diharapkan dapat menjadi salah satu bagian dari strategi tersebut. Jika terealisasi, pasar ini tidak hanya menjadi tempat jual beli, tetapi juga dapat berfungsi sebagai simpul distribusi bagi berbagai komoditas unggulan Blora.
Editor : Redaksi