Blora, MEMANGGIL.CO - Persoalan air bersih kembali menjadi perhatian di Kabupaten Blora. Warga Desa Klokah, Kecamatan Kunduran, yang terdampak kekeringan mendapat bantuan 20 tangki air bersih dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah, Rabu (9/9/2026).

Bantuan tersebut disalurkan di tengah kebutuhan warga terhadap pasokan air bersih yang meningkat akibat kondisi kekeringan. Puluhan tangki air dikirim untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang kesulitan mendapatkan air.

Penyaluran bantuan dilakukan bersamaan dengan kunjungan kerja Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Jawa Tengah, Waito Wongateleng ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Blora.

Bantuan air bersih tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan bakti sosial dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-81 Kejaksaan Republik Indonesia. Sebanyak 20 tangki air disiapkan untuk didistribusikan kepada masyarakat Desa Klokah.

“Puji syukur ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa, dalam kunjungan kerja hari ini, saya selaku Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah berkesempatan untuk menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat Desa Klokah, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, yang saat ini memang sangat membutuhkannya,” ujar Waito.

Bantuan Dibagi Dua Tahap

Tidak seluruh bantuan dikirim dalam satu waktu. Dari total 20 tangki air bersih yang disiapkan, sebanyak 10 tangki disalurkan pada Rabu (9/9/2026), sedangkan 10 tangki lainnya dijadwalkan dikirim pada hari berikutnya.

“Dengan mengucap bismillahirrohmanirohim, pada hari ini saya melepas bantuan air bersih sebanyak 20 tangki. Penyalurannya dibagi dalam dua sesi, yaitu 10 tangki hari ini, dan 10 tangki sisanya besok,” kata Waito.

Pelepasan armada pengangkut air dilakukan dari halaman Kantor Kejari Blora. Prosesi tersebut ditandai dengan pengibaran bendera start dan disaksikan Kajari Blora, Khristiya Lutfiasandhi, beserta jajaran pejabat dan pegawai di lingkungan Kejari Blora.

Sesampainya di Desa Klokah, bantuan langsung disambut warga. Sejumlah warga telah membawa ember dan jerigen untuk mengambil air yang disalurkan melalui armada tangki.

Warga kemudian mengantre untuk mendapatkan air bersih. Penyaluran dilakukan secara langsung agar bantuan dapat segera dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Dalam proses tersebut, Wakajati Jateng, Waito Wongateleng, bersama Kajari Blora, Khristiya Lutfiasandhi, Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI) Siswanto, Kalak BPBD Blora Widodo, serta jajaran Forkopimcam Kunduran turut turun langsung membantu pengisian air ke wadah milik warga.

Warga Biasanya Harus Beli Air

Bagi masyarakat Desa Klokah, bantuan tersebut bukan sekadar distribusi air, tetapi menjadi solusi sementara di tengah kebutuhan air bersih yang harus dipenuhi setiap hari.

Sudarlan, salah seorang warga Desa Klokah, mengatakan masyarakat menyambut baik bantuan tersebut. Menurutnya, warga selama ini harus mengeluarkan biaya untuk mendapatkan air ketika kebutuhan air bersih tidak dapat dipenuhi dari sumber yang tersedia.

“Sebagai warga Desa Klokah, saya mengucapkan terima kasih karena bantuan ini sangat kami butuhkan. Biasanya kami harus membeli air dari tangki umum seharga Rp150.000,00 per tangki. Kami berharap bantuan air bersih seperti ini bisa terus berlanjut,” ujar Sudarlan.

Harga tersebut menjadi beban tersendiri bagi warga ketika kebutuhan air harus dipenuhi secara rutin. Karena itu, bantuan air bersih dari Kejati Jateng dinilai cukup membantu masyarakat dalam menghadapi kondisi kekeringan.

Pemkab Blora sendiri melalui berbagai pihak terus melakukan penanganan terhadap wilayah yang mengalami kesulitan air bersih. Bantuan dari berbagai instansi dan lembaga menjadi salah satu bentuk respons terhadap kebutuhan masyarakat selama musim kering.

Kegiatan penyaluran 20 tangki air bersih di Desa Klokah tersebut berlangsung aman dan kondusif. Bantuan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat sekaligus meringankan beban warga yang terdampak kekeringan.

Bagi warga Klokah, persoalan air bersih bukan sekadar soal pasokan. Ketika sumber air mulai sulit diakses, kebutuhan paling dasar rumah tangga pun ikut terdampak. Karena itu, keberlanjutan distribusi air menjadi hal yang masih dinantikan masyarakat selama kondisi kekeringan belum berakhir.