Blora, MEMANGGIL.CO - Komoditas tembakau kini menjadi salah satu andalan pertanian rakyat di Kabupaten Blora. Pengembangannya terus berjalan dan telah berlangsung lebih dari satu dekade, dengan luas lahan yang mencapai sekitar 3.000 hektare.

Kepala DP4 Kabupaten Blora, Ngaliman, mengatakan pengembangan tanaman tembakau di wilayah Blora mulai berkembang sejak 2014 dan terus berlangsung hingga saat ini.

“Penanaman tembakau di Blora mulai berkembang pada tahun 2014 sampai sekarang, Mas,” ujar Ngaliman saat ditemui, Rabu (9/9/2026).

Hingga saat ini, luas lahan penanaman tembakau di Blora mencapai sekitar 3.000 hektar, dengan pola pemasaran dan pengolahan yang berbeda-beda antarwilayah. 

"Sekarang 3000 Hektar, sebagian hektar bermitra ke PT Sadana Arifnusa. Gudangnya di Kabupaten Rembang," jelas Ngaliman. 

"Sedangkan di wilayah selatan biasanya pakai lokal, cara ngeringkannya pakai asap kurang, sedangkan lainnya dikeringkan dengan sinar Matahari dan dikirim ke mitra," tambahnya.

Hubungan kerja sama antara petani dan perusahaan mitra sudah berjalan sejak awal pengembangan komoditas ini. 

"Kemitraan itu dari awal sudah bermitra dan hubungan perusahaan antara petani," katanya. 

Sementara itu, sekitar ribuan hektar tidak terikat kemitraan dan pemasarannya diserahkan ke jalur perdagangan umum atau tengkulak.

"Sisa lahan yang tidak bermitra biasanya dikirimkan lewat tengkulak. Biasanya di Kabupaten Temanggung dan lainnya," ungkap Ngaliman.

Mekanisme penetapan harga pun berbeda antara yang bermitra dan yang dijual lewat tengkulak.

"Kalau harganya yang tidak bermitra tergantung tengkulaknya mas," ujarnya. 

"Sedangkan yang bermitra itu tadi dibeli oleh PT Sadana. Terkait kualitas barangnya nanti tinggal greatnya, bagus atau tidaknya. Kalau di PT Sadana tidak bisa menyebutkan," tambahnya. 

Secara keseluruhan, komoditas tembakau ini menjadi sumber penghidupan puluhan ribuan keluarga di Blora. 

"Dari 3000 hektar tadi, kurang lebih 10.600an Petani yang menanam tembakau," pungkas Ngaliman.