Blora, MEMANGGIL.CO – Pagi itu, Randublatung tak sekadar terbangun oleh cahaya matahari. Ia bangun oleh rasa syukur.

Di sepanjang ruas Jalan Pilang–Bulakan–Temulus, wajah-wajah warga memantulkan harapan yang akhirnya berlabuh.

Jalan yang dulu berdebu dan berlubang, kini terhampar mulus, menjadi saksi bisu kerja, doa, dan penantian panjang masyarakat.

Sabtu (31/01/2026), suasana kebersamaan terasa kental saat Bupati Blora, H. Arief Rohman, hadir dalam tasyakuran peresmian hasil rekonstruksi jalan tersebut. Tak ada jarak antara pemimpin dan rakyat. 

Anak-anak sekolah berjejer rapi membentuk pagar betis, melambaikan tangan dengan senyum polos, seolah menyambut masa depan yang ikut dilapangkan bersama jalan baru ini.

Tasyakuran berlangsung sederhana namun sarat makna. Pita dipotong, tumpeng dihadirkan, bukan sekadar hidangan, melainkan simbol rasa syukur yang dimasak dari gotong royong dan harapan. 

Di tengah warga, Gus Arief, sapaan akrab Bupati Blora, tampak larut dalam kehangatan kebersamaan.

“Alhamdulillah, sakniki radosane sampun alus. Ampun dingge kebut-kebutan motor. Jalan sudah bagus, monggo dimanfaatkan dengan tertib dan aman,” pesan Gus Arief, disambut anggukan dan senyum warga.

Bagi masyarakat Pilang–Temulus, jalan ini bukan hanya lintasan kendaraan. Ia adalah urat nadi kehidupan.

Sate Pak Rizki

Jalan yang menghubungkan ladang ke pasar, panen ke pembeli, dan harapan ke kesejahteraan. 

Gus Arief menegaskan, infrastruktur yang baik adalah fondasi penting bagi keselamatan, kenyamanan, dan pertumbuhan ekonomi warga.

Randublatung selama ini dikenal sebagai kawasan produktif sektor pertanian. Dengan akses jalan yang kini lebih layak, distribusi hasil panen diharapkan semakin lancar. 

Nilai lahan meningkat, waktu tempuh terpangkas, dan jerih payah petani tak lagi terhambat oleh jalan rusak.

Di hari itu, aspal hitam terasa lebih hangat, bukan karena matahari, melainkan oleh rasa memiliki.

Jalan Pilang–Temulus kini bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan cerita tentang kebersamaan antara pemerintah dan rakyat, antara harapan dan kenyataan, yang akhirnya bertemu di satu ruas jalan bernama syukur.