Mojokerto, MEMANGGIL.CO - Di lereng barat Gunung Welirang, kabut turun pelan menyelimuti hutan dan ladang. Di sanalah, di ketinggian yang sunyi itu, berdiri sebuah kampung yang namanya lama hilang dari peta administrasi negara: Desa Sendi. Namun bagi warganya, Sendi bukan sekadar nama. Ia adalah rumah, sejarah, dan harga diri.

Pagi itu, suara gamelan dan doa-doa adat menggema. Ratusan warga berkumpul dalam Festival Wilayah Kelola Rakyat Desa Adat Sendi. Mereka mengenakan busana tradisional. Ada ritual ngangsu banyu—mengambil air dari sumber mata air yang mereka jaga turun-temurun. Air itu bukan hanya untuk diminum, tetapi simbol kehidupan dan keberlanjutan.

Di tengah upacara, bendera Merah Putih dikibarkan. Tangan-tangan yang mengangkatnya adalah tangan petani, penjaga hutan, ibu-ibu yang setiap hari menanak nasi dari hasil bumi sendiri. “Kami ini Indonesia,” kata salah satu tokoh adat dengan suara bergetar. “Tapi mengapa negara belum mengakui kami?”

Sendi memiliki jejak sejarah panjang, disebut-sebut sudah ada sejak abad ke-16. Arsip kolonial Belanda pernah mencatat namanya. Leluhur mereka hidup berdampingan dengan hutan, membuka ladang secukupnya, menanam bambu di sekitar mata air agar sumber kehidupan itu tetap lestari. Mereka punya aturan adat yang mengikat: hutan tak boleh ditebang sembarangan, sumber air harus dijaga, dan tanah adalah warisan bersama.

Namun dalam administrasi modern, nama Sendi tak lagi tercantum sebagai desa resmi. Secara hukum, ia seperti tak pernah ada. Warga Sendi hidup dalam ruang abu-abu: ada secara fisik, tapi tak diakui secara administratif.

Sejak 1999, warga membentuk Forum Perjuangan Rakyat (FPR) Sendi. Mereka mendatangi kantor-kantor pemerintahan, membawa dokumen sejarah, membawa harapan. Mereka tak menuntut lebih hanya pengakuan. Pengakuan bahwa mereka ada. Bahwa adat mereka sah. Bahwa tanah yang mereka kelola bukan tanah kosong tanpa pemilik.

Bagi warga, perjuangan ini bukan sekadar soal status desa. Ini tentang identitas. Tentang anak-anak mereka yang tumbuh dengan cerita leluhur, tentang orang tua yang ingin mati dalam pengakuan, bukan dalam penghapusan sejarah.

Sate Pak Rizki

Di tengah tekanan dan ketidakpastian, Sendi tetap hidup. Mereka tetap bertani, tetap menjaga hutan, tetap merawat sumber mata air. Di sana, alam dan manusia masih bersepakat untuk saling melindungi.

Sore menjelang, kabut kembali turun. Di bawah langit pegunungan yang dingin, seorang ibu memeluk anaknya sambil menatap ladang. “Kami tidak melawan negara,” katanya pelan. “Kami hanya ingin diakui sebagai bagian dari negeri ini.”

Di Desa Sendi, perjuangan tak selalu berupa teriakan. Kadang ia hadir dalam doa-doa adat, dalam cangkul yang menembus tanah, dalam air yang tetap mengalir jernih dari mata air yang dijaga sepenuh hati.

Dan di sana, di kampung yang katanya tak ada itu, kehidupan terus berjalan dengan adat sebagai pegangan, dan harapan sebagai napas panjang yang tak pernah padam.