Blora, MEMANGGIL.CO - Pola pertanian di Desa Plosorejo, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Mayoritas petani yang sebelumnya hanya mengandalkan tanaman pangan monokultur kini mulai beralih ke sistem diversifikasi komoditas sebagai upaya meningkatkan nilai ekonomi lahan dan memperkuat ketahanan sektor pertanian desa.

Perubahan tersebut tampak dari semakin beragamnya komoditas yang ditanam petani. Jika sebelumnya lahan pertanian didominasi satu jenis tanaman, kini petani mulai mengembangkan tembakau, cabai, hingga tomat yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Langkah ini mencerminkan keberanian petani dalam membaca peluang pasar sekaligus beradaptasi dengan perkembangan sektor pertanian modern.

Diversifikasi tanaman dipilih sebagai strategi untuk meningkatkan pendapatan petani. Dengan menanam komoditas hortikultura dan perkebunan, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu sumber hasil panen.

Sektor pertanian pun berkembang menjadi tulang punggung ekonomi desa yang terus didorong untuk menjadi potensi unggulan.

Namun demikian, upaya meningkatkan produktivitas pertanian tersebut tidak terlepas dari tantangan klasik, yakni keterbatasan ketersediaan air, terutama saat memasuki musim tanam kedua atau puncak musim kemarau.

Kondisi kekeringan kerap menjadi hambatan utama yang berisiko menurunkan hasil panen dan mengganggu keberlanjutan usaha tani warga.

Menanggapi persoalan tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Plosorejo mengambil langkah dengan memprioritaskan pembangunan infrastruktur pendukung pertanian.

Pemdes Plosorejo menempatkan diri sebagai fasilitator untuk memastikan kebutuhan dasar petani dapat terpenuhi, khususnya terkait akses air.

“Pemerintah desa fokus mendorong dan memfasilitasi kebutuhan petani. Salah satu langkah konkretnya adalah pembangunan infrastruktur air,” ujar Kepala Desa Plosorejo, Akhmad Muslih, melalui Sekretaris Desa Plosorejo, Sukisnan, kepada Memanggil.co, ditulis Jumat (20/2/2026). 

Sate Pak Rizki

Pada tahun anggaran 2023 hingga 2024, Pemdes Plosorejo merealisasikan pembangunan tower air di sejumlah titik strategis, baik di wilayah selatan maupun utara desa. Infrastruktur tersebut dirancang untuk menjangkau area pertanian yang selama ini mengalami kesulitan pasokan air.

Sistem distribusi air yang dibangun bersifat terintegrasi. Air utama bersumber dari embung desa sebagai penampung primer. Ketika debit air embung menurun akibat kemarau panjang, sistem pompa akan mengalirkan air dari Kali Lusi sebagai sumber cadangan.

Air tersebut kemudian ditarik sejauh sekitar dua hingga tiga kilometer menuju tower sebelum didistribusikan ke lahan-lahan pertanian milik warga.

“Dengan adanya tower air ini, petani tetap bisa menanam meski musim kemarau. Air bisa dialirkan ke lahan sehingga risiko gagal panen dapat ditekan,” ujar Sukisnan.

Kehadiran tower air dinilai memberi dampak langsung terhadap keberlangsungan usaha tani, khususnya bagi komoditas hortikultura seperti cabai dan tomat yang membutuhkan suplai air stabil.

Dengan jaminan ketersediaan air, produktivitas pertanian dapat dipertahankan meskipun kondisi cuaca tidak menentu.
Transformasi pertanian di Desa Plosorejo menunjukkan bahwa pengelolaan potensi alam harus diimbangi dengan dukungan infrastruktur yang memadai.

Sinergi antara petani yang adaptif dan pemerintah desa yang responsif menjadi fondasi dalam mendorong pertanian desa agar lebih maju dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.