Jakarta, MEMANGGIL.CO – Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, H. Eko Wahyudi, memberikan sejumlah catatan kritis kepada Kementerian Pertanian dalam rapat kerja terkait Evaluasi Pelaksanaan Anggaran Tahun 2025 dan Progres Pelaksanaan Anggaran Tahun 2026.

Dalam rapat tersebut, legislator Komisi IV DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur IX Tuban-Bojonegoro itu menyoroti capaian produksi sejumlah komoditas strategis nasional yang dipaparkan Kementerian Pertanian.

Eko mengapresiasi capaian produksi beberapa komoditas seperti padi dan jagung yang dinilai berhasil melampaui target pemerintah.

Namun di sisi lain, ia memberi perhatian serius terhadap rendahnya produksi kedelai nasional yang hingga kini masih jauh dari target yang telah ditetapkan.

“Pimpinan, kami mencermati bahwa capaian produksi komoditas strategis tahun 2025 menunjukkan adanya kinerja yang belum sepenuhnya merata. Kami mengapresiasi keberhasilan pada beberapa komoditas seperti padi dan jagung yang telah melampaui target. Namun demikian, kami juga melihat adanya perhatian serius pada komoditas kedelai, yang realisasinya masih jauh di bawah target, yakni sekitar 23 persen,” ujar H. Eko Wahyudi Anggota Komisi IV DPR RI, Selasa, (19/5/2026).

Berdasarkan data capaian produksi komoditas strategis tahun 2026 per 17 Mei 2026, produksi kedelai tercatat baru mencapai sekitar 1,31 persen dari target nasional.

Kondisi tersebut dinilai menjadi alarm bagi sektor pertanian nasional mengingat kedelai merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat dan industri pangan.

Politikus asal Kabupaten Tuban itu pun meminta Kementerian Pertanian memberikan penjelasan secara komprehensif terkait berbagai faktor yang menyebabkan rendahnya capaian produksi kedelai.

Sate Pak Rizki

Menurutnya, evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari aspek perencanaan program, pelaksanaan di lapangan, hingga dukungan kebijakan pemerintah terhadap petani kedelai.

“Kondisi ini tentu menjadi catatan penting, mengingat kedelai merupakan komoditas strategis yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, kami memandang perlu adanya penjelasan lebih lanjut dari Kementerian terkait faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya capaian tersebut, baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan program, maupun dukungan kebijakan yang ada,” katanya.

Eko juga menegaskan pentingnya langkah konkret dan terukur dari pemerintah untuk meningkatkan produksi kedelai nasional agar ketergantungan terhadap impor dapat ditekan secara bertahap.

“Ke depan, kami berharap Kementerian dapat menyusun langkah-langkah perbaikan yang lebih terarah dan terukur, sehingga kinerja produksi kedelai dapat ditingkatkan dan ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara bertahap,” tegasnya.

Rapat kerja tersebut menjadi bagian dari fungsi pengawasan DPR RI terhadap pelaksanaan anggaran dan program pemerintah, khususnya di sektor pertanian yang menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional.

Lebih lanjut, ia menegaskan persoalan terhadap produksi kedelai itu sekaligus menjadi pengingat bahwa tantangan sektor pertanian tidak hanya soal peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana memastikan setiap komoditas strategis mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan.