Jakarta, MEMANGGIL.CO - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), konsolidasi dan silaturahim sejumlah tokoh dengan jajaran pengurus NU di berbagai daerah terus berlangsung. Salah satu figur yang melakukan rangkaian pertemuan tersebut adalah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, yang mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Dari Aceh hingga Sulawesi dan Gorontalo, pertemuan dengan jajaran PWNU dan PCNU menjadi momentum untuk membicarakan kondisi organisasi sekaligus arah NU ke depan. Dalam forum-forum tersebut, pengalaman Gus Rozin di lingkungan NU, kiprahnya dalam penguatan pesantren, serta gagasan mengenai penguatan struktur organisasi dari bawah menjadi sejumlah hal yang mendapat perhatian.

Di Aceh, dukungan terhadap Gus Rozin disampaikan Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh, Tengku Haji Faisal Ali. Ia menilai Gus Rozin memiliki pengalaman panjang dalam organisasi dan telah melewati berbagai dinamika kepemimpinan di lingkungan NU.

Menurut Faisal, pengalaman tersebut menjadi modal penting apabila Gus Rozin memperoleh amanah untuk memimpin PBNU. Ia juga menilai perhatian Gus Rozin terhadap pesantren menjadi salah satu kekuatan yang melekat pada rekam jejaknya.

“Perjuangan yang berada di bawah komando Gus Rozin tentu tidak perlu lagi diragukan. Kapasitas, pengalaman, serta kepiawaian beliau dalam memimpin organisasi telah teruji dalam berbagai situasi,” ujar Faisal dalam pertemuan PWNU dan PCNU se-Aceh, 19 Agustus 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana menjelang Muktamar, ketika sejumlah pengurus NU di daerah mulai menyampaikan pandangan mengenai figur dan gagasan yang dinilai sesuai dengan kebutuhan organisasi ke depan.

Rais Syuriyah PCNU Bener Meriah turut menyampaikan kesannya terhadap Gus Rozin berdasarkan pengalaman kebersamaan selama berada di lingkungan NU. Ia menggambarkan Gus Rozin sebagai figur yang memiliki loyalitas, sikap baik, dan komitmen dalam menjalankan amanah organisasi.

Sementara itu, Rais Syuriyah PCNU Aceh Tengah menekankan pentingnya perhatian terhadap pesantren. Menurutnya, penguatan NU tidak dapat dilepaskan dari keberadaan pesantren yang selama ini menjadi salah satu basis utama kaderisasi dan kehidupan keagamaan warga NU.

Dorongan tersebut sekaligus menguji sejauh mana komitmen kandidat Ketua Umum PBNU terhadap pesantren. Dalam konteks itu, rekam jejak Gus Rozin yang selama ini banyak bersentuhan dengan dunia pesantren menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian.

Gagasan serupa juga mengemuka ketika Gus Rozin melakukan silaturahim dengan pengurus NU di Sulawesi dan Gorontalo. Dalam pertemuan tersebut, pembicaraan berkembang pada kebutuhan memperkuat PCNU, pesantren, jamaah, dan kemandirian organisasi.

Gus Rozin melihat struktur NU di daerah memiliki banyak potensi yang belum seluruhnya terhubung. Ada cabang yang berhasil mengembangkan program tertentu, sementara cabang lain mungkin masih menghadapi persoalan yang sama dan membutuhkan pendampingan.

Karena itu, ia menawarkan PBNU sebagai penghubung berbagai potensi tersebut. Pusat tidak harus mengerjakan seluruh program, tetapi dapat membuka akses, mempertemukan sumber daya, dan memastikan pengalaman baik dari satu daerah dapat dimanfaatkan daerah lainnya.

“Kalau satu PCNU sudah berhasil di satu bidang, PCNU lain tidak harus memulai semuanya dari nol,” kata Gus Rozin.

Menurutnya, pola kerja tersebut dapat membuat NU berkembang melalui kekuatan bersama. Setiap cabang tidak berdiri sendiri, tetapi dapat saling belajar dan memberikan dukungan.

“NU tidak akan besar kalau yang kuat hanya PBNU. Yang harus kita kuatkan justru cabang-cabangnya, pesantrennya, jamaahnya. Kalau mereka kuat, dengan sendirinya NU juga akan kuat,” ujarnya.

Gagasan penguatan dari bawah tersebut menjadi salah satu pembeda dalam narasi pencalonan Gus Rozin. Ia menilai ukuran keberhasilan kepemimpinan PBNU bukan hanya terlihat dari aktivitas di tingkat pusat, tetapi juga dari seberapa jauh struktur organisasi di daerah mampu bergerak dan memberikan manfaat.

Penguatan PCNU, menurut dia, harus berjalan beriringan dengan penguatan pesantren dan jamaah. Ketiganya menjadi bagian dari ekosistem yang membuat NU tetap hidup dan memiliki akar kuat di tengah masyarakat.

Rekam jejak Gus Rozin dalam organisasi NU juga menjadi modal yang kerap disoroti dalam rangkaian silaturahim tersebut. Ia pernah mengemban amanah sebagai Pengurus Pusat IPNU, Pengurus Pusat GP Ansor, Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU, Ketua RMI NU Jawa Tengah, Ketua RMI PBNU, Mustasyar PCNU Kabupaten Pati, dan Katib Syuriyah PBNU.

Saat ini, Gus Rozin menjabat sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah periode 2024–2029 dan Ketua Majelis Masyayikh.

Kiprahnya dalam RMI PBNU membuat isu pesantren menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasinya. Ia terlibat dalam berbagai agenda penguatan pesantren dan santri, termasuk pengawalan lahirnya Undang-Undang Pesantren, Liga Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, serta berbagai program pemberdayaan pesantren.

Di Majelis Masyayikh, perhatian tersebut berlanjut melalui upaya peningkatan mutu pendidikan pesantren dan Ma'had Aly. Gus Rozin juga terlibat dalam advokasi kepentingan pesantren dalam kebijakan pendidikan nasional.

Bagi Gus Rozin, pesantren merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masa depan NU. Pesantren bukan hanya tempat pendidikan berlangsung, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, kaderisasi, penguatan tradisi keilmuan, serta basis kehidupan jamaah.

Karena itu, penguatan pesantren ditempatkan sebagai salah satu bagian penting dari agenda penguatan NU secara keseluruhan.

Di sisi lain, Gus Rozin mengatakan keputusan untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU telah melalui proses panjang. Ia menyebut telah melakukan perenungan, istikharah, serta mempertimbangkan berbagai hal sebelum mengambil keputusan tersebut.

“Saya ingin proses ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menentukan arah NU ke depan,” katanya.

Ia menyadari bahwa kepemimpinan PBNU bukan sekadar persoalan jabatan. Amanah tersebut membutuhkan kesiapan, ketulusan, dan kemampuan untuk mengelola organisasi dengan jaringan yang sangat luas.

Karena itu, Gus Rozin menawarkan model kepemimpinan yang menurutnya lebih menekankan penguatan struktur di tingkat bawah. Cabang, pesantren, jamaah, dan wilayah yang selama ini belum mendapatkan perhatian secara maksimal diharapkan memperoleh ruang yang lebih besar.

Menurutnya, PBNU harus mampu menjadi rumah besar yang menghubungkan seluruh potensi tersebut. Pusat tidak boleh berjalan sendiri, sementara struktur di bawah berjuang dengan kapasitas masing-masing.

Konsep yang ditawarkan adalah membangun jaringan kerja yang memungkinkan keberhasilan satu daerah menjadi pembelajaran bagi daerah lainnya. Dengan demikian, NU dapat berkembang melalui proses saling menguatkan, bukan sekadar melalui program yang dirancang dari pusat.

Rangkaian pertemuan Gus Rozin dengan pengurus NU di sejumlah daerah menjadi bagian dari dinamika menuju Muktamar ke-35. Respons dari Aceh hingga Sulawesi menunjukkan bahwa gagasan mengenai penguatan organisasi dari akar mulai menjadi bagian dari pembicaraan di tingkat daerah.

Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Jombang, Jawa Timur, akan menjadi momentum penting untuk menentukan arah organisasi sekaligus memilih sosok yang akan menerima amanah memimpin PBNU.

Di tengah dinamika tersebut, pencalonan Gus Rozin menghadirkan tawaran kepemimpinan yang menempatkan penguatan cabang, pesantren, dan jamaah sebagai salah satu fondasi utama. Seberapa jauh gagasan tersebut memperoleh mandat dari peserta Muktamar akan ditentukan melalui proses permusyawaratan NU pada akhir Agustus mendatang.