Blora, MEMANGGIL.CO - Kebangkitan industri gula di Kabupaten Blora mulai mendapat dukungan konkret dari kalangan petani. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora bersama petani mitra menyatakan kesanggupan memasok sedikitnya 3.500 ton tebu setiap hari untuk mendukung operasional PT Gendhis Multi Manis (GMM).
Komitmen tersebut menjadi salah satu langkah penting untuk mendorong pabrik gula yang berada di Blora itu kembali beroperasi. Para petani bahkan telah menyiapkan komitmen pasokan dalam skala besar untuk menghadapi musim giling 2027.
Keseriusan tersebut ditandai dengan penandatanganan Komitmen dan Pakta Integritas Kemitraan serta Prioritas Pasokan Tebu Petani Anggota APTRI kepada PT GMM di Rumah Dinas Bupati Blora, Rabu (4/11/2026).
Penandatanganan dilakukan Direktur Utama PT GMM, Benhur Ngkaimi, Ketua APTRI Blora, Drs. H. Sunoto, dan perwakilan petani mitra.
Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman atau Gus Arief bersama Wakil Bupati Blora dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turut menyaksikan langsung penandatanganan tersebut.
Langkah ini sekaligus menjadi sinyal bahwa persoalan keberlanjutan PT GMM bukan hanya menyangkut kesiapan perusahaan, tetapi juga berkaitan langsung dengan nasib petani tebu dan potensi ekonomi daerah.
Gus Arief Bawa Aspirasi Petani, Minta Perbaikan Pabrik GMM Segera Disetujui
Bupati Blora Gus Arief menegaskan, pemerintah daerah bersama petani tebu memiliki harapan besar agar PT GMM segera mendapatkan persetujuan perbaikan sehingga dapat kembali menjalankan kegiatan operasional.
Bahkan, Gus Arief secara khusus menyampaikan aspirasi tersebut kepada Menteri Pertanian, Direktur Utama Bulog, dan Kepala BP BUMN.
Dalam kesempatan itu, Gus Arief menyebut dirinya bersama Wakil Bupati dan jajaran Forkopimda hadir untuk mendampingi Direktur Utama PT GMM serta perwakilan petani Blora dalam menyampaikan komitmen dukungan kepada perusahaan.
"Alhamdulillah, kepada yang terhormat Pak Menteri Pertanian, Pak Dirut Bulog dan juga Kepala BP BUMN, hari ini saya dengan Bu Wakil Bupati dan jajaran Forkopimda full lengkap, mendampingi Pak Dirut GMM Bulog ini dengan perwakilan para petani yang ada di Blora. Kita berkomitmen mendukung agar PT GMM Bulog segera diperbaiki oleh BUMN," ungkap Gus Arief usai menyaksikan penandatanganan.
Menurutnya, kesiapan petani menjadi salah satu modal penting untuk menghidupkan kembali aktivitas pabrik gula tersebut.
Gus Arief mengungkapkan, petani tebu Blora menyatakan sanggup memasok sekitar 3.500 ton tebu setiap hari. Bahkan, jumlah tersebut berpeluang meningkat apabila kebutuhan dan kesiapan produksi pabrik memungkinkan.
"Dengan nanti dukungan dari para petani yang ada di Blora berkomitmen setiap hari akan mampu memasok 3.500 ton, bahkan mungkin lebih dari itu. Jadi kami berharap pabriknya segera disetujui untuk diperbaiki," tegasnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa dari sisi ketersediaan bahan baku, petani Blora siap mengambil bagian dalam mendukung keberlanjutan industri gula di daerah.
Namun, realisasi operasional tetap membutuhkan kesiapan infrastruktur dan keandalan mesin pabrik agar mampu menerima serta menggiling tebu sesuai target.
APTRI Siapkan 525 Ribu Ton Tebu, Sasar Lahan 8.508 Hektare
Dukungan petani terhadap PT GMM tidak berhenti pada pernyataan kesanggupan memasok harian. Dalam dokumen komitmen yang ditandatangani, APTRI dan petani mitra juga menetapkan target pasokan tebu untuk musim giling 2027.
Total komitmen awal pasokan tebu APTRI kepada PT GMM ditetapkan sekurang-kurangnya mencapai 525.381 ton, yang berasal dari areal perkebunan seluas 8.508 hektare.
Pasokan tersebut diarahkan untuk mendukung pemenuhan kapasitas giling PT GMM secara bertahap pada kisaran 3.500 hingga 3.800 ton tebu per hari atau dikenal dengan istilah TCD.
Melalui kesepakatan tersebut, APTRI dan petani mitra berkomitmen memberikan prioritas pasokan tebu kepada PT GMM.
Kesepakatan itu juga diarahkan untuk membangun kembali kepercayaan antara perusahaan dan petani, sekaligus memperkuat pola kemitraan yang tertib, transparan, adil, dan berorientasi jangka panjang.
Sementara itu, salah satu perwakilan petani mitra asal Kecamatan Todanan, Suhadi, menyambut positif penandatanganan pakta integritas tersebut.
Ia berharap kesepakatan itu tidak sekadar menjadi dokumen formal, tetapi benar-benar menjadi awal kebangkitan PT GMM dan petani tebu di Kabupaten Blora.
Suhadi menegaskan, petani pada prinsipnya siap kembali memasok tebu apabila pabrik gula tersebut dapat beroperasi.
"Saya mohon Bapak Bupati supaya memperjuangkan petani Blora, terutama petani tebu supaya bangkit kembali. Jadi untuk kesediaan mengirim ke GMM, kami sangat siap sekali," ujar Suhadi.
PT GMM Diminta Pastikan Kesiapan Pabrik dan Transparansi Kemitraan
Di sisi lain, komitmen tidak hanya dibebankan kepada petani. PT GMM juga memiliki sejumlah kewajiban untuk memastikan kemitraan berjalan secara berkelanjutan.
Dalam pakta integritas tersebut, perusahaan berkomitmen mempersiapkan keandalan pabrik agar mampu melaksanakan proses penggilingan tebu secara aman, stabil, dan bertahap menuju kapasitas 3.500–3.800 ton per hari.
PT GMM juga berkewajiban menyampaikan secara terbuka dan tepat waktu sejumlah informasi penting kepada petani.
Di antaranya rencana musim giling, kebutuhan pasokan tebu, kapasitas penerimaan, jadwal tebang, hingga potensi perubahan operasional perusahaan.
Keterbukaan informasi tersebut dinilai penting agar petani dapat mempersiapkan produksi dan pengiriman tebu tanpa menghadapi ketidakpastian.
Dengan demikian, kesepakatan kemitraan ini menempatkan kedua belah pihak dalam hubungan yang saling membutuhkan. Petani menyiapkan bahan baku, sedangkan perusahaan harus memastikan kesiapan fasilitas produksi dan kepastian penerimaan tebu.
Bagi Kabupaten Blora, harapan beroperasinya kembali PT GMM memiliki arti lebih luas daripada sekadar menghidupkan aktivitas sebuah pabrik gula.
Keberadaan industri tersebut diharapkan mampu membuka kembali peluang pasar bagi petani tebu, menggerakkan perekonomian daerah, serta memperkuat sektor perkebunan sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat.
Kini, komitmen pasokan 525.381 ton tebu telah dituangkan dalam kesepakatan. Tantangan berikutnya adalah memastikan perbaikan pabrik benar-benar terealisasi sehingga kesiapan petani tidak berhenti sebatas tanda tangan di atas dokumen.