MEMANGGIL.CO - Teka-teki peristiwa dugaan pembunuh berencana yang dilakukan Sulthon Farid Ahmadi (25), seorang pemuda Tuban terhadap kekasihnya PR (21), semakin menemukan titik terang. Sebelum dieksekusi, ternyata pelaku berjanji melamar dan sempat berhubungan badan dengan pacarannya pada malam hari kejadian.
Pelaku sukses melampiaskan hasratnya di kawasan jalan cinta di Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban. Hal tersebut terungkap dalam berita acara pemeriksaan rekonstruksi yang digelar Satreskrim Polres Tuban.
Baca juga: Hadir untuk Affan, Ojol Bantah Aksi Solidaritas Diundang Kapolres Tuban
“Saat ini sudah kita lakukan rekonstruksi kejadian. Sehingga membuat semakin terang bagaimana kronologi dan motif pembunuhan dari pada tersangka itu sendiri,” ungkap AKP Dimas Robin Alexander, Minggu (13/07/2025).
Kronologi Pembunuhan
Peristiwa tragis tersebut bermula ketika pelaku Sulthon Farid Ahmadi (25), yang tinggal di Desa Mergosari, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, mendapatkan pesan singkat dari kekasihnya, Jumat (20/06/2025) sore.
Kekasihnya minta di jemput usai bekerja di salah satu toko buah di kecamatan setempat. Tersangka pun menjemput pacarnya dengan menggunakan sepeda motor sekitar pukul 20.45 Wib.
Korban minta diantarkan pulang ke rumahnya di Desa Tingkis, Kecamatan Singgahan, kabupaten setempat. Lalu si perempuan ini kembali menghubungi pelaku dengan maksud minta jalan-jalan ketika sudah berada di rumah.
Kedua kalinya pelaku menjemput korban. Dua sejoli itu jalan-jalan hingga sampai di jalan cinta yang kondisinya sepi. Keduanya turun dari motor dan mereka sempat berhubungan badan di lokasi tersebut.
Puas melampiaskan hasratnya, pelaku berputar-putar mengajak jalan kaki ke area persawahan yang jaraknya sekitar 7 meter dari lokasi mereka bercinta. Disitu, sepasang kekasih tersebut sempat terjadi cekcok hingga terjadi peristiwa pembunuhan secara tragis.
Sebelum tewas, tersangka sempat memukul korban menggunakan tangan kosong mengenai leher bagian belakang, pipi dan kepalanya. Pukulan keras itu membuat si perempuan tersungkur tak berdaya di tepi jalan.
Tak berhenti disitu, emosi tersangka malah kian memuncak dengan menginjak-injak tubuh korban secara membabi buta sampai tak sadarkan diri. Kemudian, tersangka membuang tubuh korban ke area persawahan.
Tak puas dengan itu, tersangka dengan beringas membenamkan kepala kekasihnya ke dalam lumpur persawahan. Akhirnya, pelaku memastikan korban sudah tak bernyawa dengan cara memanggil namanya beberapa kali.
“Tersangka sempat memanggil nama korban “Put, Put” namun korban tidak bangun,” kutip adegan ke-16 dalam rekonstruksi peristiwa pembunuhan tersebut.
Baca juga: Sebut Nama Kapolri, Aksi Lilin Solidaritas Menyala di Tuban untuk Keadilan Affan Kurniawan
Setelah korban tak bangun, pelaku tega meninggalkan lokasi kejadian dengan kondisi kepala korban terbenam di dalam lumpur sawah. Dia juga mengambil ponsel kekasihnya dengan dalih ingin menghilangkan jejak pembunuhan tersebut.
Pelaku Pura-pura Datangi Rumah Korban
Keesokan harinya, pelaku sempat-sempatnya mendatangi rumah orang tua korban dengan berpura-pura menanyakan keberadaan kekasihnya. Dalihnya, saat itu pelaku mengaku kalau pesan singkatnya tidak dibalas oleh korban.
Beberapa hari kemudian, kasus pembunuhan secara tragis itu mulai mencuat ke publik setelah dua petani menemukan jasad seorang wanita di area persawahan Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Tuban, Senin (23/06/2025).
Perempuan naas itu ditemukan tewas dengan masih mengenakan kalung emas berbandul huruf P dilelernya. Tak lama berselang, pelaku berhasil diamankan polisi, dan kasus ini masih proses penyelidikan lebih lanjut untuk menemukan fakta-fakta baru.
“Saat ini proses penyidikan masih berlanjut,” tegas Kasat Reskrim Polres Tuban.
Baca juga: Di Tengah Efisiensi Anggaran, Disnakerind Tuban Gelar Job Fair di Hotel
Orang Tua Minta Keadilan
Purwanto (47), orang tua korban merasa tidak percaya kalau pelaku pembunuhan terhadap anak semata wayangnya dilakukan oleh pacarnya sendiri. Sebab, selama ini pelaku sudah sering ke rumah untuk menjemput anaknya.
“Tidak menyangka yang melakukan dia. Dia itu pacarnya. Sering ke rumah,” kesal Purwanto.
Ia pun bercerita hubungan mereka berdua sudah terjalin lama sekitar 3 tahunan. Bahkan, orang tuanya sempat akan datang ke rumah untuk merencanakan lamaran yang akan digelar pada hari Minggu, 22 Juli 2025.
“Rencananya hari Minggu 22 Juni mau lamaran,” kenangnya.
Lebih lanjut, Purwanto berharap kejadian ini tidak ada yang ditutup-tutupi dan pelaku dihukum seadil-adilnya oleh penegak hukum. Sebab, dia mengaku anaknya yang terkenal baik harus menjadi korban pembunuhan.
Editor : Abdul Rohman