Mojokerto, MEMANGGIL.CO - Di lereng pegunungan Pacet, Kabupaten Mojokerto, sebuah model pertanian hortikultura organik mulai menarik perhatian. Berawal dari kegelisahan terhadap tingginya biaya produksi dan ketergantungan petani pada bahan kimia, Yayasan Bimasakti Peduli Negeri berkolaborasi dengan tim Askara menghadirkan sistem pertanian cabai organik terpadu di Desa Claket.
Inovasi ini tidak hanya menawarkan solusi ramah lingkungan, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian petani. Melalui pendekatan terpadu dari hulu hingga hilir, para petani didorong untuk memproduksi sendiri seluruh kebutuhan budidaya, mulai dari pupuk, pestisida, hingga bibit tanaman.
Pengelola tim Askara, Wahyu Tri, mengungkapkan bahwa kolaborasi tersebut lahir dari keinginan untuk mengubah pola pikir petani agar tidak terus terjebak pada sistem pertanian konvensional yang mahal dan berisiko.
“Kami ingin petani benar-benar mandiri. Tidak lagi tergantung pada pupuk dan pestisida kimia yang harganya mahal dan fluktuatif. Dengan sistem organik terpadu, semua kebutuhan bisa diproduksi sendiri,” ujar Wahyu kepada Memanggil.co, Jumat (16/1/2026).
Menurutnya, efisiensi biaya menjadi kunci utama keberlanjutan pertanian. Ketika biaya produksi ditekan serendah mungkin, petani tidak lagi terlalu tertekan oleh naik-turunnya harga pasar.
“Target kami sederhana, biaya produksi rendah tapi hasil maksimal. Kalau harga pasar turun, itu bisa ditutup dengan tonase panen dan kualitas produk yang jauh lebih baik,” jelasnya.
Salah satu faktor utama keberhasilan sistem ini terletak pada pemanfaatan cacing African Night Crawler (ANC). Limbah kotoran sapi perah yang sebelumnya tidak termanfaatkan, kini diolah sebagai pakan cacing untuk menghasilkan pupuk organik Kascing (bekas cacing) berkualitas tinggi.
Kascing tersebut kemudian menjadi komponen utama media tanam. Setiap polybag berisi campuran 40 persen kascing, arang sekam, dan cocopeat.
Tak hanya itu, di dalam polybag juga dibiarkan hidup cacing aktif yang berfungsi menggemburkan tanah sekaligus menyediakan nutrisi alami bagi akar tanaman.
Sistem pendukung lainnya pun dirancang efisien. Pemupukan menggunakan pupuk organik cair dilakukan melalui irigasi tetes dan hanya seminggu sekali.
Sementara itu, pengendalian hama dilakukan secara preventif dengan pestisida nabati berbahan alami yang aman bagi lingkungan dan konsumen.
Hasilnya, tanaman cabai mampu tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar dua meter dengan kualitas buah yang mencolok. Warna cabai tampak lebih merah cerah, segar, dan tidak pucat seperti cabai konvensional.
Keunggulan ini diakui oleh para pelaku UMKM kuliner. Sejumlah pedagang seblak dan olahan pedas menyebut cabai organik dari Claket memiliki warna lebih alami dan rasa yang konsisten.
Namun, kelebihan paling signifikan justru terletak pada daya simpan produk.
“Cabai ini tidak mudah busuk. Disimpan di suhu ruang tanpa kulkas bisa bertahan dua sampai tiga minggu. Karena tanaman tidak dipaksa tumbuh dengan bahan kimia,” terang Wahyu.
Saat ini, total sekitar 2.500 pohon cabai ditanam di beberapa unit greenhouse. Tingginya permintaan pasar membuat sistem penjualan masih menggunakan mekanisme pre-order.
“Sempat ada permintaan dari luar negeri, tapi untuk sekarang kami fokus pasar lokal dulu. Kami ingin masyarakat lebih sadar pentingnya konsumsi produk organik yang sehat,” tambahnya.
Ke depan, proyek pertanian cabai organik terpadu ini diharapkan dapat menjadi percontohan bagi petani lain, khususnya di wilayah Mojokerto dan sekitarnya.
“Bertani organik bukan hanya soal menjaga lingkungan. Ini juga strategi bisnis yang realistis dan menguntungkan jika dikelola dengan benar,” pungkas Wahyu.
Editor : Redaksi