Mojokerto, MEMANGGIL.CO – Limbah kotoran sapi yang selama ini kerap dipandang sebagai sumber pencemaran lingkungan, justru menjadi sumber ekonomi baru di Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Melalui kolaborasi antara kelompok Askara dan Yayasan Bimasakti, limbah peternakan tersebut diolah menjadi pupuk organik bernilai tinggi bernama Kascing (bekas cacing).
Inovasi ini memanfaatkan cacing jenis American Night Crawler (ANC) sebagai penggerak utama siklus produksi. Kotoran sapi yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini diolah secara sistematis hingga menghasilkan pupuk organik berkualitas, yang tidak hanya diminati petani lokal, tetapi juga mulai menembus pasar internasional.
Permintaan terbesar datang dari Korea Selatan. Namun, tingginya minat pasar global tersebut belum sepenuhnya bisa dipenuhi karena keterbatasan kapasitas produksi.
Salah satu pengelola Kascing dari tim Askara, Wahyu Tri, mengungkapkan bahwa kebutuhan pasar luar negeri terbilang sangat besar.
“Permintaan dari Korea Selatan itu sebenarnya bisa mencapai sekitar 100 ton per bulan. Tapi saat ini kami belum sanggup memenuhinya, sehingga masih fokus mencukupi kebutuhan pasar lokal terlebih dahulu,” ujar Wahyu kepada Memanggil.co, Jumat (16/1/2026).
Berbeda dengan proses pembuatan kompos konvensional, produksi Kascing di Claket menerapkan sistem siklus hidup mandiri.
Kotoran sapi yang dikumpulkan dari peternak sekitar tidak langsung digunakan, melainkan difermentasi terlebih dahulu sebelum dijadikan pakan cacing.
“Kami tidak memakai cara umum seperti kebanyakan petani. Kami membuat sistem kompos dan daur hidupnya sendiri. Kotoran sapi ditampung, diolah, lalu diberikan ke cacing. Dari situlah dihasilkan Kascing dengan tekstur halus seperti pasir,” jelas Wahyu.
Menurutnya, Kascing memiliki keunggulan sebagai penyubur tanah alami karena seluruh unsur hara di dalamnya telah melalui proses pencernaan cacing, sehingga lebih mudah diserap oleh tanaman.
Selain memproduksi pupuk organik, pengelola juga membuka peluang bagi masyarakat yang ingin mencoba budidaya cacing ANC. Wahyu menyebut, perawatan cacing relatif sederhana asalkan memahami prinsip dasarnya.
“Yang paling penting itu bukan suhu, tapi naungan. Cacing tidak boleh terkena sinar matahari langsung,” terangnya.
Ia menambahkan, kelembapan media harus selalu terjaga, terutama saat cuaca panas. Penyemprotan air secara rutin diperlukan agar media tidak mengering. Sementara itu, pakan berupa kotoran ternak yang sudah difermentasi idealnya diberikan dua hari sekali.
Tak hanya Kascing yang bernilai jual tinggi, cacing ANC itu sendiri juga memiliki potensi ekonomi. Saat ini, cacing segar banyak diserap oleh pasar pemancingan.
Ke depan, peluang pengolahan cacing menjadi produk kering sebagai bahan baku obat-obatan juga terbuka lebar, meski belum menjadi fokus utama.
“Sebenarnya cacing ini bisa dikeringkan untuk bahan obat, tapi karena harganya masih relatif rendah, sementara kami fokus dulu ke edukasi petani tentang manfaat Kascing. Alhamdulillah, banyak warga yang sudah mencoba dan hasil tanamannya jauh lebih maksimal,” pungkas Wahyu.
Keberhasilan mengolah limbah peternakan menjadi produk bernilai ekonomi, bahkan berpotensi ekspor, diharapkan mampu menginspirasi peternak dan generasi muda di Jawa Timur untuk lebih jeli melihat peluang usaha berbasis lingkungan dan keberlanjutan.