Blora, MEMANGGIL.CO - Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menyimpan potensi besar di sektor wisata alam dan sumber daya alam (SDA). Namun di balik kekayaan tersebut, desa yang berada sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Blora ini juga pernah menjadi sorotan nasional akibat insiden sumur minyak ilegal yang menelan korban jiwa.
Desa Gandu terdiri atas 4 RW dan 18 RT, dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Secara geografis, desa ini berada di kawasan hutan Perhutani dan dikelilingi perbukitan serta pegunungan, termasuk Gunung Pencu yang menjadi ikon sekaligus daya tarik wisata.
Potensi Wisata Alam Menjanjikan
Dari sektor pariwisata, Desa Gandu memiliki sejumlah destinasi yang berpotensi dikembangkan sebagai pengungkit ekonomi desa. Salah satunya Puncak Pencu, yang berada di rangkaian Pegunungan Kendeng Blora.
Dari titik ini, pengunjung dapat menikmati panorama alam sekaligus melihat tiga wilayah kabupaten, yakni Blora, Tuban, dan Rembang.
Selain itu, terdapat Wana Wisata Sabrangan, destinasi wisata alam yang kini mulai dikembangkan di lereng Pegunungan Pencu. Kawasan ini menawarkan spot swafoto, taman bunga, serta Mata Air Kedung Kaputren yang menjadi sumber air alami sekaligus daya tarik ekowisata.
Potensi wisata tersebut dinilai dapat menjadi modal penting bagi Desa Gandu untuk mendorong pengembangan desa wisata berbasis alam dan lingkungan, apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.
Kaya Sumber Daya Alam, Belum Optimal Dimanfaatkan
Tak hanya wisata, Desa Gandu juga menyimpan potensi sumber daya alam nonmigas yang cukup melimpah. Di antaranya adalah batulempung, yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal. Wilayah ini bahkan diusulkan sebagai wilayah pertambangan rakyat, dengan titik koordinat UTM 0558964, 9236102 dan sekitarnya.
Selain itu, Desa Gandu juga memiliki singkapan batu gamping yang cukup signifikan. Batu gamping di wilayah ini berwarna putih kekuningan, bertekstur kompak dan keras, serta mengandung fosil dan mineral kalsit.
Potensi batu gamping ini merupakan bagian dari total luasan sekitar 973,3 hektare di Kecamatan Bogorejo, yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bangunan maupun pengeras jalan.
Insiden Sumur Minyak Ilegal di Desa Gandu Pernah Guncang Nasional
Di sisi lain, Desa Gandu juga pernah menjadi perhatian nasional akibat aktivitas sumur minyak ilegal yang berujung pada tragedi.
Insiden pertama terjadi pada 17 Agustus 2025 di Dukuh Gendono. Sebuah sumur minyak ilegal mengalami blow out, disertai semburan gas bertekanan tinggi yang memicu ledakan dan kebakaran besar sekitar pukul 12.30 WIB.
Peristiwa ini menewaskan empat orang, yakni Tanek, Sureni, Wasini, dan Yeti yang sempat dirujuk ke RSUD Dr. Sardjito Yogyakarta. Seorang balita berinisial AD juga mengalami luka serius dan menjalani perawatan intensif.
Akibat kejadian tersebut, lebih dari 750 warga atau sekitar 300 kepala keluarga terpaksa mengungsi. Satu rumah mengalami rusak berat, empat rumah rusak sedang, serta sejumlah ternak warga ikut terbakar. Proses pemadaman berlangsung sulit karena tekanan gas tinggi dan konstruksi sumur yang tidak sesuai standar keselamatan.
Insiden kedua terjadi pada 6 Januari 2026, berupa kebakaran penampungan minyak mentah dari sumur tua ilegal. Kebakaran terjadi di area penampungan yang berisi 10 bul minyak, masing-masing berkapasitas 1.000 liter.
Dugaan sementara, kebakaran dipicu korsleting mesin alkon berbahan bakar bensin saat proses pemindahan minyak mentah.
Satu unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan dan api berhasil dipadamkan dalam waktu sekitar satu jam. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Tantangan Tata Kelola Desa
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Desa Gandu memiliki dua wajah sekaligus, yakni potensi besar untuk dikembangkan, namun juga tantangan serius dalam aspek keselamatan, tata kelola SDA, dan penegakan hukum.
Ke depan, pengelolaan potensi wisata dan sumber daya alam secara legal, aman, dan berkelanjutan dinilai menjadi kunci untuk mendorong kesejahteraan warga tanpa mengorbankan keselamatan.
Editor : Redaksi