Viral Lagu "Mas Bahlil Ganteng", Pakar UMSURA Sebut Satire Politik yang Berubah Jadi Panggung Popularitas

Reporter : Saputra
Pakar Kajian Budaya dan Media UMSURA, Radius Setiyawan. (Saputra/Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO - Fenomena lagu “Mas Bahlil Ganteng” (MBG) yang viral di berbagai platform media sosial dinilai menarik dibaca sebagai bagian dari dinamika politik digital kontemporer di Indonesia. 

Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Radius Setiyawan, menilai sosok Bahlil memiliki rekam jejak panjang dalam perdebatan media sosial, mulai dari gaya komunikasi politik, cara membangun kedekatan dengan publik, hingga berbagai kontroversi yang kerap memantik diskusi warganet.

“Karena itu, kemunculan MBG tidak lahir di ruang kosong, melainkan bertemu dengan memori kolektif netizen terhadap figur yang memang sudah lama menjadi objek perhatian digital,” terang Radius, Jumat (29/05/2026).

Radius menjelaskan, lagu MBG yang awalnya dikenal dengan sebutan “My Little Bolu Ketan” itu menyebut nama Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dan kini berkembang, merupakan bentuk satire politik di media sosial. 

"Humor, meme, dan parodi digunakan untuk menertawakan figur kekuasaan sekaligus 
membongkar aura kesakralan elite politik," ujarnya. 

Namun, dalam perkembangannya, satire tersebut berpotensi mengalami pergeseran fungsi menjadi glorifikasi citra personal melalui kerja algoritma digital.

“Apa yang semula lahir sebagai ejekan atau ironi dapat berubah menjadi alat reproduksi popularitas karena terus diputar, dibagikan, dan diulang di berbagai platform. Di titik inilah algoritma digital memainkan peran penting,” jelas Radius. 

Radius mengatakan, algoritma media sosial pada dasarnya tidak bekerja untuk memahami konteks satire, kritik, atau ironi. 

Algoritma bergerak berdasarkan logika atensi, yakni mendorong konten yang mampu membuat pengguna bertahan menonton, mengulang audio, memberi komentar, dan berinteraksi.

“Akibatnya, kritik politik berpotensi kehilangan orientasi reflektifnya lalu berubah menjadi komoditas hiburan semata. Dalam ekosistem digital, bahkan parodi dapat menjadi kapital visibilitas,” katanya. 

Menurut Radius, kondisi tersebut menghadirkan dua kemungkinan sekaligus. Di satu sisi, meme dan parodi tetap dapat menjadi ruang subversif untuk menelanjangi kesakralan kekuasaan dan menertawakan elitisme politik.

“Humor digital dalam konteks ini berfungsi sebagai bahasa kritik publik terhadap penguasa,” ujar Radius. 

Namun di sisi lain, terdapat paradoks ketika ruang digital mengalami overexposure. Viralitas yang terus berulang justru dapat dimanfaatkan untuk membangun citra personal.

“Figur yang terus muncul di linimasa, bahkan dalam bentuk satire, tetap memperoleh keuntungan berupa eksposur dan kedekatan emosional dengan publik,” ucapnya. 

Karena itu, ia menilai fenomena MBG tidak cukup dipahami sekadar sebagai lagu viral atau hiburan internet. 

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana politik digital saat ini bergerak dalam logika algoritma, perhatian, dan percepatan viralitas.

“Ini adalah ruang ketika batas antara kritik, hiburan, dan pencitraan menjadi semakin tipis,” pungkas Radius.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru