Blora, MEMANGGIL.CO - Tidak semua polisi dikenang karena pangkat atau jabatan. Ada yang justru hidup dalam ingatan banyak orang karena ketulusan, loyalitas, dan cara mereka memperlakukan sesama. Sosok itu adalah Aipda Dwi Wahyudi Puji Susanto, yang akrab disapa Mas Black, Katim Resmob Satreskrim Polres Blora.

Tepat tujuh hari setelah kepergiannya, suasana Posko Resmob Satreskrim Polres Blora yang berada di Kelurahan Kunden berubah menjadi ruang penuh doa dan kenangan. Lantunan Surah Yasin dan tahlil menggema, dipanjatkan oleh personel Satreskrim, warga sekitar, hingga sejumlah pegiat media yang selama ini mengenal dekat almarhum.

Di balik doa-doa itu tersimpan cerita tentang seorang polisi yang dekat dengan teman-teman pegiat media, bekerja tanpa banyak bicara dan selalu sat-set ketika tugas memanggil.

Kasatreskrim Polres Blora, AKP Zaenul Arifin, kepada awak media ini, sempat mengatakan bahwa sosok Mas Black merupakan anggota yang tidak pernah menunggu perintah untuk berbuat. Ia memahami kebutuhan satuannya dan bergerak dengan penuh tanggung jawab.

"Mas Black itu sosok yang loyal dan proaktif. Banyak pekerjaan yang dia selesaikan sebelum saya meminta. Dia sudah paham apa yang dibutuhkan satuan," tutur AKP Zaenul Arifin, ditulis Senin (13/7/2026). 

Salah satu karya yang terus dikenang adalah lahirnya identitas Unit Reaksi Cepat (URC) Satreskrim Polres Blora. Menurut AKP Zaenul Arifin, seluruh konsep branding kendaraan operasional URC merupakan inisiatif Mas Black.

"Mobil URC itu dia yang mem-branding. Padahal saya belum memerintahkan. Dia bergerak sendiri karena merasa itu penting untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat," kenangnya.

Tindakan tersebut menggambarkan karakter Mas Black yang selalu berpikir selangkah lebih maju. Baginya, menjadi polisi bukan sekadar menjalankan perintah, tetapi mencari cara agar institusi mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Kesetiaan itu bahkan tetap terlihat menjelang akhir hayatnya. Beberapa hari sebelum wafat, Mas Black masih sempat menitipkan pesan kepada salah seorang pegiat media agar terus bersinergi mengawal kegiatan Kasatreskrim Polres Blora. Pesan sederhana itu menjadi bukti bahwa pikirannya masih tertuju pada kemajuan satuan yang dicintainya.

Sikap tersebut mencerminkan nilai yang selama ini dipegangnya sebagai personel Brimob Polri. Semboyan "Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan" tidak hanya diucapkan, tetapi dijalani dalam setiap pengabdian.

Sate Pak Rizki

Peringatan tujuh hari wafatnya Mas Black tidak hanya dilaksanakan di Posko Resmob. Di kediaman almarhum di Kecamatan Todanan, ternyata keluarga, kerabat, dan para sahabat juga menggelar doa bersama.

Kepala Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora, Edi Widayat, yang hadir di rumah duka, membenarkan adanya kegiatan tersebut.

"7 hari Black," tulis Edi Widayat melalui pesan WhatsApp.

Kepergian Mas Black meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan. Namun nilai-nilai yang diwariskannya, baik itu loyalitas, inisiatif, rendah hati, dan pengabdian tanpa pamrih akan terus hidup di tengah keluarga besar Polres Blora.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Semoga almarhum husnul khatimah, dan keteladanannya menjadi inspirasi bagi seluruh personel Polri untuk terus mengabdi dengan hati, menjaga integritas, serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.