Blora, MEMANGGIL.CO - Pengembangan pertanian organik yang digagas PCNU Kabupaten Blora mulai menunjukkan hasil. Melalui pendampingan budidaya hingga pemasaran, sebanyak 139 petani binaan kini mengelola lahan seluas 41,3 hektare dengan estimasi produksi mencapai sekitar 120 ton gabah kering panen (GKP) pada musim tanam pertama 2026.
Keberhasilan tersebut ditunjukkan dalam panen padi organik di lahan milik Slamet seluas sekitar 4.000 meter persegi di Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban, Sabtu (4/7/2026).
Panen yang diperkirakan menghasilkan sekitar dua ton gabah itu dihadiri Bupati Blora H. Arief Rohman, Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh, Ketua PCNU Blora H. M. Fatah, Camat Kedungtuban, jajaran LPPNU Blora, serta ratusan petani binaan.
Berbeda dengan pola budidaya biasa, program yang dikembangkan LPPNU Blora tidak berhenti pada proses tanam dan panen. Petani juga didampingi dalam penguatan kelembagaan hingga memperoleh kepastian pasar melalui Koperasi Berkah Jagad Nusantara.
Pada musim panen tahun ini, koperasi tersebut diperkirakan menyerap sekitar 19 ton gabah dari petani binaan untuk diproses dan dipasarkan. Sementara sebagian besar hasil panen lainnya masih dimanfaatkan petani untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga karena mayoritas merupakan petani gurem dengan luas lahan terbatas.
Bupati yang akrab disapa Gus Arief menilai model pemberdayaan yang dijalankan PCNU Blora layak menjadi contoh karena membangun rantai usaha pertanian secara utuh dari hulu hingga hilir.
"Kami mengapresiasi pendampingan yang dilakukan PCNU dan LPPNU Blora. Tidak hanya mendampingi proses budidaya, tetapi juga sampai tahap pengemasan dan pemasaran produk. Ini penting agar petani mendapatkan nilai tambah yang lebih besar," kata Gus Arief.
Menurutnya, pertanian organik memiliki prospek yang semakin baik karena kebutuhan masyarakat terhadap pangan sehat terus meningkat. Selain menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan, sistem tersebut juga dinilai mampu menjaga kesuburan tanah sehingga mendukung keberlanjutan produksi pangan.
Gus Arief menegaskan pemerintah daerah akan terus mendukung pengembangan pertanian organik sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Sementara itu, KH Ubaidillah Shodaqoh menyebut keberhasilan pertanian tidak hanya diukur dari banyaknya hasil panen, tetapi juga dari kemampuan petani memperoleh akses teknologi, pendampingan, kelembagaan, dan pasar yang berkelanjutan.
Dengan cakupan lahan binaan yang terus bertambah serta sistem pemasaran yang mulai terbentuk, pertanian organik di Blora diharapkan berkembang menjadi model penguatan ekonomi pedesaan yang mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah.