Harga Minyak Dunia Makin Panas, Brent Dekati US$95 akibat Tekanan AS terhadap Iran

Reporter : Redaksi
Ilustrasi minyak dunia. (Istimewa)

Jakarta, MEMANGGIL.CO - Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada akhir perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026 waktu Amerika Serikat. Kenaikan tersebut membawa harga minyak Brent mendekati level US$95 per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Minyak Brent sebagai salah satu acuan harga minyak global ditutup pada level US$94,39 per barel. Harga tersebut naik 61 sen atau 0,65 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Baca juga: Lahan Kilang Minyak Tuban Kembali Terbakar, Penyebab Kebakaran Masih Jadi Teka-teki

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga bergerak naik. Harga WTI ditutup pada US$87,06 per barel, menguat 23 sen atau sekitar 0,26 persen.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa pasar energi masih berada dalam tekanan kuat akibat perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Investor terus mencermati langkah Washington terhadap Iran, terutama setelah Presiden AS Donald Trump mengancam memberikan sanksi ekonomi kepada negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Teheran.

Kekhawatiran pasar tidak berhenti pada persoalan sanksi. Kondisi jalur pelayaran di Selat Hormuz juga menjadi perhatian karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur penting dalam distribusi energi dunia.

Terbatasnya lalu lintas kapal di kawasan tersebut membuat pelaku pasar semakin waspada terhadap kemungkinan terganggunya pasokan. Data Kpler yang ditulis media menunjukkan hanya tujuh kapal komoditas melintasi Selat Hormuz pada Kamis, jumlah yang disebut sekitar separuh dari hari sebelumnya.

Situasi tersebut membuat pasar minyak memasukkan risiko gangguan pasokan ke dalam perhitungan harga. Semakin besar kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah, semakin tinggi pula tekanan terhadap harga komoditas energi tersebut.

Kenaikan harga juga tidak hanya terjadi dalam satu sesi perdagangan. Dalam sepekan terakhir, Brent tercatat melonjak 6,39 persen, sedangkan WTI mengalami kenaikan sekitar 5,66 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam sentimen pasar energi. Investor mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap potensi gangguan pasokan dibandingkan faktor-faktor permintaan yang biasanya menjadi salah satu penentu utama harga minyak.

Brent bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli dalam perdagangan sebelumnya. Kenaikan tersebut menunjukkan betapa sensitifnya pasar minyak terhadap perkembangan terbaru terkait konflik dan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Situasi di sekitar Iran menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan pasar. Ancaman sanksi baru dari Amerika Serikat berpotensi memberikan tekanan terhadap aktivitas perdagangan minyak Iran, terutama jika pembatasan tersebut berdampak pada negara atau perusahaan yang masih membeli minyak dari Teheran.

Penurunan penawaran minyak Iran kepada pembeli di China juga menjadi perhatian. Di saat yang sama, harga minyak Iran ikut terdorong naik akibat pembatasan pengiriman yang diberlakukan Amerika Serikat.

Pasar kini menghadapi kombinasi sejumlah risiko sekaligus. Ketegangan geopolitik, ancaman sanksi, gangguan lalu lintas kapal dan kekhawatiran terhadap pasokan membuat ruang bagi harga minyak untuk kembali naik semakin terbuka.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam situasi tersebut. Jalur strategis itu memiliki posisi penting bagi perdagangan energi global sehingga setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran dapat segera diterjemahkan pasar sebagai risiko pasokan.

Kondisi itu pula yang membuat pergerakan harga minyak tidak hanya dipengaruhi oleh data fundamental seperti produksi dan konsumsi. Setiap pernyataan politik yang berpotensi memengaruhi keamanan jalur perdagangan energi dapat memicu reaksi cepat dari pasar.

Dalam perdagangan Kamis sebelumnya, Brent bahkan sempat mengalami lonjakan lebih dari dua persen dan mencapai US$93,78 per barel. Pada saat yang sama, WTI naik 2,33 persen menjadi US$87,83 per barel dan keduanya berada pada level tertinggi sejak 24 Juli 2026.

Kenaikan tersebut kemudian berlanjut hingga penutupan Jumat meski dengan laju yang lebih moderat. Kondisi itu menunjukkan pasar masih mempertahankan premi risiko akibat ketidakpastian geopolitik.

Baca juga: Peduli Bencana, Untag Surabaya dan Alumni Kumpulkan Dana untuk NTT

Bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi, kenaikan harga minyak dunia menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Perubahan harga minyak mentah dapat memberikan pengaruh terhadap biaya energi, transportasi, industri hingga tekanan inflasi apabila kenaikan berlangsung dalam waktu lama.

Indonesia juga tidak sepenuhnya terlepas dari perkembangan pasar minyak global. Pergerakan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam melihat kondisi energi nasional, meskipun dampaknya terhadap harga bahan bakar domestik tidak berlangsung secara otomatis karena terdapat berbagai kebijakan dan mekanisme lain yang turut menentukan.

Di pasar keuangan, kenaikan harga minyak juga dapat memengaruhi persepsi investor terhadap negara-negara yang merupakan konsumen maupun produsen energi. Negara yang banyak mengimpor minyak dapat menghadapi tekanan terhadap neraca perdagangan apabila harga komoditas energi meningkat tajam.

Sebaliknya, negara yang memiliki produksi minyak besar dapat memperoleh keuntungan lebih tinggi dari kenaikan harga. Perbedaan dampak tersebut membuat perkembangan harga minyak menjadi perhatian luas bagi pasar global.

Situasi terbaru memperlihatkan bahwa pasar belum sepenuhnya terbebas dari risiko kenaikan lebih lanjut. Pelaku pasar masih menunggu perkembangan mengenai kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran dan dampaknya terhadap aktivitas perdagangan minyak.

Ancaman sanksi ekonomi menjadi salah satu faktor yang paling diperhatikan. Jika sanksi tersebut diterapkan secara luas dan mengganggu transaksi minyak Iran dengan negara lain, pasar dapat kembali memperhitungkan kemungkinan berkurangnya pasokan yang tersedia.

Di sisi lain, perkembangan lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga akan menjadi indikator penting. Jika aktivitas pelayaran kembali meningkat dan distribusi energi berjalan lebih normal, tekanan harga dapat mereda.

Sebaliknya, apabila jumlah kapal yang melintas terus menurun, kekhawatiran mengenai pasokan berpotensi semakin besar. Kondisi tersebut dapat memberikan dorongan tambahan bagi harga minyak mentah di pasar internasional.

Pasar juga akan memperhatikan respons Iran terhadap tekanan dari Washington. Pernyataan maupun kebijakan kedua negara dapat menjadi pemicu perubahan harga dalam waktu singkat karena investor saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik.

Baca juga: Kredit Bunga 0 Persen Disiapkan untuk Petani Paluta, Basri Harahap Bidik Hasil Panen Masuk Program MBG

Kenaikan Brent ke kisaran US$94 per barel dengan demikian bukan sekadar persoalan angka di pasar komoditas. Harga tersebut mencerminkan meningkatnya premi risiko yang dibebankan pasar terhadap kemungkinan terganggunya pasokan energi dari kawasan strategis Timur Tengah.

Dalam jangka pendek, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada perkembangan sanksi Amerika Serikat, kondisi Selat Hormuz dan keberlanjutan pasokan minyak dari negara-negara produsen utama. Ketiganya akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah kenaikan harga minyak berlanjut atau mulai mengalami koreksi.

Selain Iran, pasar juga mencermati kebijakan sejumlah produsen utama. Kekhawatiran mengenai berlanjutnya pengurangan pasokan dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab dan Kuwait turut menjadi faktor yang memperkuat sentimen kenaikan harga.

Dengan kondisi tersebut, pasar minyak dunia memasuki periode yang penuh ketidakpastian. Harga Brent yang sudah berada di atas US$94 per barel menunjukkan betapa cepat risiko geopolitik dapat mengubah keseimbangan pasar energi global.

Investor kini menunggu perkembangan berikutnya. Jika ketegangan AS-Iran meningkat dan arus perdagangan melalui Selat Hormuz semakin terbatas, peluang harga minyak kembali menguat masih terbuka.

Sebaliknya, meredanya ketegangan serta pulihnya lalu lintas kapal dapat mengurangi kekhawatiran pasar. Namun, untuk saat ini, risiko geopolitik masih menjadi faktor dominan yang menjaga harga minyak dunia tetap berada di level tinggi.

Kondisi tersebut membuat perdagangan minyak dunia menjadi perhatian bukan hanya bagi pelaku pasar energi, tetapi juga pemerintah dan dunia usaha. Sebab, perubahan harga minyak pada akhirnya dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi apabila berlangsung dalam waktu panjang.

Harga Brent yang menembus kisaran US$94 per barel menjadi sinyal bahwa pasar sedang menghitung risiko baru. Perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, keamanan Selat Hormuz serta arah pasokan global akan menjadi penentu apakah level tersebut hanya bersifat sementara atau menjadi awal dari kenaikan berikutnya.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru