Blora, MEMANGGIL.CO - Ratusan tumpeng tersaji dalam satu rangkaian kegiatan Tumpengan Akbar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Cabak, Kecamatan Jiken Kabupaten Blora, menghadirkan suasana penuh kebersamaan antara masyarakat dan keluarga besar Pondok Pesantren Baitul Hikmah, Minggu (23/8/2026).
Sebanyak 218 tumpeng disiapkan dalam kegiatan yang telah menjadi tradisi rutin masyarakat Desa Cabak tersebut.
Baca juga: Kopi Jadah Mbok Gembrot, Kuliner Blora yang Menawarkan Perpaduan Kopi dan Jajanan Tradisional
Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman atau Gus Arief turut hadir dalam kegiatan yang digelar oleh Pondok Pesantren Baitul Hikmah bersama warga masyarakat Desa Cabak.
Tidak hanya warga setempat, kegiatan tahun ini juga diikuti para sedulur dari Kabupaten Rembang sehingga suasana silaturahmi semakin terasa.
Gus Arief mengapresiasi konsistensi masyarakat dan pesantren dalam mempertahankan kegiatan keagamaan tersebut yang telah berjalan selama enam tahun.
“Tumpengan Akbar ini merupakan kegiatan rutin sudah 6 tahun berjalan yang diadakan oleh Pondok Pesantren Baitul Hikmah bersama masyarakat Desa Cabak dan tahun ini dihadiri juga dari sedulur-sedulur dari Rembang,” ujar Gus Arief.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata kebersamaan masyarakat dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Selain menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah, tradisi tumpengan juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarmasyarakat.
Jumlah tumpeng yang mencapai 218 buah menjadi gambaran besarnya partisipasi warga dalam kegiatan tersebut.
Menariknya, dari ratusan tumpeng yang disajikan, terdapat 15 tumpeng yang secara khusus dibuat menggunakan beras organik.
“Tumpengan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad yang menyajikan total 218 tumpeng ini, 15 tumpeng di antaranya dibuat khusus menggunakan beras organik,” jelas Gus Arief.
Kegiatan tersebut juga memperlihatkan kuatnya unsur tradisi lokal dalam kehidupan masyarakat Blora.
Nasi berkat yang dibagikan kepada masyarakat menggunakan pembungkus daun jati sehingga memberikan ciri khas tersendiri dalam tradisi tumpengan tersebut.
Gus Arief turut menyoroti keunikan tersebut melalui unggahannya dengan menggambarkan nasi berkat yang dibungkus menggunakan daun jati.
“Bungkus sega berkat godhong jati mambu dungo, nasine uduk,” tulis Gus Arief.
Baca juga: Dibiayai APBD Blora, Segini Nilai Paket Material TMMD Wado Kedungtuban yang Tayang di INAPROC
Penggunaan daun jati bukan hanya memperkuat nuansa tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari kearifan lokal yang masih dipertahankan masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
Bagi masyarakat, tumpengan menjadi lebih dari sekadar sajian makanan karena di dalamnya terdapat nilai gotong royong, berbagi dan kebersamaan.
Persiapan ratusan tumpeng membutuhkan keterlibatan banyak pihak sehingga kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi warga untuk saling membantu dan mempererat hubungan sosial.
Gus Arief berharap tradisi keagamaan yang telah berlangsung selama beberapa tahun tersebut dapat terus dipertahankan dan dilaksanakan secara istiqamah.
“Semoga acara rutinan keagamaan dan kebersamaan seperti ini terus istiqomah, membawa keberkahan bagi Kabupaten Blora khususnya Desa Cabak,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan doa agar seluruh masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut senantiasa memperoleh keberkahan dan kelak mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW.
“Dan kita semua kelak mendapat syafaat dari Baginda Rasulullah SAW, amin,” lanjutnya.
Baca juga: Tender Material TMMD Kedungwungu Blora Senilai Rp899,8 Juta Tayang di INAPROC
Menurut Gus Arief, keberlangsungan kegiatan semacam itu menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Pesantren dan masyarakat dapat berjalan bersama dalam menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memperkuat hubungan antarsesama.
Kehadiran warga dari luar Desa Cabak, termasuk dari Rembang, turut memperluas ruang silaturahmi yang terbentuk melalui kegiatan tersebut.
Momentum Maulid Nabi akhirnya tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul, berbagi makanan, mempererat persaudaraan dan menjaga tradisi lokal.
Tumpengan Akbar di Desa Cabak menjadi gambaran bahwa tradisi sederhana yang dilaksanakan secara bersama-sama dapat memiliki makna sosial yang kuat.
Dengan dukungan masyarakat dan Pondok Pesantren Baitul Hikmah, kegiatan yang telah memasuki tahun keenam tersebut diharapkan tetap berlangsung dan semakin berkembang pada tahun-tahun mendatang.
Bagi Gus Arief, keberlangsungan tradisi keagamaan seperti ini merupakan bagian dari kekayaan sosial masyarakat Blora yang patut dijaga agar nilai kebersamaan dan gotong royong tetap hidup di tengah masyarakat.
Editor : Ahmad Adirin