UC Surabaya Buka Program AI/ML Bareng Apple, Hanya 30 Talenta Dipilih Tiap Tahun

Reporter : Saputra
Director Board of Executive Yayasan Ciputra Pendidikan, Prof. Dr. Ir. Denny Bernardus Kurnia Wahjudono, M.M (tengah) meninjau pameran inovasi di Apple Developer Institute for AI/ML.(Saputra/ Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO - Universitas Ciputra (UC) Surabaya membuka babak baru pengembangan talenta teknologi dengan menghadirkan Apple Developer Institute for AI/ML. Program ini dirancang khusus untuk memperkuat kemampuan lulusan perguruan tinggi di bidang Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning (ML).

Fasilitas tersebut diperkenalkan dalam agenda Open Day Universitas Ciputra Surabaya, Kamis (17/9/2026). Kehadiran program ini sekaligus memperluas kerja sama UC dengan Apple yang telah berjalan sejak 2019.

Berbeda dengan Apple Developer Academy yang lebih dahulu hadir, fasilitas baru ini memiliki sasaran dan fokus yang lebih spesifik. Peserta akan mendapatkan pembelajaran mendalam mengenai AI/ML dalam skema pendidikan penuh waktu selama dua tahun.

Director Board of Executive Yayasan Ciputra Pendidikan, Prof. Dr. Ir. Denny Bernardus Kurnia Wahjudono, M.M., mengatakan kerja sama dengan Apple telah berkembang dari waktu ke waktu. Menurutnya, Apple Developer Institute AI/ML menjadi fasilitas ketiga dalam rangkaian kolaborasi tersebut.

“Kami merasa terhormat dan bersyukur,” kata Denny.

“Juga merupakan tanggung jawab yang besar buat kami. Apple ini telah mempercayai UC sejak tahun 2019,” lanjutnya.

Yayasan Ciputra Pendidikan saat ini menaungi 12 sekolah dan tiga universitas. Selain UC Surabaya yang berdiri pada 2006, terdapat Universitas Ciputra Makassar yang berdiri pada 2021 serta Universitas Ciputra Jakarta yang mulai dibuka pada 2026.

Denny menjelaskan, fasilitas pertama hasil kerja sama UC dan Apple berada di lantai 7 UC Surabaya melalui Apple Developer Academy. Program tersebut menyasar peserta yang belum menyelesaikan pendidikan sarjana dengan masa pembelajaran sekitar 10 bulan.

Kini, lantai 22 UC Surabaya digunakan untuk fasilitas yang lebih khusus. Program Apple Developer Institute AI/ML ditujukan bagi lulusan perguruan tinggi yang ingin memperdalam kompetensi di bidang kecerdasan buatan dan machine learning.

“Dan hari ini Bapak Ibu melihat ini adalah fasilitas yang ketiga dari kerja sama UC dengan Apple,” ujarnya.

“Fasilitas ketiga ini lebih spesifik karena ini menyangkut AI.”

Kapasitas program tersebut dibuat terbatas. Setiap tahun hanya 30 peserta yang diterima melalui proses seleksi yang ketat.

Dengan pola tersebut, UC tidak sekadar membuka kelas teknologi dalam jumlah besar. Program ini diarahkan untuk membentuk talenta dengan kemampuan AI/ML yang lebih mendalam dan mampu menerapkan keahliannya pada persoalan nyata.

Menariknya, investasi untuk pengembangan fasilitas dan program tersebut mendapat dukungan penuh dari Apple. Dukungan itu mencakup investasi, pendanaan hingga penyediaan trainer.

“Seluruh upaya di sini dari sisi investasi, penyediaan dana, para trainer, itu semua disupport full oleh Apple,” jelas Denny.

Menurut Denny, model kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan teknologi tidak selalu harus diwujudkan melalui pembangunan fasilitas fisik. Peningkatan kualitas sumber daya manusia justru menjadi bagian penting dari investasi teknologi.

“Ini adalah peningkatan human capital dari warga Indonesia,” katanya.

Di sisi lain, Direktur Apple Developer Institute for AI/ML UC, Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata, mengatakan pemilihan AI/ML sebagai fokus program tidak terlepas dari perkembangan teknologi yang semakin cepat. Kecerdasan buatan kini bersentuhan dengan berbagai sektor, mulai dari bisnis hingga kehidupan sehari-hari.

Namun, kemampuan teknis saja dinilai belum cukup. Peserta juga akan diarahkan memahami konsep responsible AI, termasuk bagaimana teknologi dikembangkan dan digunakan tanpa mengabaikan aspek etika.

Trianggoro mengibaratkan AI seperti pisau bermata dua. Teknologi tersebut dapat memberikan manfaat besar, tetapi juga memiliki risiko apabila digunakan tanpa pemahaman yang memadai.

“Jangan sampai kita menciptakan monster yang nantinya akan membuat kita jadi susah sendiri,” ujarnya.

“Jadi AI harus dipelajari dengan yang namanya responsible AI.”

Aspek penggunaan data juga menjadi perhatian dalam proses pembelajaran. Peserta akan dibekali pemahaman mengenai penggunaan data sesuai aturan, termasuk persoalan ethical clearance ketika berhadapan dengan data sensitif.

Program pembelajaran pada tahun pertama disusun melalui empat siklus challenge. Tahap awal memperkenalkan peserta pada AI/ML dengan memanfaatkan data publik.

Setelah memiliki fondasi, peserta masuk ke challenge kedua. Pada tahap ini, mereka diarahkan mengerjakan proyek dengan tingkat kebaruan lebih tinggi melalui kolaborasi bersama sejumlah fakultas di lingkungan UC.

Challenge ketiga kemudian membawa peserta mengeksplorasi perkembangan teknologi AI/ML terbaru dari Apple. Tahapan tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengikuti perkembangan teknologi yang terus bergerak.

Sementara challenge keempat menjadi tahap yang semakin dekat dengan kebutuhan dunia kerja. Peserta akan berhadapan langsung dengan persoalan nyata melalui proyek bersama mitra industri.

Tahap tersebut dijadwalkan berlangsung mulai akhir September hingga Desember 2026. Peserta dituntut menerjemahkan kemampuan teknis yang diperoleh selama pembelajaran ke dalam solusi atas persoalan yang benar-benar dihadapi industri.

Memasuki tahun kedua, tantangan yang diberikan akan semakin besar. Peserta yang lolos seleksi melanjutkan proyek industri dalam skala lebih luas selama satu tahun penuh.

Pola tersebut membuat proses pendidikan tidak berhenti pada penguasaan algoritma, pemrograman atau teknologi AI/ML. Peserta juga diarahkan memiliki kemampuan memecahkan masalah, berkolaborasi dengan industri serta memahami konsekuensi etis dari teknologi yang mereka kembangkan.

Melalui Apple Developer Institute for AI/ML, UC Surabaya menempatkan pengembangan talenta sebagai bagian penting dari ekosistem AI Indonesia.

Program dua tahun tersebut diharapkan melahirkan talenta yang tidak hanya mampu membuat teknologi berbasis AI, tetapi juga memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru