Sumedang, MEMANGGIL.CO - Pemerintah Kabupaten Sumedang menyiapkan gebrakan baru untuk memperkuat sektor pariwisata sekaligus mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Salah satu strategi yang disiapkan adalah memperkuat identitas Sumedang sebagai pusat kebudayaan Sunda dalam setiap aktivitas pariwisata.
Langkah tersebut menjadi bagian dari program kerja 100 hari pertama Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Sumedang, Wuddan Lukmanul Hakim.
Wuddan mengatakan, penguatan sektor pariwisata tidak cukup hanya dilakukan dengan mengembangkan destinasi. Identitas daerah juga harus ditampilkan secara nyata agar wisatawan memiliki pengalaman yang khas ketika berkunjung ke Sumedang.
Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS).
“Jadi yang mana identitas kita sebagai orang Sunda itu harus kelihatan,” kata Wuddan, Selasa (22/9/2026).
Ia menilai keberadaan Perda SPBS selama ini belum sepenuhnya terasa dalam pengalaman wisatawan ketika berada di Sumedang.
Wuddan menyebut Sumedang sebenarnya telah memiliki landasan regulasi yang menempatkan daerah tersebut sebagai pusat kebudayaan Sunda. Namun, identitas tersebut perlu diterjemahkan lebih konkret dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di sektor pariwisata.
“Kita di Sumedang sudah ada Perdanya, tapi belum terasa Sumedang sebagai puseur budaya Sundanya,” ujarnya.
Budaya Sunda Akan Diperkuat di Ruang Publik
Untuk merealisasikan program tersebut, Disbudparpora Sumedang akan mendorong penggunaan nuansa budaya Sunda di berbagai ruang publik dan sektor usaha yang berkaitan dengan pariwisata.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah memperkuat kehadiran musik Sunda di tempat-tempat yang menjadi titik kunjungan masyarakat dan wisatawan.
Tempat makan, destinasi wisata hingga perhotelan didorong untuk menghadirkan lagu-lagu Sunda sehingga suasana khas daerah dapat dirasakan secara langsung oleh pengunjung.
“Jadi minimalnya lagu-lagu Sunda terngiang di tempat-tempat makan, tempat wisata, kemudian di perhotelan,” ungkap Wuddan.
Menurutnya, kehadiran unsur budaya tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai simbol. Nuansa Sunda yang hadir di berbagai lokasi wisata diharapkan menjadi bagian dari pengalaman wisatawan selama berada di Sumedang.
Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati objek wisata, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengenai karakter budaya daerah.
Identitas Daerah Jadi Bagian dari Strategi Pariwisata
Penguatan identitas budaya tersebut menjadi salah satu fondasi yang disiapkan Disbudparpora dalam membangun sektor pariwisata Sumedang.
Wuddan mencontohkan bagaimana identitas budaya sebuah daerah dapat langsung dikenali wisatawan ketika berkunjung. Menurut dia, atmosfer budaya yang kuat membuat sebuah daerah memiliki karakter tersendiri di mata wisatawan.
Ia ingin kondisi serupa dapat dirasakan ketika wisatawan datang ke Sumedang.
Budaya Sunda, kata dia, harus hadir secara lebih nyata melalui berbagai aktivitas dan lingkungan yang bersentuhan langsung dengan wisatawan.
Pendekatan tersebut sekaligus diharapkan dapat memperkuat posisi Sumedang sebagai daerah yang memiliki identitas budaya Sunda yang kuat.
Masuk Program 100 Hari Kerja
Penguatan sektor pariwisata berbasis budaya Sunda tersebut akan menjadi bagian dari program kerja 100 hari pertama Wuddan sebagai Kepala Disbudparpora Kabupaten Sumedang.
Program tersebut diarahkan untuk membangun pondasi pengembangan pariwisata dengan memanfaatkan potensi budaya lokal yang telah dimiliki Sumedang.
Tidak hanya mengembangkan destinasi, Disbudparpora juga akan mendorong keterlibatan pelaku usaha pariwisata agar identitas daerah semakin terlihat.
Tempat makan, hotel dan destinasi wisata menjadi bagian dari ekosistem pariwisata yang dinilai memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman wisatawan.
Ketika unsur budaya Sunda hadir secara konsisten di berbagai titik tersebut, pemerintah berharap karakter Sumedang sebagai pusat budaya Sunda semakin mudah dikenali.
Dibidik untuk Perkuat PAD
Penguatan sektor pariwisata juga memiliki kaitan dengan target peningkatan Pendapatan Asli Daerah.
Semakin kuat daya tarik wisata dan semakin lama wisatawan berada di suatu daerah, semakin besar pula peluang aktivitas ekonomi masyarakat dan pelaku usaha pariwisata berkembang.
Disbudparpora tidak hanya melihat budaya sebagai identitas daerah, tetapi juga sebagai bagian dari potensi ekonomi pariwisata.
Pengembangan pariwisata berbasis budaya diharapkan dapat memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan sekaligus memperkuat daya saing Sumedang sebagai tujuan wisata.
Wuddan menegaskan, identitas budaya Sunda harus menjadi sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan langsung, bukan hanya tercantum dalam regulasi.
Dengan penguatan tersebut, program 100 hari kerja Disbudparpora diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem pariwisata Sumedang yang lebih berciri khas.
Pada akhirnya, penguatan identitas Sunda di ruang-ruang wisata diharapkan tidak hanya membuat Sumedang semakin dikenal sebagai pusat budaya Sunda, tetapi juga membuka ruang lebih besar bagi pertumbuhan aktivitas ekonomi pariwisata dan peningkatan PAD.
Editor : Redaksi