Rembang, MEMANGGIL.CO - Di kawasan perbukitan Gunung Lasem, tepatnya di Desa Gowak, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, terdapat sebuah situs yang hingga kini masih menyimpan cerita sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Masyarakat setempat menyebutnya sebagai Candi Malad. Situs tersebut diyakini warga sebagai tempat persemayaman abu layon Dewi Indu atau Duhitendu Dewi, sosok yang dalam kisah sejarah Lasem disebut pernah memerintah sekitar tahun 1351 Masehi.
Nama Dewi Indu tidak terlepas dari sejarah kerajaan besar di Jawa pada masa itu. Ia disebut memiliki hubungan darah dengan Kerajaan Majapahit dan merupakan keponakan Hayam Wuruk, raja Majapahit yang berkuasa pada abad ke-14.
Jejak cerita mengenai Dewi Indu hingga kini masih hidup di tengah masyarakat Gowak. Salah satu lokasi yang dikaitkan dengan tokoh tersebut berada di RT 01 RW 01, Dukuh Gowak, Desa Gowak.
Dari pusat Kecamatan Lasem, lokasi situs tersebut berjarak sekitar delapan kilometer. Perjalanan menuju kawasan situs membawa pengunjung ke wilayah perbukitan Gunung Lasem dengan suasana yang relatif teduh dan jauh dari keramaian pusat kota.
Di lokasi tersebut terdapat area yang oleh masyarakat diyakini sebagai tempat persemayaman abu Dewi Indu. Keberadaan situs itu menjadi bagian dari cerita sejarah lokal yang terus dirawat oleh masyarakat sekitar.
Cerita Candi di Bawah Bukit
Tomo, warga Desa Gowak, mengatakan nama Candi Malad berasal dari cerita yang diwariskan oleh para leluhur.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, terdapat bangunan candi di bawah bukit yang menjadi lokasi persemayaman tersebut. Cerita itulah yang kemudian membuat kawasan tersebut dikenal dengan sebutan Candi Malad.
“Cerita dari leluhur menyebutkan ada bangunan candi di bawah bukit makam ini, sehingga disebut Candi Malad,” ujar Tomo, ditulis Selasa (29/9/2026).
Cerita tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari pengetahuan masyarakat setempat. Meski demikian, keberadaan dan bentuk bangunan candi sebagaimana disebut dalam cerita turun-temurun tersebut menjadi bagian yang masih perlu dilihat dalam konteks penelitian dan kajian sejarah maupun arkeologi.
Bagi warga, situs tersebut bukan sekadar tempat yang menyimpan cerita masa lalu. Kawasan itu juga menjadi salah satu ruang yang mempertemukan masyarakat dengan jejak sejarah Lasem.
Pengunjung yang datang biasanya berziarah sekaligus melihat langsung lokasi yang dikaitkan dengan sejarah Dewi Indu.
Aktivitas tersebut membuat kawasan Candi Malad tetap memiliki keterhubungan dengan kehidupan masyarakat hingga sekarang.
Jejak Dewi Indu di Lasem
Dewi Indu atau Duhitendu Dewi disebut sebagai salah satu tokoh yang berkaitan dengan perjalanan sejarah Lasem pada masa Majapahit.
Dalam cerita yang berkembang, ia merupakan penguasa Lasem sekitar tahun 1351 Masehi. Hubungannya dengan lingkungan Kerajaan Majapahit juga menjadi bagian penting dari narasi sejarah yang melekat pada sosok tersebut.
Pada masa itu, Majapahit berada dalam periode penting sejarah Jawa. Nama Hayam Wuruk dikenal sebagai salah satu raja Majapahit yang memerintah ketika kerajaan tersebut mencapai pengaruh luas di Pulau Jawa.
Keterkaitan Dewi Indu dengan lingkungan Majapahit membuat situs yang dikaitkan dengan dirinya memiliki nilai historis bagi masyarakat Lasem.
Namun, bagi masyarakat Gowak, nilai situs tersebut tidak hanya terletak pada hubungan dengan tokoh dan kerajaan masa lalu. Keberadaan lokasi itu juga menjadi bagian dari identitas desa yang diwariskan melalui cerita masyarakat.
Situs tersebut menunjukkan bagaimana sejarah lokal dapat bertahan melalui ingatan kolektif masyarakat, bahkan ketika sebagian kisahnya masih membutuhkan kajian lebih lanjut untuk mendapatkan kepastian berdasarkan sumber sejarah dan penelitian arkeologis.
Makam Tertata di Tengah Perbukitan
Area yang diyakini sebagai persemayaman abu Dewi Indu kini telah ditata. Di bagian makam terdapat bangunan kecil dengan bentuk menyerupai joglo.
Di dalam bangunan tersebut terdapat sebuah kotak berbahan tanah liat yang dipercaya berisi abu jenazah Dewi Indu.
Pepohonan besar, termasuk pohon beringin yang berada di sekitar lokasi, membuat suasana situs terasa teduh. Kondisi tersebut juga memberikan nuansa sakral bagi masyarakat yang datang untuk berziarah.
Keberadaan pohon-pohon besar di sekitar situs menjadi bagian dari karakter kawasan. Suasana perbukitan Gunung Lasem juga memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang ingin melihat jejak sejarah lokal di luar kawasan perkotaan.
Warga hingga kini masih datang ke lokasi tersebut. Sebagian datang untuk berziarah, sementara lainnya ingin mengenal cerita mengenai sejarah Lasem yang berkembang di tengah masyarakat.
Bagi masyarakat Desa Gowak, keberadaan Candi Malad menjadi pengingat bahwa kawasan Lasem memiliki perjalanan sejarah panjang dengan berbagai tokoh dan peninggalan yang tersebar di sejumlah tempat.
Warisan Sejarah yang Masih Dijaga
Warga berharap situs yang dikaitkan dengan Dewi Indu tersebut tetap terawat. Pelestarian dinilai penting agar cerita sejarah yang berkembang di Desa Gowak tidak hilang seiring perubahan zaman.
Perawatan kawasan juga dapat membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal sejarah lokal secara lebih dekat.
Di sisi lain, keberadaan situs seperti Candi Malad menunjukkan pentingnya dokumentasi dan penelitian terhadap berbagai lokasi bersejarah yang masih hidup dalam ingatan masyarakat.
Cerita mengenai Dewi Indu, hubungan dengan Majapahit, hingga penyebutan Candi Malad menjadi rangkaian narasi yang terus diwariskan warga Desa Gowak.
Terlepas dari berbagai cerita yang masih membutuhkan pengkajian lebih lanjut, situs tersebut saat ini tetap menjadi bagian dari lanskap sejarah Lasem.
Di tengah perbukitan Gunung Lasem, Candi Malad menyimpan sebuah cerita panjang tentang tokoh masa lalu yang masih dikenang masyarakat. Dari sebuah kisah yang diwariskan para leluhur, situs itu kini menjadi ruang bagi warga dan peziarah untuk kembali menengok jejak sejarah Lasem.
Editor : Redaksi