Jakarta, MEMANGGIL.CO - Nama Komjen Pol. Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto tengah menjadi perhatian banyak orang setelah diusulkan sebagai calon tunggal Kapolri. Di tengah proses tersebut, sosok dan karakter kepemimpinannya ikut menjadi sorotan, termasuk dari kalangan akademisi hukum.
Dekan Fakultas Hukum Universitas Jayabaya Jakarta, Assoc. Prof. Dr. Kristiawanto, memiliki pandangan tersendiri terhadap figur Suyudi yang selama ini dikenal memiliki pengalaman panjang di lingkungan kepolisian, khususnya bidang reserse.
Menurut Kristiawanto, Komjen Suyudi merupakan sosok yang memiliki karakter tegas sekaligus humanis dan religius.
"Jenderal Suyudi merupakan sosok yang tegas, humanis dan religius," ujar Assoc. Prof. Dr. Kristiawanto kepada Memanggil.co, Kamis (1/10/2026).
Pandangan tersebut disampaikan Kristiawanto setelah melihat perjalanan karier Suyudi yang telah melewati berbagai jenjang penugasan di Korps Bhayangkara.
Pengalaman tersebut dinilai menjadi bagian penting dari bekal Suyudi ketika menghadapi tanggung jawab yang lebih besar di pucuk pimpinan Polri.
Komjen Suyudi Lahir di Pandeglang
Komjen Suyudi Ario Seto merupakan putra kelahiran Pandeglang, Banten, 14 Juli 1973. Sejumlah sumber profil mencatat tempat dan tanggal kelahiran tersebut, sementara beberapa publikasi lain mencantumkan Jakarta sebagai tempat kelahirannya.
Suyudi merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1994 dan dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang reserse. Dalam perjalanan kariernya, ia pernah menduduki sejumlah jabatan operasional dan kewilayahan hingga posisi strategis di tingkat nasional.
Kariernya antara lain pernah bersinggungan dengan fungsi reserse di Polda Metro Jaya, kemudian dipercaya menjadi Kapolres Majalengka, Kapolres Bogor, Kapolresta Bogor Kota hingga Kapolres Metro Jakarta Pusat.
Suyudi selanjutnya dipercaya menempati sejumlah jabatan strategis di Bareskrim Polri. Pada 2023, ia menjabat Wakapolda Metro Jaya, kemudian dipercaya sebagai Kapolda Banten pada 2024. Setelah itu, Suyudi ditugaskan sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 2025.
Harapan untuk Polri yang Lebih Dekat dengan Masyarakat
Bagi Kristiawanto, pengalaman panjang tersebut akan menjadi modal penting apabila Suyudi dipercaya memimpin Polri.
Ia berharap gagasan "Polisi Bersama Masyarakat" tidak berhenti sebagai slogan, tetapi benar-benar diterapkan dalam pelaksanaan tugas kepolisian.
"Semoga ide besar Kapolri baru sebagai visi utama 'Polisi Bersama Masyarakat' dapat diwujudkan," kata Kristiawanto.
Ia juga meyakini pengalaman yang dimiliki Suyudi dapat membantu menerjemahkan visi tersebut ke dalam kebijakan dan pelayanan kepolisian.
"Dekan FH Jayabaya berkeyakinan dengan sosok Jenderal Suyudi dengan pengalaman yang dimiliki mampu mewujudkan visi besar tersebut, dan mampu menopang apa yang menjadi visi Presiden Prabowo," ujarnya.
Kristiawanto juga menyinggung pentingnya transformasi Polri yang menempatkan masyarakat sebagai pusat orientasi pelayanan.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar hubungan antara institusi kepolisian dan masyarakat semakin kuat.
"Dengan demikian stigma 'no viral no justice' akan terkikis," tegasnya.
Ia berharap kepemimpinan Suyudi nantinya dapat memperkuat orientasi pelayanan publik di tubuh kepolisian.
"Doktrin kepemimpinan sekaligus arah transformasi Polri yang menempatkan masyarakat sebagai pusat orientasi dari seluruh tugas kepolisian, yakni melayani masyarakat sepenuh hati," ujar Kristiawanto.
Baginya, sosok pemimpin Polri tidak hanya dituntut memiliki pengalaman dalam penegakan hukum dan keamanan, tetapi juga mampu membangun komunikasi dengan masyarakat.
Perjalanan panjang Suyudi dari dunia reserse hingga menduduki sejumlah jabatan strategis menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembahasan mengenai profil calon Kapolri tersebut.
Kini, perhatian publik tertuju pada bagaimana visi dan gagasan yang dibawa Suyudi akan diterjemahkan apabila proses pencalonannya sebagai Kapolri mendapatkan persetujuan sesuai mekanisme ketatanegaraan.
Editor : Redaksi