Cepu, MEMANGGIL.CO - Di sebuah kamar sempit rumah susun sederhana di Kelurahan Tambakromo, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, seorang bayi perempuan terbaring lemah. Namanya Nixeella Adinda Alfanisa. Usianya baru empat bulan, namun hidup telah memperkenalkannya pada perjuangan yang tak ringan.

Tubuh Nixeella kecil. Geraknya nyaris tak ada. Ia hanya bisa tidur terlentang di atas kasur tipis, dengan kepala yang tampak jauh lebih besar dari tubuh mungilnya. Sejak lahir, Nixeella didiagnosis menderita hidrosefalus, penyakit yang menyebabkan penumpukan cairan di otak dan membuat ukuran kepala membesar secara tidak normal.

Tangisnya lirih. Kadang hanya terdengar desahan napas pendek, seolah tubuh kecil itu sedang menahan beban yang terlalu berat untuk seusianya.

Nixeella adalah putri ketiga dari pasangan Arif Wibowo dan Fila Nurfitasari. Sejak hari pertama kelahirannya, Arif sudah menyadari ada yang tidak biasa dengan sang buah hati.

“Anak kami sejak lahir sudah menderita hidrosefalus. Saat lahir, berat badannya 4,5 kilogram, dengan kondisi kepala sudah membesar,” tutur Arif, suaranya tertahan.

Kepastian itu baru benar-benar mereka terima saat proses persalinan. Sejak saat itu, hidup pasangan ini berubah drastis. Hari-hari mereka diisi kecemasan, bolak-balik fasilitas kesehatan, dan perhitungan biaya yang terus membengkak.

Demi kesembuhan Nixeella, Arif dan istrinya rela melepas semua yang mereka miliki.

“Kami sudah menjual rumah dan sepeda motor demi biaya pengobatan anak. Sampai akhirnya kami harus tinggal di rusunawa,” ujarnya lirih.

Kamar rusunawa kini menjadi satu-satunya tempat berlindung. Di sanalah Nixeella tumbuh—atau lebih tepatnya, bertahan di tengah keterbatasan. Tak ada mainan, tak ada ayunan bayi. Yang ada hanya kasur, selimut tipis, dan harapan yang terus mereka jaga agar tidak padam.

Sate Pak Rizki

Kondisi memilukan ini mengetuk nurani banyak pihak. DTKS Cepu bersama TKSK Cepu pun bergerak cepat. Mereka meninjau langsung tempat tinggal keluarga Nixeella di Rusunawa Tambakromo, Kecamatan Cepu, untuk memastikan kondisi sang bayi sekaligus mendata kebutuhan yang diperlukan.

TKSK Cepu, Hanifianita Inez Astari, membenarkan bahwa kondisi Nixeella tergolong serius dan membutuhkan penanganan berkelanjutan.

“Balita ini memang memerlukan perawatan intensif dan terapi rutin. Pendampingan harus terus dilakukan agar hak kesehatan anak tetap terpenuhi,” jelasnya.

Bagi Arif dan Fila, perhatian itu menjadi secercah cahaya di tengah lorong panjang perjuangan. Mereka tahu jalan menuju kesembuhan Nixeella tidak singkat, tidak murah, dan tidak mudah. Namun selama masih ada yang peduli, mereka memilih untuk tetap bertahan.

Di balik dinding rusunawa yang dingin, Nixeella masih terbaring. Ia belum bisa mengucap apa-apa, belum bisa menggenggam dunia. Tapi dari napas kecilnya, tersimpan harapan besar bahwa suatu hari nanti, hidup akan memberinya kesempatan yang lebih adil.