Blora, MEMANGGIL.CO - Bupati Blora, H. Arief Rohman terbang langsung ke Provinsi Aceh untuk mengantarkan donasi kemanusiaan bagi korban bencana alam, Senin (2/2/2026). Donasi yang disalurkan mencapai Rp181.481.817 dan berasal dari partisipasi masyarakat Blora.

Bupati yang akrab disapa Gus Arief itu menegaskan kehadirannya di lokasi bencana bukan sekadar simbolik.

“Kami ingin memastikan bantuan benar-benar sampai,” ujar Gus Arief, ditulis Selasa (3/2/2026).

Menurutnya, penyerahan secara langsung penting agar pemerintah daerah mengetahui kondisi riil masyarakat terdampak.

“Kami ingin melihat langsung situasinya,” katanya singkat.

Donasi tersebut merupakan hasil penggalangan dana sejak awal Desember 2025. Dana dihimpun dari berbagai unsur, mulai dari organisasi perangkat daerah, TP PKK, organisasi masyarakat, hingga warga Blora.

“Ini murni solidaritas warga Blora,” ujar Gus Arief.

Ia menyebut, bantuan akan difokuskan untuk pemulihan fasilitas sosial dan keagamaan yang rusak akibat bencana.

“Prioritasnya mushola dan madrasah,” ucapnya.

Ketua Baznas Blora, H. Sutaat, mengatakan penyaluran bantuan dilakukan dalam bentuk uang tunai agar lebih efektif.

“Kami serahkan secara cash,” katanya. 

Namun demikian, Sutaat menegaskan proses penyaluran tetap dilakukan secara akuntabel.

“Ada berita acara dan pendampingan pengelola setempat,” jelasnya.

Sate Pak Rizki

Sutaat juga memastikan tidak ada dana donasi yang digunakan untuk kepentingan perjalanan rombongan.

“Biaya operasional tidak diambil dari donasi,” tegasnya.

Ia menyebut seluruh biaya perjalanan ditanggung melalui dana operasional amil sesuai ketentuan.

“Donasi utuh untuk korban,” ujarnya.

Gus Arief berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban masyarakat Aceh yang terdampak bencana.

“Ini bentuk empati kami,” katanya.

Lebih lanjut, Gus Arief juga mengajak masyarakat untuk terus menumbuhkan solidaritas lintas daerah.

“Bencana adalah urusan kemanusiaan,” tandasnya.

Langkah Bupati Blora yang mengantar langsung donasi ini mendapat perhatian publik sebagai bentuk kepemimpinan yang responsif dan humanis di tengah situasi darurat kebencanaan.