Karanganyar, MEMANGGIL.CO - Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, mengungkapkan bahwa ketahanan pangan akan terus menjadi fokus penting ke depan seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan tantangan perubahan iklim.
Untuk menguatkannya, ia mendorong pengembangan kebun keluarga di tingkat mikro atau rumah tangga, yang membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat.
Gagasan ini muncul saat Sumanto menggelar Reses Penyerapan Aspirasi Masyarakat di Resto Omah Joglo, Kabupaten Karanganyar, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, upaya ketahanan pangan tidak hanya perlu dilakukan di wilayah pedesaan besar, melainkan juga bisa diwujudkan di setiap rumah tangga di Kabupaten Karanganyar.
"Banyak wilayah yang masih memiliki potensi lahan kosong di pekarangan rumah. Ini harus dimanfaatkan secara optimal," kata politisi PDI Perjuangan tersebut.
Sumanto menawarkan solusi melalui edukasi pembuatan kebun keluarga dari sumbernya, yaitu rumah tangga.
Ia mengusulkan penyediaan bibit tanaman beragam jenis – mulai dari sayuran hijau, buah-buahan lokal, hingga tanaman obat yang mudah tumbuh di daerah Jawa Tengah.
"Saya dorong pemerintah dan masyarakat mengembangkan kebun di tingkat mikro, rumah tangga. Diberikan bibit untuk sayuran yang bisa dikonsumsi sehari-hari, buah untuk tambahan gizi, dan tanaman obat untuk kebutuhan kesehatan dasar," lanjutnya.
Ia juga memberikan contoh dengan pemberian paket bibit setiap tiga bulan, hal tersebut menurutnya lebih praktis dan hasilnya nanti bisa diperjualbelikan lingkup kelompok tani RT/RW atau pasar.
"Misalnya, setiap rumah tangga mendapatkan paket bibit setiap tiga bulan, ini lebih praktis. Hasil panen yang berlebih nantinya bisa diperjualbelikan atau diperdagangkan melalui kelompok tani RT/RW atau pasar rakyat," jelasnya.
Mantan Ketua DPRD Kabupaten Karanganyar tersebut menyarankan pemerintah daerah memfasilitasi pelatihan teknik bertani dan penyediaan bibit berkualitas di tingkat RT dan RW sebagai langkah awal pembiasaan masyarakat.
"Ketahanan pangan harus dimulai dari rumah. Jika setiap rumah bisa menghasilkan sebagian kebutuhan makanannya sendiri, beban pasokan dari luar akan jauh lebih ringan. Mari kita coba implementasikan di tingkat desa atau RW terlebih dahulu," ujar Sumanto.
Menurutnya, jika setiap rumah tangga mampu memenuhi 30% kebutuhan pangan sendiri dan sistem pemasaran hasil pertanian dimodernisasi, ketahanan pangan daerah bisa terwujud dalam 2 hingga 3 tahun. Namun hal tersebut membutuhkan kesadaran tinggi dan kerja keras dari masyarakat.
Sementara itu, Bupati Karanganyar Rober Christanto mengakui penguatan ketahanan pangan merupakan pekerjaan rumah terbesar wilayahnya. Saat ini, upaya tersebut membutuhkan gerakan nyata, bukan sekadar slogan.
"Dinas Pertanian tahun ini mengalokasikan anggaran Rp 7 miliar untuk mendukung program pengembangan kebun keluarga dan pembinaan kelompok tani di Kecamatan Sukosari," ujarnya.
Rober mengapresiasi kehadiran Sumanto yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jateng.
Ia berharap sinergi antara pemerintah kabupaten dan provinsi terus terjalin kuat, terutama dalam mengawal isu ketahanan pangan dan pelestarian budaya lokal terkait pertanian.
"Gotong royong adalah kunci utama untuk meringankan beban tugas kita bersama dalam Sesarengan Mbangun Karanganyar yang Mandiri dan Sejahtera," katanya. (ADV)