Jakarta, MEMANGGIL.CO - Ucapan “mohon maaf lahir dan batin” menjadi kalimat yang hampir selalu terdengar saat Hari Raya Idulfitri. Namun di balik kalimat sederhana itu, tersimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar formalitas.

Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Indonesia setiap Lebaran. Ucapan tersebut bukan hanya simbol sopan santun, tetapi juga bentuk permohonan maaf atas kesalahan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

“Memohon maaf atas segala khilaf,” menjadi inti dari ucapan tersebut, ditulis Jumat (20/3/2026). 

Dalam praktiknya, momen Lebaran dimanfaatkan sebagai waktu untuk memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang. Saling bermaafan dianggap sebagai langkah awal untuk membuka lembaran baru.

“Menyatukan kembali hati yang renggang,” menjadi makna yang terkandung di dalamnya.

Lebih dari itu, tradisi ini juga memperkuat nilai silaturahmi di tengah masyarakat. Kunjungan antar keluarga, sahabat, hingga tetangga menjadi bagian dari budaya yang terus dijaga.

“Mempererat tali persaudaraan,” adalah tujuan yang ingin dicapai.

Dalam perspektif sosial dan keagamaan, meminta maaf juga diyakini mampu menghapus kesalahan antar sesama manusia serta menghindarkan dari rasa dendam.

“Menghapus kesalahan dan membuka hati,” menjadi esensi utamanya. 

Sate Pak Rizki

Tak hanya itu, ucapan ini juga sering disandingkan dengan kalimat “minal aidin wal faizin” yang bermakna harapan kembali ke fitrah dan meraih kemenangan setelah Ramadan.

“Harapan kembali suci,” menjadi pesan yang disampaikan.

Di era modern, ucapan maaf bahkan berkembang dalam berbagai bentuk, mulai dari pesan singkat hingga media sosial. Namun esensinya tetap sama: membangun kembali hubungan yang lebih baik.

“Bukan sekadar kata, tapi niat tulus,” menjadi penegasan makna Lebaran.

Dengan demikian, “mohon maaf lahir dan batin” bukan hanya ucapan tahunan, melainkan refleksi nilai kemanusiaan, keikhlasan, dan keinginan untuk hidup lebih damai setelah Ramadan.