Sidoarjo, MEMANGGIL.CO - Di tengah bulan suci Ramadhan, Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Al Kholiqi di kawasan Waru menghadirkan lebih dari sekadar tradisi buka puasa bersama. Kegiatan ini justru dimanfaatkan sebagai ruang konsolidasi berbagai pihak untuk memperkuat upaya rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba melalui pendekatan spiritual dan sosial.

Digelar di Jalan Brigjen Katamso, Desa Kedungrejo, acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh penting, mulai dari unsur pemerintah desa, tokoh masyarakat, hingga perwakilan Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sidoarjo. Kehadiran lintas elemen ini menjadi penegasan bahwa penanganan narkoba membutuhkan kerja bersama yang berkelanjutan.

Pimpinan YPP Al Kholiqi, H. Abdul Kholiq, menyampaikan bahwa rehabilitasi yang dijalankan di lingkungan pesantren tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga menitikberatkan pada pemulihan mental dan spiritual para klien.

“Pendekatan yang kami lakukan lebih menekankan pada pembinaan batin. Karena tanpa kesadaran dari dalam, proses pemulihan tidak akan berjalan optimal,” tuturnya, Jumat (20/3/2026).

Menurutnya, metode pembinaan di pesantren diarahkan untuk membangun kesadaran personal agar para klien memiliki tekad kuat untuk berubah. Dengan demikian, mereka tidak hanya pulih, tetapi juga mampu kembali menjalani kehidupan sosial secara normal.

Hal senada disampaikan Kasi Rehabilitasi BNNK Sidoarjo, Muklis. Ia menilai bahwa keberhasilan rehabilitasi sangat ditentukan oleh faktor internal individu, meski dukungan eksternal tetap memiliki peran penting.

“Faktor utama tetap pada niat dan kesadaran pribadi. Namun, peran keluarga juga sangat besar dalam membantu proses pemulihan agar berjalan maksimal,” jelasnya.

Muklis juga mengungkapkan bahwa banyak kasus penyalahgunaan narkoba dipicu oleh persoalan emosional dalam keluarga. Minimnya perhatian hingga ketidakadilan dalam lingkungan rumah tangga kerap menjadi celah yang mendorong seseorang terjerumus.

Sate Pak Rizki

Sementara itu, Ali Managali Parawansah mengajak masyarakat untuk tidak bersikap pasif dalam menghadapi persoalan narkoba. Ia menegaskan pentingnya kepedulian bersama dalam mendorong korban mendapatkan penanganan yang tepat.

“Ini bukan hanya tugas pemerintah. Masyarakat harus berani mengambil peran, baik dengan melaporkan maupun mengarahkan korban ke lembaga resmi seperti BNN atau tempat rehabilitasi,” ujarnya.

Ia juga menyinggung komitmen Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam memperkuat program rehabilitasi sosial. Upaya tersebut dinilai telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan perlindungan masyarakat dari ancaman narkoba.

Melalui kegiatan ini, YPP Al Kholiqi menegaskan posisinya sebagai lembaga yang tidak hanya bergerak di bidang keagamaan, tetapi juga berperan aktif dalam menyelesaikan persoalan sosial.

Pendekatan pembinaan berkelanjutan yang dilakukan diharapkan mampu membantu para korban penyalahgunaan narkoba untuk bangkit dan kembali menjalani kehidupan yang lebih baik.