Surabaya, MEMANGGIL.CO - Seiring berjalannya waktu, apotek kini menghadirkan konsep baru sebagai apotek pendidikan yakni ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa farmasi sekaligus pusat edukasi kesehatan bagi masyarakat.
Selain melayani masyarakat, apotek pendidikan juga berperan sebagai tempat praktik bagi mahasiswa farmasi sebelum terjun ke dunia kerja.
Dimana, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga menghadapi langsung kasus kesehatan masyarakat.
Konsep ini coba diwujudkan Apotek Oksi Farma. Apotek yang berlokasi di Jalan Raya Sememi Jaya Asri, Kecamatan Pakal, Surabaya.
Apotek ini tidak hanya berfungsi sebagai layanan kefarmasian, tetapi juga sebagai apotek pendidikan yang menyediakan tempat praktik dengan standar profesional bagi mahasiswa.
Apoteker Oksi Farma, Yusuf Alif Pratama menjelaskan, pihaknya tengah menyiapkan sistem pembelajaran lengkap, mulai dari kurikulum praktik, standar operasional prosedur (SOP), hingga dokumen mutu yang sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian.
“Kami ingin menciptakan atmosfer belajar seperti co-working space. Mahasiswa bisa berdiskusi, belajar, sekaligus melayani pasien dengan pendampingan apoteker. Ini bukan sekadar praktikum, tetapi praktik nyata di masyarakat,” jelas Dosen Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya ini, Minggu (05/4/2026).
Apotek ini juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi farmasi di Surabaya dan Jawa Timur, sehingga mahasiswa memiliki lebih banyak akses tempat praktik yang terstandar.
“Harapan kami, apotek pendidikan bisa menjadi inisiator di Jawa Timur dalam membentuk tenaga farmasi yang siap terjun ke masyarakat dan memberikan dampak langsung bagi kesehatan,” ujar Yusuf.
Bagi mahasiswa, pengalaman praktik di apotek pendidikan menjadi kesempatan penting untuk memahami kondisi kesehatan masyarakat secara langsung.
Mahasiswa semester akhir Fakultas Farmasi Universitas Adi Buana Surabaya, Tania Rachmawati Karina, mengaku praktik di apotek memberikan pengalaman berbeda dibandingkan pembelajaran di kampus.
“Kalau di kampus kita lebih banyak belajar teori, sedangkan di masyarakat kita bisa menghadapi langsung berbagai kasus penyakit yang berbeda-beda. Itu membuat kita belajar lebih cepat dan memahami kebutuhan pasien,” kata Tania.
Ia juga menilai kehadiran apotek pendidikan membantu mahasiswa memahami pola penyakit yang umum terjadi di masyarakat, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, asam urat, dan diabetes.
Menurutnya, komunikasi dengan pasien menjadi keterampilan penting yang harus dikuasai tenaga farmasi.
“Kita harus sabar dan menggunakan bahasa yang sederhana agar masyarakat bisa memahami informasi obat dengan baik,” imbuhnya.
Tidak hanya menjadi tempat praktik, apotek pendidikan juga berperan dalam kegiatan edukasi kesehatan masyarakat.
Mahasiswa bersama apoteker dapat terlibat langsung dalam sosialisasi penggunaan obat yang benar hingga pencegahan resistansi antibiotik.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar di kampus, tetapi juga berkontribusi langsung kepada masyarakat. Ini bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat,” ungkap Yusuf.
Ke depan, konsep apotek pendidikan diharapkan dapat berkembang dan menjadi model pembelajaran praktik kefarmasian yang lebih aplikatif, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di masyarakat.
Selain itu juga, kehadiran apotek pendidikan bertujuan mengubah cara pandang masyarakat terhadap fungsi apotek.
“Selama ini apotek sering dipandang hanya sebagai tempat membeli obat. Padahal sebenarnya apotek juga harus menjadi tempat meningkatkan kesehatan masyarakat, tidak hanya menyediakan produk obat, tetapi juga memberikan informasi penggunaan obat yang benar,” terang Yusuf lagi.
Menurutnya, informasi penggunaan obat sangat penting karena kesalahan pemahaman bisa berdampak pada efektivitas pengobatan.
Yusuf mencontohkan, perbedaan antara aturan minum obat tiga kali sehari dengan setiap delapan jam yang sering dianggap sama, padahal memiliki makna berbeda secara medis.
“Obat yang efektif, aman, dan berkualitas harus disertai informasi yang tepat. Tanpa informasi yang benar, efektivitas obat bisa menurun,” pungkas Yusuf.