Blora, MEMANGGIL.CO - Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman atau Gus Arief melihat peluang baru untuk membawa potensi kuliner dan kebudayaan daerah ke panggung internasional.

Salah satunya melalui kerja sama promosi dengan Uzbekistan yang dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pasar sekaligus ruang diplomasi budaya bagi produk khas Blora.

Peluang tersebut dibahas Gus Arief saat menerima kunjungan Duta Besar Republik Indonesia untuk Uzbekistan Prof. Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin di Pendopo Bupati Blora.

Pertemuan itu berlangsung dalam suasana santai sambil membahas sejumlah potensi daerah yang dapat diperkenalkan ke Uzbekistan, mulai dari kuliner hingga kesenian tradisional.

Gus Arief secara khusus menanyakan peluang membawa kekayaan budaya dan kuliner Blora ke Uzbekistan melalui jaringan kerja sama Jawa Tengah. Ia menyebut sate Blora dan kesenian barongan sebagai dua potensi yang layak diperkenalkan lebih luas.

“Bup Prov, kira-kira apa yang bisa kita masukkan untuk Blora ke depannya?” tanya Gus Arief, dikutip Memanggil.co, Sabtu (22/8/2026). 

Ia kemudian mengarahkan pembahasan pada kemungkinan membawa kuliner dan kebudayaan khas Blora ke Uzbekistan.

Menurutnya, potensi tersebut dapat menjadi bagian dari promosi daerah sekaligus membuka ruang baru bagi pelaku seni dan usaha kuliner lokal.

“Mungkin kita ingin mengirim kebudayaan atau kuliner Blora ke Uzbekistan,” lanjutnya.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Dr. Siti Ruhaini menyambut positif gagasan yang disampaikan Gus Arief.

Menurutnya, Blora memiliki sejumlah kekayaan lokal yang sudah dikenal luas dan berpeluang diperkenalkan kepada masyarakat internasional.

Ia secara khusus menyebut sate Blora sebagai salah satu kuliner yang memiliki peluang untuk masuk ke pasar Uzbekistan. Karakter kuliner tersebut dinilai cukup sesuai dengan selera masyarakat setempat yang memiliki ketertarikan terhadap olahan daging.

“Kami sebagai warga sangat bangga,” ujar Siti Ruhaini.

Menurutnya, sejumlah makanan khas Blora saat ini sudah memiliki popularitas secara nasional. Sate Blora menjadi salah satu contoh kuliner yang dinilai memiliki identitas kuat dan dapat dikembangkan sebagai bagian dari diplomasi kuliner Indonesia di luar negeri.

“Sate Blora itu sudah menasional,” katanya.

Peluang tersebut semakin terbuka karena Uzbekistan kini berkembang sebagai salah satu destinasi wisata religi dan ziarah yang menarik perhatian masyarakat dari berbagai negara. Kondisi itu membuat kebutuhan terhadap ragam kuliner Nusantara juga berpotensi meningkat.

Siti Ruhaini menjelaskan bahwa masyarakat Uzbekistan memiliki ketertarikan terhadap makanan berbahan daging. Karena itu, ia menilai sate Blora memiliki karakter yang cukup relevan untuk diperkenalkan di negara tersebut.

“Orang-orang Uzbekistan itu suka daging,” ujarnya.

Menurutnya, karakter tersebut menjadi salah satu alasan sate Blora dinilai berpotensi masuk ke pasar kuliner Uzbekistan.

Promosi tidak harus dilakukan secara besar-besaran sejak awal, tetapi dapat dimulai melalui berbagai kegiatan kebudayaan dan pusat kuliner Indonesia.

Siti Ruhaini menyebut Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Uzbekistan tengah berupaya mengembangkan pusat kuliner Indonesia di kawasan tersebut.

Program itu dinilai dapat menjadi pintu masuk bagi makanan khas dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Blora.

“KBRI sedang berupaya membuat pusat kuliner,” katanya.

Dalam konteks tersebut, ia berharap Blora dapat mengambil bagian dengan membawa kuliner khas daerah. Salah satu lokasi yang dinilai strategis adalah kawasan sekitar kompleks makam Imam Bukhari yang menjadi salah satu tujuan ziarah penting di Uzbekistan.

“Kita berharap sate Blora harus masuk,” ujar Siti Ruhaini.

Ia menyebut peluang tersebut dapat dikembangkan bersamaan dengan meningkatnya tren perjalanan wisata religi dan konsep perjalanan yang menggabungkan ibadah dengan kunjungan ke berbagai destinasi. Kondisi itu membuka ruang bagi kuliner Nusantara untuk hadir sebagai bagian dari pengalaman wisata para pengunjung.

“Ini peluang,” tegasnya.

Menurut Siti Ruhaini, diplomasi kuliner memiliki potensi besar untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia. Makanan tidak hanya menjadi produk konsumsi, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan identitas, tradisi dan karakter suatu daerah.

Bagi Blora, peluang tersebut menjadi penting karena dapat memberikan ruang promosi baru bagi pelaku usaha kuliner.

Jika dikembangkan secara serius, pengenalan sate Blora ke Uzbekistan berpotensi tidak hanya meningkatkan popularitas makanan khas tersebut, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang terlibat dalam rantai produksinya.

Namun, pembicaraan Gus Arief dengan Siti Ruhaini tidak berhenti pada urusan kuliner. Keduanya juga membahas peluang membawa kesenian tradisional Blora ke berbagai agenda kebudayaan di Uzbekistan.

Salah satu kesenian yang mendapat perhatian adalah barongan. Kesenian khas Blora tersebut dinilai memiliki karakter kuat karena merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat setempat dan memiliki nilai tradisi yang panjang.

Siti Ruhaini menyebut barongan sebagai kesenian yang dapat masuk dalam agenda festival kebudayaan di Uzbekistan.

Ia melihat peluang tersebut terbuka karena terdapat berbagai festival yang memberikan ruang bagi kesenian tradisional dan kebudayaan asli dari berbagai negara.

“Barongan itu indigenous,” ujarnya.

Istilah tersebut merujuk pada karakter barongan sebagai kesenian asli yang tumbuh dan berkembang dari tradisi masyarakat. Keunikan tersebut justru dapat menjadi nilai jual ketika kesenian Blora diperkenalkan di panggung internasional.

Menurut Siti Ruhaini, terdapat sejumlah festival kebudayaan di Uzbekistan yang dapat menjadi ruang penampilan bagi kesenian tradisional Indonesia.

Kesempatan tersebut juga tidak terbatas pada satu jenis kegiatan karena terdapat berbagai agenda seni dan budaya yang berlangsung di negara tersebut.

“Banyak festival,” katanya.

Ia bahkan membuka peluang agar barongan Blora dapat tampil dalam festival etnik di Uzbekistan. Selain itu, peluang serupa juga disebut terbuka di negara tetangga seperti Kirgizstan.

“Untuk barongan kita,” ujarnya.

Siti Ruhaini menilai kekayaan budaya Blora sebenarnya memiliki modal kuat untuk diperkenalkan di luar negeri. Tantangannya adalah bagaimana menyiapkan konsep pertunjukan, pengiriman tim kesenian, serta pembiayaan agar peluang tersebut dapat diwujudkan.

“Tinggal mencari sponsor,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi pengembangan seni tradisional Blora. Selama ini barongan lebih banyak dikenal melalui pertunjukan di tingkat lokal maupun nasional, sementara kesempatan tampil dalam festival internasional dapat membuka cakrawala baru bagi para pelaku seni.

Bagi Gus Arief, peluang tersebut merupakan kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten Blora.

Ia menilai keberadaan warga Blora yang dipercaya menjalankan tugas di level internasional juga dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan potensi daerah.

Gus Arief menyebut Siti Ruhaini sebagai salah satu diaspora yang membanggakan Blora. Karena itu, komunikasi dan silaturahmi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertemuan, tetapi dapat menghasilkan peluang konkret bagi daerah.

“Oke, sukses selalu Bu Dubes,” kata Gus Arief.

Ia menyampaikan apresiasi atas perhatian dan masukan yang diberikan Siti Ruhaini.

Menurutnya, peluang membawa sate Blora maupun barongan ke Uzbekistan merupakan kesempatan yang patut ditindaklanjuti.

“Ini kebanggaan Blora,” ujarnya.

Gus Arief juga memberikan penghargaan kepada Siti Ruhaini atas kiprahnya di tingkat internasional.

Menurutnya, keberadaan putra-putri daerah yang menjalankan tugas strategis di luar negeri menjadi kebanggaan sekaligus peluang untuk membangun jejaring bagi daerah asal.

“Ini salah satu diaspora yang membanggakan kita,” kata Gus Arief.

Ia berharap komunikasi tersebut dapat membuka kerja sama yang lebih konkret antara Blora dan Uzbekistan.

Terlebih, potensi yang dibicarakan menyentuh dua sektor sekaligus, yakni ekonomi kreatif melalui kuliner dan pelestarian budaya melalui kesenian tradisional.

Bagi Pemerintah Kabupaten Blora, promosi kuliner dan kebudayaan ke luar negeri juga dapat menjadi bagian dari strategi memperkenalkan identitas daerah.

Blora tidak hanya memiliki potensi sumber daya alam, tetapi juga memiliki produk budaya dan kuliner yang dapat menjadi kekuatan ekonomi baru.

Sate Blora menjadi salah satu produk kuliner yang memiliki karakter khas. Sementara barongan menjadi representasi seni tradisional yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Blora.

Jika kedua potensi tersebut dapat tampil di Uzbekistan, dampaknya diharapkan tidak berhenti pada promosi.

Kehadiran produk dan kesenian Blora di panggung internasional juga dapat membuka jejaring baru, memperluas pasar dan meningkatkan kepercayaan diri para pelaku usaha serta seniman lokal.

Pembicaraan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa diplomasi daerah dapat dilakukan melalui berbagai jalur. Hubungan dengan pejabat diplomatik Indonesia di luar negeri dapat dimanfaatkan untuk membuka akses promosi daerah tanpa harus selalu menunggu agenda formal antarpemerintah.

Gus Arief sendiri menilai peluang tersebut perlu disambut dengan kesiapan. Pemerintah daerah, pelaku UMKM, komunitas seni dan berbagai pihak terkait nantinya perlu berkolaborasi agar produk yang dibawa ke luar negeri benar-benar siap dari sisi kualitas maupun kemasan.

Untuk kuliner, kesiapan tersebut dapat mencakup standar produk, penyajian, kemasan dan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar.

Sementara untuk seni pertunjukan, diperlukan persiapan konsep, personel, perlengkapan, pembiayaan dan koordinasi dengan pihak penyelenggara festival.

Jika dirancang dengan baik, sate Blora dan barongan dapat menjadi dua pintu masuk untuk mengenalkan Kabupaten Blora kepada masyarakat Uzbekistan.

Dari kuliner, orang dapat mengenal cita rasa daerah, sedangkan dari kesenian masyarakat dapat mengenal sejarah dan karakter budaya Blora.

Peluang tersebut juga sejalan dengan semakin terbukanya hubungan masyarakat Indonesia dengan dunia internasional. Produk lokal tidak lagi harus berhenti di pasar domestik apabila memiliki kualitas, identitas dan strategi promosi yang tepat.

Siti Ruhaini pun berharap peluang tersebut dapat ditindaklanjuti bersama. Ia membuka ruang komunikasi agar potensi Blora dapat disiapkan untuk mengikuti agenda yang relevan di Uzbekistan maupun kawasan sekitarnya.

Pertemuan antara Gus Arief dan Siti Ruhaini akhirnya ditutup dengan pesan optimisme. Bagi Blora, pertemuan tersebut bukan sekadar silaturahmi, tetapi membuka kemungkinan baru untuk membawa nama daerah melalui kuliner dan kebudayaan.

“Maturnuwun Prof, atas arahan dan masukannya,” ujar Gus Arief.

Ia juga mendoakan agar Siti Ruhaini selalu diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan tugas negara sebagai Dubes RI untuk Uzbekistan.

“Sehat selalu dan diberi kelancaran dalam menjalankan tugas negara,” kata Gus Arief.

Siti Ruhaini kemudian menyampaikan apresiasi atas sambutan Gus Arief.

“Makasih Pak Bupati,” ujarnya.

Kini, gagasan membawa sate Blora ke kawasan makam Imam Bukhari serta mengirim barongan ke festival etnik di Uzbekistan menjadi peluang yang menarik untuk ditindaklanjuti.

Jika terealisasi, kuliner dan kesenian khas Blora tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat lokal, tetapi juga dapat tampil membawa nama Blora di panggung budaya internasional.