Surabaya, MEMANGGIL.CO - Teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) pertahanan maritim selama ini identik dengan lingkungan militer dan fasilitas terbatas. Namun, PT PAL Indonesia (Persero) membawa sejumlah produk pertahanan buatannya lebih dekat kepada masyarakat melalui ajang TNI Fair 2026.

Pameran yang digelar pada 19–20 September 2026 tersebut menjadi ruang bagi perusahaan galangan kapal nasional itu untuk memperkenalkan kemampuan industri pertahanan Indonesia kepada publik.

Bersama holding industri pertahanan DEFEND ID, PT PAL menampilkan sejumlah produk alutsista maritim melalui maket atau mock up serta tayangan video interaktif.

Produk yang diperkenalkan mencakup kapal selam, kapal perang permukaan hingga teknologi kapal otonom. Di antaranya Kapal Selam Scorpene Evolved (KSSR) Type Launcher, Torpedo dan Rudal, Kapal Selam Otonom (KSOT), Kapal Cepat Rudal (KCR), Frigate, serta Multi Role Support Ship (MRSS).

Kehadiran berbagai produk tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperlihatkan bentuk dan kemampuan alutsista. Pengunjung juga diberi kesempatan memperoleh informasi dan berdiskusi mengenai teknologi pertahanan maritim yang dikembangkan industri dalam negeri.

Chief Marketing Officer (CMO) PT PAL Indonesia, Wiyono Komodjojo, mengatakan keterlibatan perusahaan dalam ruang publik menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kemampuan industri pertahanan nasional kepada masyarakat.

Menurut dia, masyarakat tidak harus memahami seluruh aspek teknis kapal perang untuk mengetahui bahwa teknologi pertahanan tersebut dapat diproduksi oleh industri dalam negeri.

“Kami sadar tidak semua orang perlu tahu detail teknis sebuah frigate. Tapi kami ingin masyarakat tahu bahwa kapal itu dibuat di negeri sendiri, oleh orang Indonesia,” kata Wiyono dalam keterangan resminya, Senin (21/9/2026).

Dari Kapal Selam hingga Kapal Perang

Produk yang ditampilkan PT PAL menggambarkan cakupan teknologi pertahanan maritim yang dikembangkan perusahaan tersebut.

Salah satu yang diperkenalkan ialah Kapal Selam Scorpene Evolved (KSSR) Type Launcher. Selain kapal selam, PT PAL juga menampilkan teknologi persenjataan berupa torpedo dan rudal yang menjadi bagian dari sistem pertahanan kapal.

Ada pula Kapal Selam Otonom (KSOT) yang merepresentasikan pengembangan teknologi kendaraan bawah laut tanpa awak.

Di sektor kapal permukaan, PT PAL memperkenalkan Kapal Cepat Rudal (KCR) dan frigate. Sementara untuk kebutuhan pendukung operasi, terdapat Multi Role Support Ship (MRSS).

Rangkaian produk tersebut dipamerkan dalam bentuk maket maupun materi visual interaktif sehingga masyarakat dapat memperoleh gambaran mengenai teknologi dan fungsi masing-masing alutsista.

Bagi PT PAL, ruang pamer tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memperlihatkan perkembangan kemampuan galangan kapal nasional dalam mengerjakan produk pertahanan untuk kebutuhan maritim.

Dorong Pemahaman soal Kemandirian Pertahanan

Wiyono mengatakan Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan kemampuan industri pertahanan yang dapat mendukung kebutuhan pertahanan laut.

Menurut dia, perkembangan industri galangan kapal nasional kini mencakup kemampuan produksi kapal perang permukaan, kapal selam hingga pengembangan teknologi otonom.

Ia menyebut perkembangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Indonesia dalam membangun kemandirian teknologi pertahanan.

“Indonesia sebagai negara maritim kini telah memiliki galangan kapal yang mampu memproduksi kapal perang canggih, baik untuk permukaan maupun bawah permukaan, hingga penguasaan teknologi otonom,” ujarnya.

Menurut Wiyono, perkembangan kemampuan tersebut juga telah mendapat perhatian dari dunia internasional.

“Kemajuan ini bahkan telah menyita perhatian dunia internasional,” sambungnya.

Namun, bagi industri pertahanan, kemampuan memproduksi alutsista bukan satu-satunya aspek yang menjadi perhatian. Kemampuan merawat dan memperbaiki alutsista juga dinilai penting untuk memastikan peralatan pertahanan tetap dapat digunakan dalam jangka panjang.

MRO Dinilai Penting untuk Kemandirian

PT PAL menilai penguasaan kemampuan maintenance, repair, and overhaul atau MRO menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kemandirian pertahanan.

Kemampuan melakukan perawatan, perbaikan, dan peremajaan alutsista di dalam negeri dapat mendukung keberlangsungan operasional sistem pertahanan tanpa sepenuhnya bergantung kepada pihak asing.

Menurut Wiyono, kemandirian tersebut memiliki kaitan langsung dengan kebutuhan Indonesia dalam menjaga wilayah kedaulatan, khususnya sebagai negara dengan wilayah laut yang luas.

“Menurutnya, kemandirian dalam merawat, memperbaiki (maintenance, repair, and overhaul/MRO), hingga memproduksi alutsista sendiri sangat krusial agar Indonesia tidak bergantung pada pihak asing dalam menjaga kedaulatan wilayahnya,” jelas PT PAL.

Dengan demikian, pembangunan industri pertahanan tidak hanya berhenti pada kemampuan membuat produk baru. Ekosistem pendukung, termasuk perawatan, perbaikan, peningkatan kemampuan, sumber daya manusia, dan rantai pasok, turut menjadi bagian dari penguatan industri pertahanan nasional.

Industri Pertahanan Beririsan dengan Ekonomi

PT PAL juga melihat pengembangan industri pertahanan memiliki dampak yang lebih luas di luar aspek militer.

Aktivitas industri pertahanan membutuhkan tenaga kerja dengan berbagai keahlian sekaligus melibatkan perusahaan pemasok komponen dan jasa pendukung.

Karena itu, penguatan industri pertahanan nasional dinilai dapat membuka lapangan pekerjaan sekaligus mendorong transfer teknologi kepada sumber daya manusia Indonesia.

Keterlibatan pemasok lokal juga menjadi bagian dari rantai industri yang terbentuk di sekitar proyek pertahanan.

PT PAL menyebut industri pertahanan turut menggerakkan ratusan pemasok lokal. Kondisi tersebut membuat pengembangan alutsista memiliki keterkaitan dengan aktivitas ekonomi nasional.

Transfer teknologi menjadi aspek lain yang dinilai penting. Semakin besar kemampuan industri dalam mengerjakan produk pertahanan di dalam negeri, semakin besar pula kebutuhan terhadap tenaga ahli, teknologi produksi, rekayasa, hingga pengembangan kemampuan manufaktur.

TNI Fair Jadi Ruang Edukasi Publik

Melalui TNI Fair 2026, PT PAL tidak hanya membawa produk pertahanan ke ruang pamer, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat industri pertahanan nasional.

Pengunjung dapat melihat maket alutsista dan memperoleh penjelasan mengenai produk yang dikembangkan. Interaksi tersebut membuat teknologi pertahanan yang selama ini lebih banyak berada di lingkungan militer dapat diperkenalkan kepada masyarakat dalam bentuk yang lebih mudah dipahami.

Wiyono mengatakan pendekatan tersebut penting agar isu pertahanan tidak dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya jauh dari kehidupan masyarakat.

“Dengan pameran TNI Fair ini, PT PAL menunjukkan bahwa urusan pertahanan bukan sekadar isu negara yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan investasi nyata bagi kedaulatan dan perekonomian bangsa,” kata Wiyono.

Bagi PT PAL, pengenalan industri pertahanan kepada masyarakat juga menjadi bagian dari membangun pemahaman mengenai pentingnya kemampuan nasional dalam memproduksi, merawat, dan mengembangkan alutsista.

Di tengah kebutuhan menjaga wilayah maritim Indonesia, keberadaan industri pertahanan dalam negeri menjadi salah satu unsur yang mendukung kemampuan pertahanan nasional.

Pameran TNI Fair 2026 pun menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan teknologi pertahanan, industri nasional, dan masyarakat dalam satu forum. Dari kapal selam hingga frigate, produk yang ditampilkan PT PAL memperlihatkan spektrum kemampuan industri maritim Indonesia yang terus dikembangkan.