Blora, MEMANGGIL.CO - Penanganan kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan siswa dan guru di SMAN 1 Tunjungan, Kabupaten Blora, semakin gamblang. Hasil pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri E. coli (Escherichia coli) melebihi ambang batas pada air sumur, dan bakteri Bacillus cereus pada sejumlah menu MBG.
Temuan tersebut muncul ketika kasus keracunan MBG telah masuk ke ranah kepolisian lantaran ada laporan resmi yang diterima Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Blora pada 10 September 2026.
Diketahui, kepolisian sendiri mulai menelusuri kasus tersebut, termasuk memeriksa pelapor dan sejumlah saksi serta sampel makanan. Kini, hasil pemeriksaan laboratorium memberikan temuan baru yang gamblang dan tentunya dapat menjadi bahan penting untuk langkah selanjutnya.
Penjelasan Dinkesda Blora
Sekretaris Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora, dr. Nur Betsia Bertawati, mengatakan pemeriksaan dilakukan sebagai bagian dari penanganan kejadian gangguan kesehatan yang dialami sejumlah siswa dan guru SMAN 1 Tunjungan.
Pemeriksaan melibatkan tim surveilans Dinkesda Kabupaten Blora bersama Laboratorium Kesehatan (Labkes) Kabupaten Blora. Sebagian pemeriksaan juga dilakukan di Laboratorium Kesehatan Provinsi karena terdapat jenis pemeriksaan yang tidak dapat dilakukan di laboratorium kabupaten.
"Di samping itu juga ada pemeriksaan yang dilakukan di Labkes provinsi karena kita tidak bisa melakukan," kata dr. Nur Betsia kepada Memanggil.co saat ditemui di kantornya, Selasa (22/9/2026).
Salah satu pemeriksaan dilakukan terhadap sampel air yang digunakan di lingkungan sekolah. Menurut dr. Nur Betsia, sampel yang diperiksa di Labkes Kabupaten Blora antara lain berasal dari air sumur dan air minum.
"Hasilnya mengandung bakteri E. coli (Escherichia coli) yang melebihi batas ambang, lha ini yang bisa menyebabkan keracunan makanan terutama air," ujarnya.
Namun, hasil pemeriksaan terhadap air isi ulang yang turut menjadi sampel disebut masih berada dalam batas normal.
Selain sampel air, pemeriksaan juga dilakukan terhadap makanan yang menjadi bagian dari menu MBG. Pemeriksaan sampel makanan dilakukan di Labkes Provinsi karena terdapat parameter yang tidak dapat diperiksa di laboratorium kabupaten.
Hasil pemeriksaan menemukan bakteri Bacillus cereus pada menu sop. Bakteri tersebut diketahui dapat menyebabkan gangguan pencernaan dengan gejala antara lain mual, muntah, dan diare.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena gejala yang dialami siswa dan guru SMAN 1 Tunjungan saat kejadian sebelumnya juga meliputi mual, muntah, dan diare.
"Sop itu ditemukan bakteri namanya Bacillus cereus, itu adalah bakteri yang menyebabkan keracunan yang tanda-tandanya di antaranya adalah diare, mual, muntah, seperti yang ditemukan pada saat anak-anak keracunan kemarin di SMA Tunjungan," kata dr. Nur Betsia.
Tak hanya pada sop, bakteri Bacillus cereus juga ditemukan pada sampel kuah sop dan menu woku ayam.
"Itu juga positif Bacillus cereus, itu juga yang menyebabkan bakteri yang menyebabkan keracunan makanan, kemudian yang menu yang lain tidak mengandung bakteri," tandasnya.
Menunggu Pendalaman Polisi
Temuan laboratorium tersebut tentunya menjadi bagian penting dalam rangkaian pemeriksaan kasus yang kini juga telah dilaporkan ke kepolisian. Polisi sebelumnya telah mulai menelusuri sumber persoalan pada SPPG Sukorejo 2, termasuk memeriksa sampel makanan dan sejumlah saksi.
Kepastian mengenai hubungan antara hasil pemeriksaan laboratorium, makanan yang dikonsumsi, dan kejadian gangguan kesehatan masih memerlukan pendalaman lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Dengan adanya hasil pemeriksaan tersebut, penyelidikan kasus yang sebelumnya telah masuk melalui laporan pengaduan di Polres Blora kini memiliki temuan ilmiah yang dapat menjadi salah satu bahan untuk mengurai rangkaian peristiwa secara lebih terang benderang.