Surabaya, MEMANGGIL.CO - Universitas Ciputra Surabaya memperkuat pendidikan kewirausahaan dengan mendorong mahasiswa membangun usaha sejak masih kuliah. Model tersebut diarahkan agar lulusan tidak hanya masuk ke pasar kerja, tetapi juga memiliki pengalaman menciptakan usaha dan membuka peluang kerja.
Kebijakan itu menjadi bagian dari strategi Universitas Ciputra memasuki usia 20 tahun. Kampus mengintegrasikan kewirausahaan ke dalam pembelajaran lintas program studi dan mendorong mahasiswa mengembangkan bisnis yang dapat dijalankan secara nyata.
Board of Executive Director Yayasan Ciputra Pendidikan, Prof. Denny Bernardus, mengatakan pembelajaran di Universitas Ciputra sejak awal diarahkan pada kolaborasi lintas disiplin dan penciptaan peluang kerja.
“Kami prihatin dengan adanya satu juta pengangguran terdidik. Sejak awal, Universitas Ciputra menekankan penciptaan lapangan kerja bagi alumni melalui pembelajaran kolaboratif,” ujar Denny, Rabu (23/9/2026).
Mahasiswa dari berbagai jurusan dibekali mata kuliah kewirausahaan dan didorong memiliki usaha selama menjalani pendidikan. Usaha yang dikembangkan mahasiswa juga diarahkan untuk memiliki legalitas, termasuk dalam bentuk CV maupun PT.
“Usaha mereka mungkin kecil, tetapi mampu membantu rekan lain yang membutuhkan pekerjaan. Pembelajaran kami perkuat pada penciptaan peluang kerja,” katanya.
Pendekatan tersebut diterapkan melalui sejumlah aspek yang dirangkum dalam pilar S.E.E.R.I., yakni Student Intake, Entrepreneurship, Employability, Reputation, dan Impact.
Pada aspek kesiapan memasuki dunia kerja, Universitas Ciputra memanfaatkan jaringan bisnis Grup Ciputra sebagai salah satu jalur magang mahasiswa. Program tersebut dirancang agar mahasiswa memperoleh pengalaman bekerja di lingkungan industri sebelum menyelesaikan pendidikan.
“Magang menjadi pintu gerbang penting. Kami memanfaatkan jaringan bisnis internal agar adik-adik bisa magang dengan benar dan dipinang perusahaan sebelum lulus,” ujar Denny.
Rektor Universitas Ciputra Surabaya Prof. Wirawan E.D. Radianto mengatakan keterlibatan industri juga diperkuat melalui kehadiran praktisi dan pimpinan perusahaan dalam proses pembelajaran.
Menurut dia, tugas akhir mahasiswa tidak selalu berbentuk karya akademik konvensional, tetapi dapat dikembangkan menjadi proyek bisnis yang dikerjakan berdasarkan persoalan dan kebutuhan pasar.
“Kami terus membuka inovasi. Karakter dan keilmuan mahasiswa didesain dekat dengan industri, bahkan alumni banyak kembali untuk berkonsultasi dengan dosen,” kata Wirawan.
Data internal yang disampaikan Universitas Ciputra menunjukkan, survei terhadap lulusan 2025 mencatat sekitar 60 persen alumni memilih jalur kewirausahaan. Sementara lulusan lainnya berkarier sebagai profesional atau melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.
“Tiga dari lima lulusan kami menjadi wirausahawan. Sisanya melanjutkan studi atau menjadi profesional di berbagai sektor,” ujar Wirawan.
Model pendidikan kewirausahaan tersebut juga tercermin dalam program Universitas Ciputra yang mewajibkan mahasiswa mengikuti pembelajaran entrepreneurship. Data resmi Universitas Ciputra mencatat 355 entrepreneur lulus pada 2025 dan bisnis alumni telah membuka lebih dari 10.000 lapangan pekerjaan.
Pada sisi lain, Universitas Ciputra tetap menyediakan pendampingan bagi lulusan yang belum langsung bekerja maupun melanjutkan usaha. Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya kampus menjaga hubungan dengan alumni sekaligus membantu mereka mengembangkan karier dan bisnis setelah lulus.
Pola pendidikan berbasis praktik bisnis juga telah diterapkan dalam tugas akhir. Pada wisuda 2025, Universitas Ciputra menyebut mahasiswa didorong membangun bisnis riil dan menggunakan proyek bisnis sebagai bagian dari penyelesaian studi.