Surabaya, MEMANGGIL.CO - Pameran Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa 2026 menjadi panggung pembuktian bagi Yusuf Indonesia. Brand busana muslim pria asal Banten itu mampu menjual hampir seluruh stok yang dibawa pada keikutsertaan perdananya di ajang ekonomi syariah tersebut.
Bukan sekadar menawarkan pakaian muslim pria, Yusuf Indonesia membawa identitas budaya melalui penggunaan unsur tenun Baduy dalam produk yang dipamerkan. Konsep tersebut ternyata mendapat respons positif dari pengunjung selama pameran berlangsung di Surabaya.
Founder sekaligus pemilik Yusuf Indonesia, Yogi, mengatakan sekitar 70 potong pakaian dibawa untuk mengikuti FESyar Jawa 2026. Namun, hingga hari terakhir pameran, stok yang tersisa hanya sekitar enam sampai tujuh potong.
“Ini tahun pertama kami mengikuti Fesyar. Kami baru menyadari ternyata minat pengunjung terhadap busana muslim pria sangat tinggi dan pergerakan penjualannya cepat sekali,” kata Yogi saat ditemui Memanggil.co di area pameran, Minggu (27/9/2026).
Tingginya penjualan tersebut menjadi catatan tersendiri bagi Yusuf Indonesia karena FESyar Jawa 2026 merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti event tersebut. Perkiraan awal mengenai jumlah produk yang dibutuhkan ternyata berbeda dengan respons pasar yang mereka temui langsung di lokasi.
Bagi Yogi, pengalaman tersebut sekaligus memberikan gambaran mengenai karakter konsumen ketika produk busana muslim dipadukan dengan unsur budaya tradisional. Tenun Baduy menjadi salah satu elemen yang membedakan produk Yusuf Indonesia dari busana muslim pria pada umumnya.
Respons pengunjung juga membuat pelaku usaha tersebut mempertimbangkan strategi berbeda apabila kembali mengikuti pameran serupa. Salah satunya dengan menambah jumlah stok agar peluang transaksi yang lebih besar dapat diakomodasi.
Yusuf Indonesia tidak hanya membawa produk untuk mengejar penjualan langsung. Keikutsertaan dalam FESyar juga menjadi kesempatan memperkenalkan identitas produk asal Banten kepada konsumen dari berbagai daerah yang datang ke Surabaya.
FESyar Jawa 2026 sendiri memang menyediakan showcase produk UMKM sebagai salah satu agenda utama. Bank Indonesia menyebut showcase tersebut menjadi media promosi bagi produk UMKM dengan beragam karakter, termasuk produk halal, lokal, youth, green, woman, digital hingga berorientasi ekspor.
Dengan konsep tersebut, pameran tidak hanya mempertemukan penjual dengan pembeli, tetapi juga membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas jejaring bisnis. FESyar juga menyediakan agenda business matching yang mempertemukan UMKM dengan lembaga pembiayaan maupun calon mitra perdagangan.
Dampaknya terlihat dari partisipasi pelaku usaha pada FESyar Jawa 2026. Bank Indonesia mencatat sebanyak 270 UMKM syariah terlibat dalam penyelenggaraan tahun ini, meningkat dibandingkan 203 UMKM pada tahun sebelumnya.
Selain itu, business matching pembiayaan mencatat komitmen sebesar Rp37,6 miliar, sedangkan transaksi perdagangan mencapai Rp43,26 miliar. Jumlah pengunjung selama rangkaian kegiatan juga tercatat lebih dari 26.000 orang.
Bagi Yogi, capaian tersebut menunjukkan pentingnya ruang promosi yang mempertemukan produk lokal dengan pasar secara langsung. Ia berharap FESyar dapat terus berkembang sehingga semakin banyak pelaku UMKM berbasis budaya memiliki kesempatan memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.
“Kami berharap Fesyar makin meriah ke depannya agar dapat merangkul lebih banyak UMKM. Dengan begitu, dampak positifnya akan terasa langsung terhadap penguatan perekonomian daerah,” pungkas Yogi.
FESyar Jawa 2026 berlangsung pada 25–27 September 2026 di Surabaya dan menjadi bagian dari rangkaian menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026. Tahun ini, penyelenggara mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital.”
Kisah Yusuf Indonesia menunjukkan bahwa produk berbasis budaya lokal tidak hanya memiliki nilai identitas, tetapi juga berpeluang menemukan pasar ketika dikemas dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Tenun Baduy yang dipadukan dengan busana muslim pria menjadi salah satu contoh bagaimana unsur tradisional dapat hadir dalam produk fesyen kontemporer.