Guru Besar Teknik Kimia Ubaya Prof. Putu Doddy Masuk Top 5% Peneliti Dunia 2025

Reporter : Saputra
Guru Besar Ubaya, Prof. Putu yang masuk jajaran top 5% peneliti dunia. (Saputra/Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO – Guru besar Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Surabaya (FT Ubaya) Prof. Putu Doddy Sutrisna, Ph.D., masuk jajaran World’s Top 5% Scientists in the 2025 versi Scirank Global Registry. 

Ia menjadi salah satu peneliti teratas dunia berkat ratusan publikasi ilmiah, sebagian besar terindeks Scopus.

Prof. Putu Doddy menjabat Kepala Laboratorium Satuan Operasi dan Teknologi Proses Kimia FT Ubaya. Ia mengajar di Ubaya sejak Tahun 2000 dan menempuh studi S3 di UNESCO Centre for Membrane Science and Technology, UNSW, Australia.

Fokus penelitiannya membrane technology, metode penyaringan dan pemisahan senyawa kimia berupa gas maupun cairan. Salah satu inovasinya teknik sintesis membran filter polimer untuk pemisahan gas dan cairan. 

Dibanding teknologi filter konvensional, membran temuannya lebih elastis, tipis, tidak mudah pecah, daya rekat baik, dan mampu memilah molekul berdasarkan ukuran.

Saat ini ia mendalami penerapan teknologi penyaringan untuk mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK) dan perubahan iklim. 

Ia juga mendampingi industri dalam pengaplikasian membran untuk penyaringan serta pemurnian limbah. 

Riset lain yang dikaji adalah penyaringan mikro dan nanoplastik yang berperan dalam degradasi air dan makhluk hidup.

Prof. Putu menyebut status dosen menjadi dorongan menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. 

"Saya harus mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang salah satunya adalah penelitian. Semakin banyak penelitian yang saya lakukan, keinginan untuk meraih gelar akademik yang lebih tinggi juga semakin kuat," jelasnya. 

Ia menegaskan capaian top 5% dunia membuktikan kualitas dan kredibilitas peneliti nasional, khususnya dari Perguruan Tinggi Swasta, di tingkat global.

Prof. Putu juga menyoroti minimnya hilirisasi riset di Indonesia. 

"Masih belum banyak hasil penelitian yang berhasil dihilirisasi di Indonesia. Padahal, apabila ada sinergi yang baik, capaian riset dari perguruan tinggi dapat dimanfaatkan oleh industri. Tentunya, melalui dukungan yang maksimal dari pemerintah," ungkapnya. 

Ia berharap penelitian pemisahan gas yang masih asing di Indonesia bisa mendapat dukungan industri dan pemerintah, seperti di negara maju. 

"Dengan sinergi itu, hasil riset perguruan tinggi dapat dimanfaatkan industri untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik," pungkasnya.

Editor : B. Wibowo

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru