Muktamar Petani Nahdliyin Digelar di Semarang, Gus Arief Bidik 295 Hektare Lahan Organik di Blora

Reporter : Redaksi
Gus Arief ketika menunjukkan beras organik produksi petani NU Blora. (Istimewa)

Blora, MEMANGGIL.CO - Pengembangan pertanian organik menjadi salah satu agenda yang didorong Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, yang akrab disapa Gus Arief, dalam Muktamar Petani Nahdliyyin di Pondok Pesantren Al-Itqon, Desa Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (10/8/2026).

Di hadapan jaringan petani Nahdliyin dan pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) Nahdlatul Ulama dari sejumlah daerah, Gus Arief memaparkan potensi pertanian Blora sekaligus langkah pemerintah daerah dalam mendorong pertanian organik sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani.

Baca juga: Truk Bermuatan Tebu Terguling di Jalan Blora-Cepu, Begini Kata Polisi

Gagasan tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi pertanian, tetapi juga bagaimana petani memiliki posisi lebih kuat dalam rantai ekonomi, mulai dari penyediaan lahan, budidaya, pengolahan hasil, pengemasan hingga pemasaran.

Dalam forum tersebut, Gus Arief menyampaikan target agar pengembangan pertanian organik dapat masuk ke tingkat desa dan kelurahan di Kabupaten Blora. Ia mendorong setiap desa menyediakan sedikitnya satu hektare lahan bengkok untuk dijadikan lahan percontohan pertanian organik.

Dengan jumlah 295 desa/kelurahan, skema tersebut berpotensi menghasilkan sekitar 295 hektare lahan pertanian organik apabila dapat diterapkan secara menyeluruh. Target itu menjadi salah satu gagasan utama Gus Arief dalam forum yang menjadi ruang konsolidasi petani Nahdliyin tersebut.

Potensi Pertanian Blora dan Target 295 Hektare

Gus Arief mengatakan Kabupaten Blora memiliki basis pertanian yang kuat dan menjadi salah satu daerah penting dalam produksi pangan di Jawa Tengah.

Menurutnya, peningkatan produksi pertanian Blora dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai salah satu lumbung pangan.

Gus Arief menyebut produksi Gabah Kering Giling (GKG) Kabupaten Blora pada 2025 mencapai 530.818 ton. Angka tersebut meningkat 106.407 ton atau sekitar 25,07 persen dibandingkan produksi GKG pada 2024 yang mencapai 424.411 ton.

"Produksi Gabah Kering Giling (GKG) Kabupaten Blora pada tahun 2025 mencapai 530.818 ton, meningkat 106.407 ton atau 25,07 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 424.411 ton," ujar Gus Arief.

Kenaikan produksi tersebut juga diikuti peningkatan produktivitas padi. Pada 2025, produktivitas padi Kabupaten Blora mencapai 50,98 kuintal per hektare atau meningkat 0,96 kuintal per hektare, sekitar 1,92 persen dibandingkan 2024.

Produksi beras juga mengalami peningkatan. Gus Arief menyebut produksi beras Kabupaten Blora pada 2025 mencapai sekitar 305.252 ton. Jumlah tersebut meningkat sekitar 61.190 ton atau 25,07 persen dibandingkan produksi 2024 yang berada di angka sekitar 244.062 ton.

"Sejalan dengan peningkatan produksi gabah, produksi beras Kabupaten Blora pada tahun 2025 juga mengalami peningkatan signifikan menjadi sekitar 305.252 ton. Jumlah tersebut naik 61.190 ton atau 25,07 persen dibandingkan produksi beras tahun 2024 yang mencapai sekitar 244.062 ton," imbuhnya.

Menurut Gus Arief, capaian tersebut harus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas dan keberlanjutan sektor pertanian Blora. Karena itu, pemerintah daerah tidak ingin pengembangan pertanian hanya berorientasi pada peningkatan jumlah produksi. 

Sistem pertanian yang menjaga kualitas tanah, kesehatan konsumen dan keberlangsungan usaha petani juga harus mulai diperkuat. Salah satu yang didorong adalah pertanian organik.

"Pertanian organik merupakan solusi masa depan yang tidak hanya menjaga kesehatan konsumen, tetapi juga memperbaiki kualitas tanah dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia berbahaya," kata Gus Arief.

Gagasan tersebut kemudian diarahkan masuk ke tingkat desa. Pemkab Blora mendorong setiap desa menyediakan minimal satu hektare lahan bengkok sebagai lokasi uji coba atau percontohan pertanian organik.

"Jika satu desa bisa menyediakan 1 hektare, tentunya di Blora ini ada 295 desa/kelurahan yang bisa ada juga 295 hektare pertanian organik," ujarnya.

Menurut Gus Arief, lahan tersebut nantinya tidak sekadar menjadi lokasi produksi. Lahan percontohan diharapkan menjadi tempat belajar bagi petani, kader NU, kelompok tani dan masyarakat untuk melihat secara langsung penerapan sistem pertanian organik.

Dengan pola tersebut, pengembangan pertanian organik diharapkan dapat tumbuh dari desa dan kemudian berkembang menjadi gerakan pertanian yang lebih luas di Kabupaten Blora.

Gus Arief juga menegaskan bahwa pengembangan pertanian organik membutuhkan kolaborasi banyak pihak.

Pemerintah daerah, petani, organisasi NU, koperasi, dunia usaha hingga lembaga pendamping harus memiliki peran masing-masing agar program tidak berhenti pada tahap pencanangan.

Ia juga terus melakukan penjajakan kerja sama dengan sejumlah BUMN, termasuk Pertamina, untuk mendukung pendampingan dan pembinaan petani.

"Kami ingin Blora menjadi salah satu sentra pertanian organik di Jawa Tengah," tegas Gus Arief.

Langkah penguatan kerja sama dengan NU sebelumnya telah ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau MoU antara Pemkab Blora dan PCNU Blora pada Selasa (15/7/2025) di Gedung PWNU Jawa Tengah.

MoU tersebut ditandatangani Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, M.Si. bersama Ketua PCNU Blora HM. Fatah. 

Penandatanganan disaksikan Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh dan Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghofar Rozin, bersama jajaran kepala dinas, camat serta Ketua MWC NU dari seluruh kecamatan di Kabupaten Blora.

Kerja sama tersebut menjadi salah satu pijakan untuk memperkuat keterlibatan NU dalam pengembangan pertanian organik di tingkat masyarakat.

Baca juga: Dua Motor Bertabrakan Saat Hendak Menyeberang di Blora-Cepu, Polisi Keluarkan Imbauan

Muktamar Petani NU Dorong Kemandirian

Muktamar Petani Nahdliyyin di Semarang menjadi ruang konsolidasi jaringan petani NU dari berbagai daerah. Kegiatan tersebut digelar oleh LPP PBNU bersama LPP NU dan jaringan petani Nahdliyin melalui kerja sama dengan Tim Koordinasi dan Akselerasi (TKA) PBNU serta Pesantren Al-Itqon Semarang.

Jaringan LPP NU dari sejumlah wilayah turut terlibat, di antaranya Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat dan Banten.

Forum tersebut menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju Muktamar ke-35 NU sekaligus ruang untuk membicarakan persoalan sektor pertanian yang selama ini menjadi salah satu basis mata pencaharian warga Nahdliyin.

Bagi Gus Arief, keterlibatan NU dalam sektor pertanian memiliki arti strategis karena organisasi tersebut memiliki jaringan hingga tingkat desa.

Kader NU yang bergerak sebagai petani diharapkan tidak hanya menjadi penerima program, tetapi mampu menjadi penggerak pertanian organik di lingkungan masing-masing.

"Kami ingin NU, khususnya LPPNU, terus menggerakkan semangat petani organik di setiap desa. Blora harus menjadi kabupaten percontohan di bidang pertanian organik," tegas Gus Arief.

Upaya tersebut mulai diarahkan tidak hanya pada sektor budidaya, tetapi juga pengolahan hasil pertanian. Dalam Muktamar Petani Nahdliyyin, Gus Arief membawa contoh produk Beras Organik Sehati dari Kabupaten Blora.

Produk tersebut dikembangkan melalui Rumah Produksi dan Packing Beras Organik SEHATI yang berlokasi di Dukuh Denguk, Desa Andongrejo, Kecamatan Blora.

Rumah produksi tersebut mendapat dukungan melalui CSR Bank Jateng berupa mesin oven, rice milling dan mesin packing. Pengelolaannya dilakukan oleh Koperasi PCNU Berkah Jagat Nusantara.

Kehadiran produk tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pertanian organik di Blora mulai diarahkan ke konsep yang lebih lengkap.

Petani tidak hanya didorong menghasilkan gabah, tetapi juga memiliki kesempatan memperoleh nilai tambah melalui proses pengolahan, pengemasan dan pemasaran.

Model tersebut diharapkan dapat memperkuat kelembagaan ekonomi petani sekaligus membuka pasar bagi produk pertanian organik dari Blora.

Sementara itu, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh mengatakan Muktamar Petani Nahdliyyin lahir dari kegelisahan terhadap kondisi petani, khususnya warga NU yang menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian.

Baca juga: Buntut Balap Liar di Jalan Nasional Blora-Cepu, Motor Bisa Diambil di Mapolsek Jepon dengan Ketentuan Berikut

Menurutnya, forum tersebut bukan ditujukan sebagai gerakan perlawanan maupun tandingan terhadap pihak tertentu.

Muktamar Petani Nahdliyyin justru diharapkan menjadi wadah bagi petani NU untuk berkumpul, menyampaikan aspirasi dan membangun kemandirian.

"Kegiatan ini adalah kegelisahan kita semua yang ada di Jawa Tengah dan lainnya. Muktamar petani ini lisensi Jawa Tengah, bukan berarti untuk menunjukkan perlawanan atau tandingan. Merupakan wadah petani-petani jamiyah NU yang berdaulat dan merdeka," ujar KH Ubaidullah.

Menurut Gus Arief, pertanian organik pada akhirnya harus memberikan manfaat langsung kepada petani dan masyarakat.

Ia tidak ingin petani hanya menjadi produsen bahan mentah, sementara keuntungan terbesar dari produk pertanian justru dinikmati pada tahapan setelah panen.

Karena itu, rantai produksi hingga pemasaran menjadi bagian penting dalam pengembangan pertanian organik.

"Ke depan, kami berharap kader NU sebagai petani binaan dapat menjadi bagian penting dalam menggerakkan pertanian organik di Kabupaten Blora. Tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelopor, penggerak, dan teladan bagi masyarakat dalam menerapkan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan," ujar Gus Arief.

Target 295 hektare lahan organik di Blora kini menjadi tantangan lanjutan bagi pemerintah daerah bersama NU.

Realisasinya tidak cukup hanya dengan menyediakan lahan. Diperlukan pendampingan petani, ketersediaan sarana produksi, kepastian kualitas hasil, kelembagaan yang kuat serta akses pasar.

Jika seluruh mata rantai tersebut dapat dibangun, pengembangan pertanian organik berpotensi tidak hanya memperbaiki kualitas lingkungan dan pangan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi petani Blora.

Bagi Gus Arief, pertanian organik merupakan bagian dari ikhtiar jangka panjang untuk menjaga tanah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Pertanian organik bukan sekadar cara bertani, tetapi ikhtiar bersama untuk menjaga tanah, meningkatkan kesejahteraan petani, dan menghadirkan pangan yang sehat bagi masyarakat," pungkasnya.

 

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru