Edisi Muktamar ke-35 NU

Gus Fahim Blora Respons Hasil Muktamar ke-35 NU, Titip Pesan untuk Rais Aam dan Ketum PBNU Terpilih

Reporter : Redaksi
H Ahmad Fahim Mulabby atau Gus Fahim. (Foto: Dok. Pribadi/Memanggil.co)

Blora, MEMANGGIL.CO - Pengasuh Pondok Pesantren Khozinatul Ulum 3 Blora, H Ahmad Fahim Mulabby atau Gus Fahim, memberikan respons terhadap hasil Muktamar ke-35 NU yang telah menetapkan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031. Ia mengajak seluruh warga Nahdliyin menghormati keputusan yang telah dihasilkan melalui mekanisme Muktamar NU.

Gus Fahim yang juga merupakan Anggota DPRD Kabupaten Blora turut hadir dalam rangkaian kegiatan Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur. Setelah seluruh proses pemilihan kepemimpinan PBNU selesai, ia menilai keputusan muktamar perlu diterima dengan sikap dewasa demi menjaga persatuan organisasi.

Baca juga: Bupati Blora Dorong Revitalisasi Pasar Plaza Cepu, Beras Organik Dibidik Tembus Pasar Nasional

Menurut Gus Fahim, siapa pun sosok yang telah mendapatkan mandat dari Muktamar ke-35 NU harus didukung untuk menjalankan amanah kepemimpinan. Ia berharap Rais Aam dan Ketua Umum PBNU terpilih mampu menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas bagi masyarakat.

“Takdzim Muktamar NU yang ke-35. Siapa pun yang terpilih bisa membawa kemaslahatan kepada umat, bangsa dan negara, khususnya kepada warga Nahdliyin,” ujar Gus Fahim saat diwawancarai singkat, ditulis Senin (31/8/2026).

Saat ini, Muktamar ke-35 NU telah menghasilkan kepemimpinan baru untuk periode 2026-2031. KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam PBNU, sedangkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU.

Gus Fahim menilai pergantian kepemimpinan dalam organisasi merupakan bagian dari dinamika yang harus diterima bersama. Baginya, keputusan yang telah diambil melalui forum Muktamar merupakan hasil yang perlu dihormati oleh seluruh elemen Nahdlatul Ulama.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga ukhuwah setelah seluruh tahapan Muktamar ke-35 NU berakhir. Perbedaan pandangan atau pilihan selama proses muktamar, menurutnya, tidak seharusnya berkembang menjadi perpecahan di tubuh organisasi.

“Memperkuat ukhuwah, persatuan,” tegas Gus Fahim.

Pesan tersebut menjadi penting karena Muktamar merupakan forum besar yang mempertemukan berbagai unsur NU dari seluruh Indonesia. Setelah proses pemilihan selesai, seluruh elemen organisasi memiliki tanggung jawab yang sama untuk kembali memperkuat kebersamaan.

Gus Fahim juga meminta warga Nahdliyin memberikan ruang kepada kepemimpinan baru untuk menjalankan mandatnya. Ia menyerahkan sepenuhnya hasil akhir kepada keputusan para muktamirin yang telah mengikuti seluruh rangkaian forum.

“Monggo lah, itu keputusan muktamirin. Itu yang penting yang terbaik,” kata Gus Fahim.

Menurutnya, keputusan yang dihasilkan dalam Muktamar ke-35 NU harus dipandang sebagai keputusan organisasi, bukan semata-mata kemenangan kelompok atau individu tertentu.

Karena itu, setelah Rais Aam dan Ketua Umum PBNU terpilih, seluruh warga NU diharapkan kembali bersatu dalam menjalankan agenda organisasi.

Baca juga: Warga Klokah Blora Krisis Air Bersih, Kejati Jateng Kirim 20 Tangki Bantuan

Muktamar ke-35 NU sendiri berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Forum tersebut menjadi momentum penting karena selain membahas berbagai agenda organisasi, Muktamar juga menentukan kepemimpinan PBNU untuk masa khidmah lima tahun mendatang.

KH Miftachul Akhyar kembali memperoleh mandat sebagai Rais Aam PBNU melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Sementara KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU setelah sembilan anggota AHWA bermusyawarah menentukan pemimpin Tanfidziyah.

Terpilihnya dua tokoh tersebut sekaligus menandai berakhirnya dinamika perebutan kepemimpinan PBNU dalam Muktamar ke-35 NU. Tahapan berikutnya adalah konsolidasi dan menjalankan berbagai keputusan yang telah dihasilkan dalam forum tertinggi organisasi tersebut.

Dalam konteks itu, Gus Fahim mengingatkan bahwa kepemimpinan baru membutuhkan dukungan seluruh warga NU. Dukungan tersebut bukan hanya dalam bentuk penerimaan terhadap hasil muktamar, tetapi juga menjaga persatuan dan ukhuwah di tengah masyarakat.

Harapan terhadap kepemimpinan baru juga tidak hanya menyangkut kepentingan internal organisasi. Gus Fahim secara khusus menekankan agar kepemimpinan PBNU ke depan dapat memberikan kemaslahatan bagi umat, bangsa dan negara.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa NU diharapkan terus mengambil peran dalam kehidupan kebangsaan. Dengan jaringan pesantren, lembaga pendidikan, badan otonom dan struktur organisasi yang luas, NU memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Baca juga: 141 Orang Mengeluh Usai Santap MBG SPPG Sukorejo 2 Blora, Dinkesda Temukan Masalah di Dapur

Bagi Gus Fahim, selesainya Muktamar bukan berarti berakhirnya tanggung jawab warga Nahdliyin. Justru setelah keputusan diambil, seluruh elemen NU memiliki pekerjaan bersama untuk memperkuat persatuan dan memastikan mandat organisasi dapat dijalankan dengan baik.

Karena itu, ia memilih untuk menghormati keputusan Muktamar ke-35 NU tanpa memperpanjang dinamika yang telah berlangsung selama proses pemilihan. Sikap tersebut sekaligus menjadi ajakan agar seluruh warga Nahdliyin kembali menempatkan ukhuwah sebagai kepentingan bersama.

Gus Fahim berharap Rais Aam dan Ketua Umum PBNU terpilih mampu menjalankan amanah dengan baik. Kepemimpinan baru juga diharapkan mampu membawa NU semakin memberikan manfaat bagi warga Nahdliyin sekaligus berkontribusi bagi bangsa dan negara.

“Siapa pun yang terpilih bisa membawa kemaslahatan kepada umat, bangsa dan negara, khususnya kepada warga Nahdliyin,” ulang Gus Fahim.

Dengan terpilihnya KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU, babak baru kepemimpinan NU resmi dimulai.

Bagi Gus Fahim, yang terpenting bukan lagi siapa yang menang dalam proses pemilihan, melainkan bagaimana keputusan Muktamar ke-35 NU mampu menjadi jalan untuk memperkuat ukhuwah, persatuan dan kemaslahatan bagi umat, bangsa serta negara.

Editor : Ahmad Adirin

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru