Blora, MEMANGGIL.CO - Sebanyak 141 orang dari tiga lembaga pendidikan di Kabupaten Blora dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menerima makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan.

Data tersebut disampaikan Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Blora setelah melakukan pemeriksaan dan penelusuran pada Selasa (8/9/2026).

Kepala Sub Koordinator Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga Dinkesda Blora, Tutik Rahayu, mengatakan keluhan paling banyak berasal dari SMAN 1 Tunjungan.

"SMAN 1 Tunjungan 137 orang," ujar Tutik.

Dari jumlah tersebut, seorang di antaranya merupakan guru. Sementara siswa yang hadir di sekolah dan mengalami keluhan tercatat sebanyak 133 orang, sedangkan tiga siswa lainnya tidak masuk sekolah.

Selain SMAN 1 Tunjungan, keluhan juga dilaporkan dari penerima MBG di SMP Al-Banjari dan SD IT.

"Al-Banjari tiga siswa, SD IT satu orang," katanya.

Dengan demikian, total penerima yang dilaporkan mengalami keluhan mencapai 141 orang.

Sejumlah gejala yang muncul antara lain sakit perut, diare, pusing dan mual.

Keluhan tersebut muncul setelah makanan MBG dikonsumsi pada Senin (7/9/2026). Setelah siswa pulang, sejumlah penerima mulai mengalami gangguan kesehatan.

Pada Selasa (8/9/2026), kondisi tersebut menjadi perhatian setelah jumlah penerima yang mengeluhkan gejala bertambah.

Sebagai langkah antisipasi, SMAN 1 Tunjungan tidak membagikan makanan MBG pada Selasa.

Di tengah penelusuran terhadap keluhan tersebut, Dinkesda Blora melakukan inspeksi ke dapur SPPG Sukorejo 2.

Hasil pemeriksaan menemukan sejumlah catatan terkait pengelolaan dan penyimpanan bahan pangan.

Salah satu temuan yang cukup mencolok adalah tempe yang diletakkan tepat di depan toilet dapur.

Kepala Sub Koordinator Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga Dinkesda Blora, Tutik Rahayu, menilai penempatan tersebut tidak semestinya.

"Kalau di depan kamar mandi enggak boleh," tegas Tutik.

Bahan makanan, kata dia, harus ditempatkan pada ruang penyimpanan tersendiri.

"Harus ada tempatnya sendiri," ujarnya.

Ketika ditanya mengenai potensi kontaminasi bakteri akibat bahan makanan diletakkan di depan toilet, Tutik menjawab singkat.

"Iya," katanya.

Dia menyebut kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kontaminasi bakteri.

"Berpotensi bakteri," ujarnya.

Petugas juga menemukan penyimpanan daging yang dinilai belum sesuai. Secara umum, Dinkesda mencatat masih terdapat berbagai aspek di dapur yang harus dibenahi.

"Masih banyak perbaikan," kata Tutik.

Dalam pemeriksaan tersebut, Dinkesda juga menemukan minyak goreng curah.

Namun, Tutik menjelaskan bahwa persoalan tersebut bukan merupakan temuan dari sisi kesehatan.

"BGN tidak menganjurkan," ujarnya.

Bahan pangan yang digunakan dalam penyediaan MBG, menurut dia, harus memenuhi standar kualitas yang telah ditentukan.

"Harus standar atau premium," katanya.

Meski terdapat sejumlah temuan di dapur SPPG Sukorejo 2, Dinkesda belum menyimpulkan bahwa keluhan kesehatan 141 penerima MBG tersebut disebabkan oleh makanan yang disediakan SPPG.

Penetapan penyebab membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Pemeriksaan medis serta laboratorium diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat keterkaitan antara makanan yang dikonsumsi dengan keluhan yang dialami para penerima.

Karena itu, temuan terkait kebersihan dan penyimpanan bahan pangan di dapur SPPG Sukorejo 2 menjadi bagian dari evaluasi, sementara penyebab pasti gangguan kesehatan masih menunggu hasil pemeriksaan.