Kecelakaan Blora

4 Fakta Galian Fiber Optik di Blora Minta Tumbal, dari Pekerja Ditabrak Mobil Box hingga Pengendara Nyungsep

Reporter : Redaksi
Kepolisian ketika mendatangi salah satu TKP korban tumbal proyek galian Fiber Optik di Blora. (Istimewa)

Blora, MEMANGGIL.CO - Proyek galian fiber optik di sepanjang ruas Jalan Raya Nasional Blora-Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menjadi sorotan setelah sejumlah insiden kecelakaan dan kejadian membahayakan pengguna jalan terjadi di sekitar lokasi pekerjaan.

Bukan hanya pengguna jalan, salah satu insiden bahkan menimpa pekerja proyek galian itu sendiri. Dalam rentang beberapa hari, sedikitnya terdapat empat kejadian yang berkaitan dengan keberadaan galian, material, maupun kondisi pekerjaan fiber optik di tepi jalan nasional tersebut.

Baca juga: Warga Tuban Resah Bau Menyengat, PT IMB Kini Dihadapkan Persoalan Kecelakaan Kerja

Rangkaian kejadian itu mulai dari seorang pekerja galian yang terserempet mobil box roti, kendaraan berat yang terperosok ke area galian, seorang ibu rumah tangga yang mengalami kecelakaan tunggal setelah rombongnya tersangkut gundukan tanah, hingga seorang karyawan meubeler yang mengalami luka pada wajah dan tangan setelah terjatuh di lokasi galian.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta sistem pengamanan proyek di lapangan, terutama karena pekerjaan berlangsung di kawasan yang berdekatan langsung dengan jalur lalu lintas nasional dengan mobilitas kendaraan cukup tinggi.

Berikut empat fakta mengenai rangkaian kejadian tersebut:

1. Pekerja Galian Fiber Optik Diserempet Mobil Box

Insiden pertama menimpa seorang pekerja galian fiber optik sendiri pada Minggu, 23 Agustus 2026 siang.

Pekerja yang belum diketahui nama dan identitasnya tersebut diketahui mengalami insiden setelah diduga terserempet sebuah mobil box pengangkut roti ketika berada di sekitar lokasi pekerjaan, tepatnya di dekat Kringso Alugoro 410 Blora.

Belum diketahui secara pasti bagaimana kronologi kecelakaan tersebut terjadi. Saat awak media mengetahui kejadian, lokasi sudah dikerubungi sejumlah orang sehingga informasi mengenai posisi pekerja, kendaraan, maupun detik-detik terjadinya benturan belum dapat dipastikan.

Namun, kondisi pekerja saat itu cukup memprihatinkan. Wajahnya terlihat berlumuran darah, meski korban masih dalam kondisi sadar dan mampu berjalan.

Sejumlah pekerja lainnya kemudian terlihat membantu korban untuk mendapatkan pengobatan. Korban dibawa meninggalkan lokasi untuk mendapatkan penanganan medis.

Hingga kini, detail mengenai identitas pekerja, kondisi kendaraan yang terlibat, termasuk apakah kejadian tersebut telah masuk dalam penanganan kepolisian, belum diketahui secara pasti.

Peristiwa ini menjadi catatan tersendiri karena korban bukan pengguna jalan yang kebetulan melintas di sekitar proyek, melainkan pekerja yang berada di area pekerjaan galian.

2. Truk Terperosok ke Galian, Videonya Viral

Belum selesai persoalan keselamatan di lokasi pekerjaan, insiden berikutnya terjadi pada Jumat (28/8/2026) malam.

Sebuah kendaraan berupa truk dilaporkan terperosok ke area galian fiber optik yang berada di pinggir Jalan Raya Nasional Blora-Cepu, tepatnya sekitar KM 08, deretan ruko wilayah Ngawen-Jepon.

Peristiwa tersebut terekam dalam video dan kemudian beredar luas di media sosial hingga menjadi perhatian publik.

Dalam video yang beredar, kendaraan tampak mengalami masalah setelah masuk atau terperosok pada bagian galian yang berada di sisi jalan.

Belum diketahui secara persis kronologi kendaraan tersebut sampai terperosok ke lokasi galian, termasuk identitas pemilik maupun pengemudinya.

Begitu pula dengan status penanganan perkara tersebut. Sampai informasi ini dihimpun, belum ada keterangan resmi dari kepolisian yang mengungkap apakah insiden kendaraan terperosok itu telah tercatat sebagai laporan kecelakaan lalu lintas atau belum.

Polisi juga belum mengabarkan secara terbuka kendaraan milik siapa yang terperosok maupun bagaimana kondisi pengemudi dan penumpang setelah kejadian.

Kejadian tersebut menjadi perhatian karena area pekerjaan berada persis di sisi jalan yang setiap hari dilalui berbagai jenis kendaraan, mulai sepeda motor, mobil pribadi, kendaraan barang hingga truk.

3. IRT Terjatuh Setelah Rombong Tersangkut Gundukan Tanah

Insiden ketiga menjadi kejadian yang telah tercatat secara resmi dalam penanganan kepolisian.

Korban merupakan seorang ibu rumah tangga berinisial M (43), warga Desa Brumbung, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang.

Pada Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 23.15 WIB, korban mengendarai sepeda motor Honda Supra X dengan nomor polisi K 4366 BCE untuk berbelanja atau kulakan.

Korban melaju dari arah timur menuju barat di Jalan Raya Nasional Blora-Cepu.

Namun ketika sampai di lokasi kejadian yang masuk wilayah Desa Jejeruk, Kecamatan Blora Kota, Kabupaten Blora, kendaraan korban mengalami kecelakaan tunggal.

Kanit Gakkum Satlantas Polres Blora, Ipda Bayu Destya, membenarkan adanya kejadian tersebut.

“Tepatnya ikut wilayah Desa Jejeruk Kecamatan Blora Kota, Kabupaten Blora,” terang Ipda Bayu.

Baca juga: Sepekan Lebih Tanpa Solusi, Polemik 13 Pekerja Lokal PLN Nusantara Power Masuk Meja DPRD Tuban

Menurut keterangan kepolisian, kecelakaan tersebut terjadi setelah keranjang atau rombong yang digunakan korban untuk membawa barang tersangkut gundukan tanah di tepi jalan.

“Sesampainya di TKP ikut wilayah Desa Jejeruk Kecamatan Blora Kota, Kabupaten Blora, keranjang (rombong) tersangkut oleh gundukan tanah yang berada di tepi jalan yang akhirnya mengalami oleng dan terjadi kecelakaan lalu lintas tunggal,” jelasnya.

Akibat kecelakaan tersebut, M mengalami sejumlah luka.

“Mengalami luka tangan kanan (patah), hematum kepala belakang, (kondisi) sadar,” kata Ipda Bayu.

Karena merupakan kecelakaan tunggal, kendaraan yang terlibat dalam kejadian tersebut hanya sepeda motor yang dikendarai korban.

Kepolisian telah melakukan sejumlah tindakan setelah menerima laporan kejadian tersebut, mulai dari mendatangi tempat kejadian perkara, mengamankan barang bukti, mencatat keterangan saksi, mengecek kondisi korban di RSUD Blora, melakukan olah TKP hingga melaporkan hasil penanganan kepada pimpinan.

Artinya, untuk kejadian ketiga ini, keberadaan gundukan tanah galian fiber optik secara eksplisit masuk dalam kronologi kecelakaan berdasarkan keterangan kepolisian.

4. Karyawan Meubeler Nyungsep, Wajah Penuh Luka

Belum lama berselang, insiden kembali terjadi di ruas yang sama.

Kali ini korbannya seorang pria bernama Pardi, warga Desa Sumurboto, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, yang bekerja sebagai karyawan meubeler.

Pardi mengalami kecelakaan pada Rabu (3/9/2026) dini hari sekitar pukul 01.30 WIB di ruas Jalan Raya Nasional Blora-Cepu KM 07, tepatnya di sekitar Koramil Jepon.

Kepala Desa Brumbung, Tahan, membenarkan adanya kejadian tersebut.

“Rabu sekitar pukul 01.30 WIB,” ujar Tahan ketika dikonfirmasi.

Informasi mengenai kecelakaan tersebut diketahui Kades Tahan lantaran korban merupakan karyawannya. Pardi tidak bisa masuk kerja karena mengalami luka setelah kecelakaan.

Saat ditemui di kediamannya, kondisi wajah Pardi tampak penuh luka. Bagian tangan kanannya yang sehari-hari digunakan untuk bekerja, termasuk menggergaji kayu, juga mengalami luka.

Baca juga: Bupati Blora Dorong Revitalisasi Pasar Plaza Cepu, Beras Organik Dibidik Tembus Pasar Nasional

“Paling dua-tiga bulanan semoga sudah sembuh,” ujar Pardi. 

Kondisi korban bukan hanya berdampak terhadap kesehatan, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonominya. Sebagai pekerja meubeler, kondisi tangan sangat berkaitan dengan kemampuannya menjalankan pekerjaan sehari-hari.

Ibu korban pun tidak kuasa menahan kesedihan melihat kondisi anaknya.

“Iki anakku ngopeni anak loro cilik-cilik, yen awak e koyok ngene dadi ra iso mergawe. Wingi rahine nyungsep, sampai biblak yo kebak lemah thok,” tutur ibu korban sembari menangisi kondisi anaknya.

Keluarga korban berharap pihak vendor yang mengerjakan proyek galian fiber optik tidak lepas tangan dan dapat memberikan tanggung jawab, terutama untuk membantu kebutuhan sehari-hari korban selama masa pemulihan.

Harapan tersebut muncul karena korban untuk sementara tidak dapat bekerja akibat luka yang dialaminya.

K3 Proyek Galian Fiber Optik

Empat kejadian tersebut semakin menyoroti kondisi pengamanan pekerjaan galian fiber optik di sepanjang ruas Blora-Cepu.

Berdasarkan pengamatan di sejumlah titik, sistem pengamanan proyek dinilai masih perlu mendapat perhatian serius. Peringatan di lokasi pekerjaan terlihat hanya mengandalkan banner yang dipasang secara sederhana, sementara keberadaan police line atau pembatas fisik di sejumlah lokasi masih minim.

Persoalan lain adalah penerangan pada malam hari. Sejumlah titik galian yang berada di sisi jalan membutuhkan penanda dan penerangan yang mampu membuat keberadaan lubang maupun material proyek terlihat jelas oleh pengendara.

Selain itu, proyek galian Fiber optik ini tidak dijaga secara khusus pada malam hari ataupun 24 jam. Oleh sebab itu, kondisi menjadi lebih rawan ketika material hasil galian ditumpuk di pinggir jalan.

Dalam sejumlah titik, tanah hasil galian yang dimasukkan ke dalam karung terlihat ditempatkan sangat dekat dengan badan aspal. Bahkan, gundukan material tersebut berada di area yang bersinggungan langsung dengan ruang gerak pengguna jalan.

Situasi seperti ini menjadi semakin berbahaya pada malam hari ketika jarak pandang pengendara terbatas.

Selain persoalan material, aktivitas pekerja di sekitar jalan juga perlu menjadi perhatian. Para pekerja terkadang terlihat membawa atau memindahkan material tanpa memperhatikan secara maksimal arus kendaraan yang melintas.

Padahal, pekerjaan galian di sisi jalan nasional memiliki risiko tinggi karena pekerja berhadapan langsung dengan kendaraan yang melaju setiap saat.

Editor : Ahmad Adirin

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru