Cepu, MEMANGGIL.CO - Selama puluhan tahun, RSUD dr. R. Soeprapto Cepu menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang lekat dengan kehidupan masyarakat Cepu dan sekitarnya. Rumah sakit yang kini menjadi salah satu andalan pelayanan kesehatan di Kabupaten Blora itu ternyata memiliki sejarah panjang yang bermula dari kondisi serba terbatas.
Jauh sebelum berdiri di Jalan Ronggolawe Nomor 50 Cepu, pelayanan kesehatan di wilayah tersebut belum berada dalam satu kompleks rumah sakit. Berbagai layanan justru tersebar di sejumlah lokasi dengan fasilitas yang sederhana.
Baca juga: Bupati Blora Dorong Revitalisasi Pasar Plaza Cepu, Beras Organik Dibidik Tembus Pasar Nasional
Di Jalan Diponegoro, misalnya, terdapat kantor administrasi, ruang pemeriksaan, poliklinik, UGD, apotek dan laboratorium. Sementara ruang perawatan pasien laki-laki, kamar operasi serta garasi ambulans berada di kawasan Sidomulyo.
Pelayanan bagi pasien perempuan juga berada di kawasan yang sama. Di sana terdapat ruang perawatan perempuan, ruang bersalin hingga dapur umum.
Kondisi tersebut menjadi bagian awal perjalanan panjang pelayanan kesehatan di Cepu. Di tengah keterbatasan, para tenaga kesehatan tetap menjalankan tugas untuk melayani masyarakat.
Salah satu nama yang kemudian tidak bisa dilepaskan dari sejarah tersebut adalah dr. R. Soeprapto Soerosepoetro. Ia dipercaya menjadi pimpinan rumah sakit sekaligus memiliki peran dalam memperjuangkan hadirnya fasilitas kesehatan permanen di Cepu.
Pernah Berada di Tengah Gejolak Perjuangan
Perjalanan pelayanan kesehatan di Cepu juga bersinggungan dengan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada masa Agresi Militer Belanda II atau Clash II 1947–1949, sejumlah tenaga kesehatan ikut bergerak bersama perjuangan dan harus meninggalkan Cepu.
Dr. R. Soeprapto bersama R. Koesnijo, Soekirno dan Sajono melakukan pengunduran diri ke arah barat hingga wilayah Doplang dan Sulursari. Dalam perjalanan tersebut, dr. Soeprapto bertemu dr. Soerojo, Kepala Dinas Kesehatan Tentara Semarang.
Pertemuan tersebut menjadi titik penting karena dr. Soeprapto mendapat arahan untuk kembali ke Cepu. Tujuannya adalah mengoordinasikan Rumah Sakit Umum Cepu yang saat itu telah dikuasai pasukan Belanda.
Setelah penyerahan kekuasaan kepada NKRI pada 1949, tenaga kesehatan kembali ke Cepu dan pelayanan rumah sakit dilanjutkan. Namun pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya sebuah fasilitas kesehatan yang lebih permanen dan terpusat.
Dr. Soeprapto kemudian bersama tokoh kesehatan dan masyarakat mencari lokasi yang dianggap sesuai. Bekas rumah tinggal Direktur BPM Cepu di Jalan Ronggolawe Nomor 50 menjadi lokasi yang kemudian diajukan untuk pembangunan rumah sakit.
Usulan itu disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Blora dan pemerintah pusat. Pada awalnya, pembangunan menghadapi persoalan pembiayaan karena Pemkab Blora telah memiliki Rumah Sakit Umum Blora.
Perjuangan tidak berhenti. Setelah berbagai upaya dilakukan, pembangunan rumah sakit akhirnya mendapat persetujuan.
Baca juga: Warga Klokah Blora Krisis Air Bersih, Kejati Jateng Kirim 20 Tangki Bantuan
Pembangunan dimulai pada 1954. Dua tahun berselang, bangunan rumah sakit selesai dan siap digunakan.
Pada 8 Mei 1956, rumah sakit diserahkan kepada pemerintah. Pelayanan kemudian secara bertahap dipindahkan dari lokasi-lokasi lama menuju kompleks baru di Jalan Ronggolawe.
Tonggak sejarah berikutnya terjadi pada 5 Juni 1956. Pada tanggal tersebut, penggunaan rumah sakit diresmikan oleh Bupati Blora.
Peresmian itu berlangsung meriah dengan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari dari Solo yang digelar semalam suntuk. Dari tempat inilah perjalanan rumah sakit permanen di Cepu memasuki babak baru.
Dari 25 Pegawai Menjadi Andalan Pelayanan Kesehatan Blora
Saat pertama kali digunakan, rumah sakit tersebut hanya memiliki 25 pegawai. Terdiri atas satu dokter yang juga menjabat kepala rumah sakit, satu kepala kantor, satu kepala perawatan serta 22 tenaga paramedis dan administrasi.
Fasilitas kesehatan yang tersedia ketika itu tentu belum seperti sekarang. Peralatan medis masih sangat terbatas, tetapi pelayanan tetap dijalankan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Baca juga: Tembakau Jadi Andalan Pertanian Blora, 3.000 Hektare Digarap 10.600 Petani
Perjalanan puluhan tahun kemudian membawa perubahan besar. Rumah sakit berkembang mengikuti pertumbuhan masyarakat, kemajuan teknologi kesehatan dan meningkatnya kebutuhan pelayanan medis.
Identitas rumah sakit kemudian semakin kuat ketika Pemerintah Kabupaten Blora memberikan nama baru. Melalui Peraturan Daerah Kabupaten Blora Nomor 06 Tahun 2010, rumah sakit tersebut resmi menggunakan nama RSUD dr. R. Soeprapto Cepu Kabupaten Blora.
Nama tersebut menjadi penghormatan bagi dr. R. Soeprapto Soerosepoetro yang memiliki bagian penting dalam perjalanan rumah sakit. Sosoknya menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan di Cepu tidak lahir secara instan.
Pada tahun yang sama, RSUD dr. R. Soeprapto Cepu ditetapkan sebagai Badan Layanan Umum Daerah atau BLUD berdasarkan Peraturan Bupati Blora Nomor 94 Tahun 2010. Perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan tata kelola dan pelayanan rumah sakit.
Kini, rumah sakit yang berdiri di Jalan Ronggolawe itu terus menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Dari tempat yang dahulu hanya memiliki 25 pegawai dan peralatan terbatas, RSUD dr. R. Soeprapto Cepu berkembang menjadi salah satu andalan pelayanan kesehatan Blora.
Setiap hari, aktivitas rumah sakit terus berjalan tanpa banyak orang mengetahui bagaimana panjangnya sejarah yang berada di balik bangunan tersebut. Ada perjuangan, pengungsian, keterbatasan, pembangunan dan perubahan nama yang membentuk perjalanan rumah sakit hingga seperti sekarang.
Sejarah RSUD dr. R. Soeprapto Cepu pada akhirnya bukan hanya cerita mengenai sebuah institusi kesehatan. Ini adalah bagian dari sejarah Kabupaten Blora, sekaligus jejak panjang perjuangan masyarakat Cepu untuk memiliki pelayanan kesehatan yang layak dan terus berkembang.
Editor : Ahmad Adirin