Geger! Frankie MacDonald Ramal Gempa M9 Guncang Jawa Sebelum 2026 Berakhir, BMKG Buka Suara

Reporter : Pytaloka
Frankie MacDonald.

Jakarta, MEMANGGIL.CO - Nama Frankie MacDonald mendadak ramai diperbincangkan warganet Indonesia setelah video pria asal Kanada itu beredar luas dan menyebut kemungkinan terjadinya gempa bumi dahsyat di Indonesia sebelum akhir 2026.

Dalam pernyataannya, Frankie menyebut kekuatan gempa yang dibayangkannya bisa mencapai magnitudo 7 hingga 9 dan berpotensi berdampak pada Jakarta serta Pulau Jawa.

Video tersebut menjadi sorotan karena narasi mengenai gempa besar di Indonesia muncul di tengah tingginya perhatian masyarakat terhadap ancaman gempa dan zona megathrust. Namun, klaim tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai prediksi ilmiah mengenai kapan, di mana, dan seberapa besar gempa akan terjadi.

Frankie dalam video yang kembali viral itu mengingatkan masyarakat Indonesia agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana. Ia juga menyebut perlunya menyiapkan perlengkapan darurat dan mengamankan barang-barang di rumah yang berpotensi jatuh ketika terjadi guncangan.

Salah satu bagian yang paling menyita perhatian adalah penyebutan Pulau Jawa dan Jakarta sebagai wilayah yang menurut klaimnya dapat terdampak gempa besar. Bahkan, kekuatan gempa yang disebut dalam video tersebut berada pada rentang M7 hingga M9 atau lebih.

Siapa Frankie MacDonald?
Frankie MacDonald dikenal sebagai pria asal Kanada yang aktif membuat konten mengenai cuaca dan berbagai fenomena alam. Namanya kemudian dikenal luas di media sosial karena sejumlah konten yang membahas kemungkinan terjadinya peristiwa cuaca ekstrem maupun bencana.

Namun, penyebutan Frankie sebagai ahli meteorologi, kebencanaan atau pakar gempa perlu disikapi secara hati-hati. Sejumlah laporan yang membahas viralnya video tersebut menyebut Frankie tidak memiliki latar belakang keilmuan formal sebagai ahli geologi atau seismologi yang dapat menjadi dasar untuk memprediksi gempa bumi secara presisi.

Hal inilah yang membuat klaim mengenai gempa M9 di Indonesia tidak bisa disamakan dengan informasi resmi dari lembaga pemantau kegempaan. Prediksi yang beredar di media sosial harus dibedakan dengan analisis ilmiah yang menggunakan data seismologi, pemantauan aktivitas tektonik dan kajian risiko bencana.

Terlebih lagi, ilmu pengetahuan saat ini belum mampu menentukan secara tepat kapan sebuah gempa bumi akan terjadi. Faktor waktu menjadi persoalan utama karena pelepasan energi pada suatu sumber gempa tidak dapat ditentukan secara presisi jauh sebelum peristiwa berlangsung.

BMKG Tegaskan Gempa Tak Bisa Diramal Tepat

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG telah merespons informasi viral tersebut. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menegaskan bahwa gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat berdasarkan waktu dan lokasi tertentu.

Menurut Wijayanto, Indonesia memang merupakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan gempa tinggi. Ancaman tersebut berkaitan dengan keberadaan berbagai sumber gempa, termasuk zona megathrust dan sesar aktif.

Namun, keberadaan sumber gempa bukan berarti lembaga atau seseorang dapat memastikan kapan gempa besar akan terjadi. BMKG menegaskan belum ada teknologi yang mampu memberikan prediksi gempa secara akurat mengenai waktu dan lokasi kejadiannya.

"Masyarakat Indonesia diimbau agar tetap tenang dan waspada serta tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, khususnya yang beredar melalui media sosial," kata Wijayanto, seperti dikutip pada Senin (14/9/2026) dari laporan yang memuat tanggapan BMKG

Pernyataan tersebut menjadi penting karena informasi mengenai bencana sangat mudah menyebar melalui media sosial. Narasi yang menggunakan angka besar seperti M9 dapat memicu kepanikan apabila masyarakat menganggapnya sebagai kepastian bahwa gempa akan terjadi pada waktu tertentu.

Indonesia Memang Rawan Gempa

Di balik viralnya ramalan Frankie MacDonald, terdapat satu hal yang memang tidak terbantahkan, yakni Indonesia berada di kawasan yang memiliki aktivitas tektonik tinggi. Karena itu, ancaman gempa merupakan risiko yang memang harus dihadapi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

BMKG berulang kali menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sejumlah sumber gempa aktif. Zona megathrust dan berbagai sesar aktif menjadi bagian dari sumber ancaman yang terus dipantau, meskipun waktu terjadinya gempa tidak dapat dipastikan.

Mantan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati juga menegaskan bahwa zona atau lokasi potensi gempa dapat dipetakan berdasarkan kondisi tektonik. Namun, kapan energi tersebut dilepaskan menjadi gempa besar tidak dapat diprediksi secara akurat.

Penyebutan waktu seperti "sebelum akhir 2026" tidak bisa dijadikan kepastian ilmiah. Bahkan apabila gempa besar benar-benar terjadi dalam rentang waktu yang disebutkan, hal tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa ramalan tersebut benar.

Dwikorita menyebut apabila kejadian tersebut nantinya bertepatan dengan ramalan, hal itu dapat merupakan kebetulan. Menurutnya, yang dapat diketahui adalah potensi dan lokasi sumber gempa, bukan waktu pasti pelepasan energinya.

Jangan Panik, Kesiapsiagaan Tetap Penting

Masyarakat tidak perlu menunggu adanya ramalan gempa untuk mulai mempersiapkan diri. Kesiapsiagaan justru perlu dilakukan karena Indonesia memang memiliki risiko gempa yang nyata, terlepas dari benar atau tidaknya klaim yang beredar di media sosial.

Langkah sederhana seperti mengetahui jalur evakuasi, mengenali titik berkumpul, mengamankan benda berat dan mudah jatuh, serta menyiapkan perlengkapan darurat dapat menjadi bagian dari mitigasi bencana. Persiapan tersebut jauh lebih penting dibandingkan memperdebatkan tanggal atau angka magnitudo dari sebuah ramalan yang belum terbukti secara ilmiah.

BMKG juga menyebut masyarakat perlu tetap tenang dan waspada serta mengutamakan informasi dari sumber resmi. Informasi mengenai aktivitas gempa dan peringatan kebencanaan sebaiknya diperoleh melalui kanal lembaga yang memiliki kewenangan dan kemampuan pemantauan.

Dengan demikian, kabar mengenai Frankie MacDonald yang menyebut gempa M7 hingga M9 akan mengguncang Indonesia sebelum akhir 2026 sebaiknya tidak dipahami sebagai kepastian. Ancaman gempa memang nyata, tetapi kapan gempa besar terjadi belum dapat diprediksi secara akurat oleh teknologi saat ini.

Masyarakat Pulau Jawa maupun daerah lain di Indonesia tetap dianjurkan meningkatkan kesiapsiagaan tanpa harus panik. Menghadapi potensi bencana dengan mitigasi dan informasi yang benar jauh lebih penting daripada mempercayai ramalan yang beredar tanpa dasar ilmiah.

 

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru