Jakarta, MEMANGGIL.CO - Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dan membuat perhatian publik tertuju ke kawasan Selat Sunda. Aktivitas gunung api yang meningkat tersebut bahkan dikaitkan dengan potensi gempa megathrust Selat Sunda yang selama ini menjadi salah satu ancaman bencana yang terus dipantau.
Namun, masyarakat diminta tidak buru-buru menghubungkan kedua fenomena tersebut. Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak dapat dijadikan tanda bahwa gempa megathrust Selat Sunda akan segera terjadi.
Pakar gempa dan tsunami Daryono menjelaskan, aktivitas vulkanik dan gempa tektonik memiliki sumber serta mekanisme yang berbeda. Pergerakan magma, fluida dan gas di dalam gunung menjadi bagian dari proses vulkanik, sedangkan gempa tektonik berkaitan dengan pergerakan lempeng serta pelepasan energi pada struktur batuan.
Karena perbedaan mekanisme tersebut, energi yang dihasilkan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak cukup untuk memicu gempa tektonik besar di zona megathrust. Penjelasan ini sekaligus membantah anggapan bahwa erupsi Anak Krakatau secara otomatis menjadi pemicu gempa besar di Selat Sunda.
Menurut Daryono, kemungkinan hubungan justru dapat terjadi dari arah sebaliknya. Gempa tektonik besar dapat memberikan gangguan pada sistem gunung api yang memang sedang aktif dan dalam kondisi tertentu berpotensi meningkatkan aktivitas vulkanik.
Artinya, apabila suatu saat terjadi gempa tektonik besar di sekitar zona subduksi, guncangan tersebut secara teori dapat memengaruhi aktivitas Gunung Anak Krakatau. Akan tetapi, kondisi tersebut tetap bergantung pada keadaan sistem magma dan karakteristik masing-masing gunung api.
Erupsi Anak Krakatau yang terjadi pada awal September 2026 sendiri menjadi perhatian karena aktivitasnya berlangsung cukup signifikan. Pemantauan terhadap gunung api tersebut terus dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Selain bahaya langsung di sekitar gunung, erupsi juga menghasilkan abu vulkanik yang terbawa angin menuju wilayah yang lebih luas. Material vulkanik tersebut bahkan berdampak terhadap sektor penerbangan di sejumlah wilayah karena abu vulkanik dapat membahayakan mesin pesawat.
BMKG melaporkan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau mencapai wilayah Banten, bagian barat dan selatan Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu. Pada ketinggian tertentu, abu juga bergerak menuju wilayah Samudra Hindia mengikuti pola angin di atmosfer.
Situasi tersebut membuat sejumlah bandara melakukan penyesuaian operasional. Penutupan sementara sejumlah bandara dilakukan sebagai langkah keselamatan setelah jalur penerbangan terdampak sebaran abu vulkanik.
Di tengah aktivitas tersebut, isu tsunami juga menjadi perhatian masyarakat pesisir. Namun pemantauan BMKG melalui sistem peringatan dini tsunami tidak menunjukkan adanya anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami akibat rangkaian erupsi Anak Krakatau tersebut.
Masyarakat di sekitar Selat Sunda pun diminta tetap tenang tetapi tidak mengabaikan informasi resmi. Kewaspadaan terutama diperlukan bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik maupun aktivitas pelayaran di sekitar kawasan gunung.
Status aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menjadi hal yang harus diperhatikan masyarakat. Warga, wisatawan dan pelaku pelayaran diminta mematuhi radius aman yang ditetapkan otoritas vulkanologi dan tidak mendekati kawasan pusat erupsi.
Penting dipahami bahwa potensi megathrust Selat Sunda memang merupakan ancaman gempa yang perlu dimitigasi. Namun, keberadaan potensi tersebut tidak berarti gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat dan tidak dapat diprediksi hanya dengan melihat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Indonesia memiliki banyak gunung api aktif sekaligus berada di kawasan pertemuan lempeng bumi. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu memiliki pemahaman kebencanaan yang benar agar mampu membedakan antara aktivitas vulkanik, gempa tektonik dan potensi tsunami.
Erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini kembali menunjukkan bagaimana satu peristiwa alam dapat menimbulkan dampak berantai, mulai dari aktivitas masyarakat hingga transportasi udara. Pada saat yang sama, munculnya kembali pembahasan megathrust menunjukkan pentingnya literasi kebencanaan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terbukti secara ilmiah.
Pakar menegaskan bahwa erupsi Anak Krakatau bukan pemicu gempa megathrust Selat Sunda. Masyarakat diminta mengikuti perkembangan dari PVMBG dan BMKG serta tidak mempercayai informasi yang mengklaim dapat menentukan kapan gempa megathrust akan terjadi.
Kewaspadaan tetap diperlukan, tetapi kepanikan tidak dibutuhkan. Mengikuti informasi resmi, memahami jalur evakuasi dan mematuhi zona bahaya merupakan langkah yang jauh lebih penting daripada menyebarkan spekulasi mengenai hubungan erupsi Anak Krakatau dengan gempa megathrust.