Blora, MEMANGGIL.CO - Teriakan meminta pertolongan tiba-tiba terdengar histeris dari halaman Kantor Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada Rabu (16/9/2026) siang.
Di bawah terik matahari dan di atas rumput halaman yang tampak mengering, sejumlah orang berseragam sekolah memperagakan adegan seperti siswa yang mengalami keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Bu tolong, tolong bu, tolong bu,” demikian terdengar dari jeritan teriakan suara mereka.
Beberapa pemeran kemudian memperagakan kondisi panik hingga “glesotan” di halaman kantor, sementara peserta lain memainkan karakter orang tua yang berusaha mengetahui apa yang terjadi.
Adegan itu sekilas membuat suasana halaman Kantor Sekda Blora seperti berubah menjadi lokasi kejadian. Namun, keracunan MBG tersebut bukan kejadian sebenarnya yang menimpa para pemeran, melainkan drama teatrikal yang dimainkan kelompok orang yang mengatasnamakan Masyarakat Peduli Pendidikan dan Anak (MPPA).
Drama tersebut menjadi bagian dari rangkaian aksi sebelum mereka mengikuti audiensi di ruang rapat Wakil Bupati Blora. Dengan kostum, dialog, properti dan adegan siswa yang dibuat seperti mengalami gangguan setelah makan, MPPA menyampaikan pesan serta kritik terkait program MBG dan lingkungan pendidikan.
Sebelum sampai di kantor pemerintahan tersebut, rombongan terlebih dahulu berjalan kaki dari kawasan Jalan Pemuda menuju Kantor Sekda Blora. Mereka membawa spanduk dan sejumlah poster yang kemudian digunakan sebagai bagian dari aksi penyampaian aspirasi.
Begitu tiba di halaman, aksi tidak langsung berubah menjadi forum formal. Para peserta justru terlebih dahulu membangun sebuah adegan yang menggambarkan kepanikan anak dan orang tua setelah menyantap makanan.
Sejumlah peserta tampil dengan karakter yang berbeda-beda. Agus Jumantoro alias Suges terlihat mengenakan seragam anak SD, sedangkan Jimi Galuh Romadhoni alias Dhoni tampil menggunakan seragam anak SMP.
Agus Ariyanto alias Agus CCTV juga mengenakan seragam SD dan memainkan peran sebagai anak sekolah. Peserta lainnya memainkan karakter orang tua yang digambarkan panik melihat kondisi anak dalam skenario tersebut.
Ada pula Rival Alfian Esa Saputra, mahasiswa magister hukum pidana Untag Semarang, yang sebelumnya laporan resmi ke Polres Blora dan sudah dimintai keterangan juga ikut ambil bagian dalam drama dengan mengenakan pakaian yang menggambarkan siswa SMA.
Para pemeran kemudian berinteraksi satu sama lain membangun suasana seolah-olah baru terjadi persoalan setelah makanan MBG dikonsumsi.
“Iki maeng kenopo le, mendem (keracunan) opo le,” terdengar ucapan pemeran yang memainkan karakter orang tua.
Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari dialog untuk menggambarkan kebingungan orang tua ketika melihat anaknya dalam kondisi yang diperankan seperti korban keracunan.
“Maeng bar mangan endok (telur),” jawab pemeran siswa.
Percakapan kemudian berlanjut dengan permintaan pertolongan yang kembali memperkuat suasana dramatis.
“Tulung Bu,” terdengar suara pemeran lainnya.
Pertanyaan kembali muncul, “Iki maeng kenopo le,” sebelum dijawab dengan kalimat, “Bar mangan tahu.”
Dialog pendek berbahasa Jawa tersebut menjadi bagian dari skenario yang dimainkan di hadapan peserta aksi dan orang-orang yang berada di sekitar halaman kantor.
Kata-kata sederhana tentang telur, tahu, kondisi anak dan permintaan pertolongan sengaja dipadukan dengan ekspresi serta gerakan tubuh untuk menggambarkan kepanikan.
Glesotan di Tengah Rumput yang Mengering
Salah satu bagian yang paling mencolok adalah ketika pemeran siswa melakukan adegan “glesotan” di halaman Kantor Sekda Blora. Rumput yang terlihat mengering di tengah musim kemarau menjadi latar alami drama tersebut.
Para pemeran tetap menjalankan perannya di bawah cuaca panas. Dari kejauhan, adegan itu terlihat seperti gambaran siswa yang sedang mengalami kondisi darurat, sementara peserta lain berdiri membawa poster dan spanduk.
Visual tersebut kemudian diperkuat dengan sejumlah tulisan yang dibawa peserta. Terlihat poster bertuliskan “AKU EMPE MBG” dan “AKU TAHU MBG” yang diangkat di antara rombongan.
Spanduk besar juga dibentangkan di tengah jalan dengan pesan “STOP MBG DI LINGKUNGAN SEKOLAH” serta seruan agar anak-anak dapat belajar dengan tenang.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa aksi MPPA tidak sekadar menyoroti makanan, tetapi juga mengaitkannya dengan keberadaan anak dan proses pendidikan di sekolah.
Kostum sekolah membuat pesan itu semakin mudah ditangkap secara visual. Anak SD, SMP dan SMA yang diperankan peserta menjadi simbol dari kelompok usia pelajar yang ditempatkan sebagai pusat perhatian dalam kritik tersebut.
Rangkaian aksi itu bermula dari perjalanan kaki rombongan di Jalan Pemuda. Langkah mereka kemudian berakhir di kompleks Kantor Sekda Blora, tempat aksi penyampaian aspirasi dilanjutkan dengan pertunjukan teatrikal.
Tidak ada panggung khusus yang disiapkan untuk drama tersebut. Halaman kantor pemerintahan justru digunakan sebagai ruang pertunjukan, dengan peserta aksi menjadi pemeran sekaligus pembawa pesan.
Di satu sisi terdapat peserta dengan kostum siswa. Di sisi lain, ada pemeran orang tua, spanduk, poster dan rombongan yang menyaksikan jalannya adegan.
Suasana dramatis ketika pemeran siswa meminta pertolongan dan memperagakan kondisi seperti orang yang tidak berdaya. Teriakan “Bu tolong” menjadi salah satu suara yang paling menonjol dari adegan tersebut.
Namun, konteks adegan tetap perlu dibedakan dari fakta kejadian. Tidak terdapat klaim bahwa para pemeran tersebut benar-benar mengalami keracunan MBG pada saat aksi berlangsung. Adegan itu merupakan drama teatrikal sebagai bentuk penyampaian aspirasi.
Dengan kata lain, siswa yang keracunan, orang tua yang panik dan adegan glesotan merupakan bagian dari skenario yang sengaja dimainkan. Tema tersebut digunakan MPPA untuk menggambarkan keresahan mereka mengenai persoalan MBG yang dikaitkan dengan anak dan lingkungan pendidikan.
Setelah Drama, Aspirasi Dibawa ke Ruang Audiensi
Setelah pertunjukan di halaman selesai, rombongan kemudian melanjutkan rangkaian kegiatan menuju ruang rapat Wakil Bupati Blora. Di ruang tersebut, aksi teatrikal berganti menjadi forum audiensi.
Jika di halaman kantor pesan disampaikan melalui seragam, poster, spanduk dan adegan “keracunan”, maka di ruang audiensi penyampaian aspirasi berlangsung melalui forum pertemuan. Perubahan suasana tersebut membuat rangkaian aksi berjalan dari panggung terbuka menuju meja dialog.
Drama yang berlangsung beberapa saat di halaman Kantor Sekda Blora menyisakan gambaran yang kuat. Rumput kering menjadi tempat para pemeran “glesotan”, seragam SD hingga SMA menjadi simbol anak sekolah, sementara teriakan “Bu tolong!” menjadi bagian dari pesan yang hendak dibawa MPPA.
Aksi tersebut juga memperlihatkan bagaimana isu MBG dapat dipresentasikan melalui bentuk teatrikal, bukan hanya lewat orasi dan poster. Dengan memainkan skenario siswa dan orang tua, peserta mencoba menghadirkan gambaran emosional tentang kekhawatiran yang mereka ingin sampaikan kepada pemerintah.
Pada Rabu itu, halaman Kantor Sekda Blora untuk sesaat berubah menjadi panggung terbuka. Tetapi setelah drama berakhir, persoalan yang ingin mereka soroti tidak berhenti di halaman karena kemudian dibawa masuk ke ruang audiensi Wakil Bupati Blora.
Drama selesai, tetapi aspirasi tentang MBG, pendidikan dan perlindungan anak kemudian memasuki ruang pembahasan.
Editor : Ahmad Adirin