MEMANGGIL.CO – Pusat Kota Surabaya mendadak mencekam dan lumpuh total akibat kerusuhan massa yang berlangsung di depan Gedung Negara Grahadi, Jumat (29/8/2025).

Selama lebih dari 12 jam, mulai siang hingga dini hari, denyut nadi kota berhenti. Jalan-jalan protokol utama ditutup, pusat perbelanjaan terpaksa menghentikan operasional, dan ribuan aktivitas warga terhenti.

Kerusuhan ini dipicu oleh aksi solidaritas atas tewasnya seorang pengemudi ojek daring di Jakarta. Awalnya, unjuk rasa yang digelar di depan Grahadi berjalan tertib.

Namun, sekitar pukul 14.35 WIB, situasi berubah drastis menjadi anarkis. Massa yang tidak terkendali mulai membakar 25 unit sepeda motor, melempari aparat keamanan dengan batu, dan berusaha merangsek masuk ke halaman gedung pemerintahan Provinsi Jawa Timur.

Imbas dari aksi brutal ini langsung terasa di seluruh penjuru kota. Toko-toko, restoran, hingga mal besar, termasuk di area Tunjungan Plaza, menutup layanan mereka lebih awal. Jalur utama yang menghubungkan kawasan Tunjungan Plaza, Jalan Basuki Rahmat, hingga Bundaran Waru lumpuh total akibat blokade massa.

Akibatnya, transportasi publik terhenti dan banyak warga yang kesulitan untuk kembali ke rumah karena akses jalan ditutup oleh aparat untuk mencegah bentrokan meluas.

“Kami terpaksa menutup akses masuk demi keselamatan para karyawan. Situasi di luar sudah tidak terkendali,” ujar Ratna, seorang pengelola kafe di Jalan Basuki Rahmat, menggambarkan kepanikan yang terjadi.

HUT RI

Aksi anarkis bahkan meluas ke berbagai fasilitas umum dan kantor polisi. Kantor Polsek Tegalsari serta beberapa pos polisi di Urip Sumoharjo, Taman Bungkul, dan Wonokromo tidak luput dari amukan massa. Sejumlah fasilitas tersebut dirusak dan dibakar, menyebabkan kepulan asap hitam membumbung tinggi dan menambah ketegangan di berbagai sudut kota.

Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto, menegaskan bahwa tindakan tegas terpaksa diambil untuk mengendalikan situasi. Aparat keamanan mengerahkan gas air mata dan kendaraan taktis water cannon untuk membubarkan massa. Namun, bentrokan susulan kembali pecah menjelang tengah malam hingga Sabtu dini hari (30/8).

Situasi baru berhasil dikendalikan sepenuhnya pada pukul 02.40 WIB, setelah aparat melakukan pengepungan dari dua arah dan berhasil memukul mundur massa.

Meski begitu, kerugian yang ditinggalkan cukup parah. Infrastruktur jalan rusak, fasilitas umum hancur, dan sektor ekonomi di pusat kota sempat lumpuh total.

Hingga kini, jumlah kerugian materiil dan korban jiwa masih dalam proses pendataan. Namun, yang pasti, kerusuhan ini telah meninggalkan jejak trauma mendalam dan mengguncang denyut aktivitas Kota Pahlawan yang dikenal damai.