Tuban, MEMANGGIL.CO - Pagi itu, halaman Mapolres Tuban terasa berbeda. Barisan personel berdiri rapi, mata menghadap lurus ke depan, seolah menyadari bahwa tugas yang akan mereka emban bukan sekadar rutinitas.
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah, keselamatan di jalan raya menjadi taruhannya.
Dalam rangka menciptakan kondisi keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas, Kepolisian Resor Tuban menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Keselamatan Semeru 2026, Senin (10/02/2025).
Apel tersebut dipimpin Wakapolres Tuban, Kompol Achmad Robial, serta dihadiri perwakilan Forkopimda, para pejabat utama Polres Tuban, Kapolsek jajaran, dan diikuti personel gabungan dari TNI-Polri, Dinas Perhubungan, serta Satpol PP.
Sebuah pemandangan yang mencerminkan sinergi lintas sektor demi satu tujuan memastikan masyarakat bisa berkendara dengan aman.
Apel gelar pasukan ini bukan sekadar seremoni. Di balik barisan yang tegap, tersimpan agenda penting yakni pemetaan akhir, final check kesiapan personel, sarana dan prasarana pendukung, hingga penguatan soliditas antarinstansi agar pelaksanaan operasi berjalan optimal di lapangan.
Dalam amanat Kapolda Jawa Timur yang dibacakan Wakapolres Tuban, Operasi Kepolisian Kewilayahan dengan sandi Operasi Keselamatan Semeru 2026 mengusung tema besar.
“Terwujudnya Kamseltibcarlantas yang Aman, Nyaman, dan Selamat Menjelang Pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2026 di Wilayah Tuban.”
Tema tersebut bukan tanpa alasan. Operasi Keselamatan Semeru menjadi langkah awal, sebuah upaya cipta kondisi sebelum dimulainya Operasi Ketupat Semeru 2026 dalam rangka pengamanan Idul Fitri.
Harapannya, potensi gangguan keamanan dan kecelakaan lalu lintas dapat ditekan sejak dini, sebelum arus mudik dan balik mulai padat.
“Operasi ini akan dilaksanakan selama 14 hari, terhitung mulai tanggal 2 hingga 15 Februari 2026,” terang Wakapolres.
Urgensi operasi ini terasa semakin nyata ketika melihat data tahun sebelumnya. Berdasarkan evaluasi Operasi Keselamatan Semeru 2025 di wilayah Jawa Timur, tercatat 531 kasus kecelakaan lalu lintas.
Angka itu bukan sekadar statistik, di baliknya ada 10 nyawa yang melayang, 51 korban luka berat, dan 553 korban luka ringan.
Angka-angka yang mengingatkan bahwa kelalaian di jalan raya bisa berujung duka.
Karena itu, penegakan hukum dalam operasi ini akan dilakukan secara selektif dan berprioritas pada pelanggaran yang berpotensi menimbulkan fatalitas.
Mulai dari pelanggaran rambu lalu lintas, kendaraan over dimension dan over loading (ODOL), melawan arus, tidak menggunakan helm berstandar SNI, hingga penggunaan lampu strobo yang tidak sesuai peruntukan.
Pemanfaatan teknologi ETLE (Electronic Traffic Law Enforcement) juga dioptimalkan sebagai sarana penegakan hukum yang transparan dan akuntabel, sekaligus mencegah terjadinya praktik pungutan liar.
Operasi Keselamatan Semeru 2026 sendiri melibatkan kekuatan besar yakni sebanyak 5.020 personel di seluruh Jawa Timur, dengan 117 personel disiagakan khusus di wilayah hukum Polres Tuban.
Di balik helm, rompi, dan seragam yang dikenakan para petugas, ada harapan sederhana namun bermakna. Yaitu agar setiap pengendara bisa sampai tujuan dengan selamat, agar jalan pulang menjelang Ramadan dan Idul Fitri tetap menjadi perjalanan penuh doa, bukan duka.