Blora, MEMANGGIL.CO - Di tengah ketenangan kabar kota kecil yang dikenal dengan sebutan Kota Mustika ini, Homestay Wilis Blora tiba-tiba menjadi sorotan.
Dari celah-celah gossip di media sosial hingga bisik-bisik warga, dugaan praktik yang tidak wajar di homestay ini membuat banyak orang terperangah dan penasaran.
Kehebohan ini semakin memuncak ketika rekaman suara beredar, menuding adanya dugaan suap dan praktik tidak pantas di dalamnya, membuat warga Blora bertanya-tanya?.
Apa sebenarnya yang terjadi di balik tembok-tembok homestay ini?.
Kapolsek Blora, AKP Nur Dwi Edie, saat dimintai tanggapan, memilih langkah hati-hati.
“Maaf mas, saya belum dapat informasi terkait hal tersebut. Nanti akan kita tindak lanjuti dan akan koordinasi dengan Pol PP, akan kita pantau kegiatan homestay tersebut. Bila memang ada praktik ilegal, akan ditindak sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya, Senin (2/2/2026).
Namun, di balik sikap resmi aparat kepolisian, masyarakat Blora terus bergeliat membahas isu ini. Rekaman suara yang diterima tim, yang diduga berasal dari pengelola homestay berinisial R, menguak sisi gelap yang selama ini tersembunyi.
Dalam rekaman itu, R mengaku kerap memberikan uang kepada sejumlah awak media.
“Terus kesan e wartawan jaluk penguripan dari situ, nek menurut saya kurang pantes. Tapi tak kasih kayak gini malam ini misalkan 500 yo wes lah kanggo bocah-bocah,” terdengar suara R dalam rekaman yang beredar.
Tak hanya dugaan suap, rekaman itu juga menyinggung insiden serius yang sempat terjadi di homestay tersebut. Parahnya, remaja berusia 21 tahun kedapatan membawa anak di bawah umur, tepatnya 15 tahun, hingga dilaporkan ke Polres Blora.
“Dulu ada media-media seng masalah, nganu anak dibawah umur. Nah itu kan aslinya yang bawa umur 21 tahun dia itu bawa bocah dibawah umur 15 tahun. Akhirnya laporan Polres. Nah kita gak ada masalah dengan Polres, tapi dengan media moro-moro diberitakan,” ujar R.
Bagi warga Blora, isu ini menjadi peringatan sekaligus pukulan. Sebab, Kota yang selama ini dikenal tenang kini tampak berisik oleh kabar yang mengguncang moral.