Jakarta, MEMANGGIL.CO - Perebutan kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 mulai memasuki fase pemetaan figur. Bukan hanya soal siapa yang disebut sebagai calon, tetapi juga bagaimana masing-masing tokoh membawa pengalaman, basis pengabdian dan latar keilmuan yang berbeda ke dalam kontestasi organisasi.
Sedikitnya delapan nama mencuat dalam bursa Ketua Umum PBNU. Mereka adalah KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, KH Nasaruddin Umar, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, KH Imam Jazuli, KH Zulfa Mustofa dan KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam.
Membaca peta tersebut tidak cukup hanya dengan melihat usia atau pendidikan formal. Dalam tradisi NU, pesantren, sanad keilmuan, pengalaman berorganisasi dan kemampuan menjaga hubungan dengan struktur hingga akar rumput menjadi bagian penting dari modal kepemimpinan.
Di sisi lain, NU memasuki fase yang berbeda setelah memasuki abad kedua. Organisasi dituntut tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mampu mengelola perubahan teknologi, pendidikan, ekonomi, sosial dan hubungan internasional.
Dari Pesantren, Organisasi hingga Pendidikan Global
Salah satu figur yang menarik perhatian adalah Gus Rozin. KH Abdul Ghaffar Rozin lahir pada 31 Juli 1976 dan tumbuh di lingkungan pesantren Kajen, Pati.
Ia berasal dari keluarga besar pesantren dan menjalani proses pendidikan serta pengabdian dalam lingkungan yang dekat dengan tradisi keilmuan NU. Namun perjalanan Gus Rozin tidak berhenti pada ruang pesantren.
Ia membangun pengalaman organisasi melalui jalur kaderisasi NU sejak IPNU. Dari sana, kiprahnya berlanjut ke GP Ansor, LP Ma'arif, Rabithah Ma'ahid Islamiyah hingga struktur PBNU.
Pola perjalanan tersebut menjadi salah satu karakter Gus Rozin. Ia mengalami langsung berbagai jenjang organisasi, dari ruang kaderisasi anak muda hingga struktur organisasi tingkat pusat.
Di sisi pendidikan, Gus Rozin menempuh studi di STAI Al-Aqidah Jakarta. Ia kemudian melanjutkan pendidikan master di Monash University, Australia, dan pendidikan doktoral di UIN Semarang.
Perpaduan pendidikan pesantren dan pendidikan tinggi tersebut kemudian bertemu dengan pengalaman pengelolaan pendidikan Islam. Gus Rozin dikenal lama berkecimpung dalam dunia pesantren dan pendidikan.
Pengalamannya semakin luas ketika dipercaya memimpin PWNU Jawa Tengah periode 2024-2029. Jabatan tersebut membuatnya berhadapan langsung dengan kompleksitas organisasi NU di tingkat wilayah.
Dari sini, profil Gus Rozin dapat dibaca bukan sekadar sebagai tokoh pesantren. Ia memiliki pengalaman pada tiga ruang sekaligus: kaderisasi organisasi, pendidikan dan kepemimpinan struktural.
Gus Kikin dan Warisan Besar Tebuireng
Nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin membawa kekuatan yang berbeda. Ia lahir pada 17 Agustus 1958 dan dikenal sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Sebagai salah satu pesantren yang memiliki sejarah panjang dalam NU, Tebuireng menjadi bagian penting dari basis sosial-keagamaan Gus Kikin.
Ia juga memiliki pengalaman pendidikan formal di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta dan Universitas Terbuka. Selain lingkungan pesantren, Gus Kikin memiliki pengalaman dalam dunia usaha dan organisasi.
Dengan usia 68 tahun, ia menjadi salah satu figur senior yang memiliki pengalaman panjang dalam lingkungan pesantren dan organisasi.
Nasaruddin Umar, Jalur Akademik dan Negara
KH Nasaruddin Umar memiliki jalur perjalanan yang berbeda. Lahir pada 23 Juni 1959, ia dikenal sebagai ulama, akademisi dan tokoh yang memiliki pengalaman di pemerintahan.
Nasaruddin menyelesaikan pendidikan S1 di IAIN Alauddin Ujung Pandang. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pengalaman publiknya antara lain sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal dan pejabat negara. Di lingkungan pesantren, ia dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren As'adiyah, Sulawesi Selatan.
Dalam laporan mengenai bursa Ketum PBNU, Nasaruddin juga menjadi satu-satunya nama yang disebut memiliki data kekayaan, sekitar Rp98,9 miliar. Sementara data serupa untuk tujuh kandidat lain tidak tercantum dalam laporan tersebut.
Gus Yahya dan Ujian Petahana
KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya memiliki posisi yang berbeda karena pernah memimpin PBNU sebagai ketua umum.
Lahir di Rembang pada 16 Februari 1966, Gus Yahya memiliki pengalaman panjang dalam struktur organisasi. Sebelum menjadi ketua umum, ia pernah dipercaya sebagai Katib Aam PBNU.
Kepemimpinannya juga ditandai dengan upaya memperkuat peran NU dalam isu global. Humanitarian Islam menjadi salah satu gagasan yang dibawa ke berbagai forum internasional.
Status sebagai petahana membuat Gus Yahya membawa dua sisi sekaligus. Ia memiliki pengalaman memimpin PBNU secara langsung, tetapi juga harus mempertanggungjawabkan rekam jejak kepemimpinannya di hadapan muktamirin.
Gus Yusuf dan Kekuatan Jaringan Pesantren
KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf lahir pada 9 Juli 1973. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang.
Pendidikan pesantrennya antara lain ditempuh di Lirboyo, Kediri. Dari basis pesantren tersebut, Gus Yusuf berkembang menjadi tokoh yang memiliki hubungan dengan berbagai kelompok di luar lingkungan pesantren.
Jaringannya meliputi kalangan pengusaha, seniman, politisi dan aktivis. Modal sosial tersebut menjadi bagian penting dari profilnya dalam dinamika bursa kepemimpinan PBNU.
Imam Jazuli dan Generasi Pesantren Berwawasan Global
KH Imam Jazuli lahir pada 17 November 1976. Ia dikenal sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon.
Jalur pendidikannya memperlihatkan kombinasi pesantren dan pendidikan internasional. Ia menempuh pendidikan S1 di Universitas Al-Azhar, Mesir, kemudian S2 dan S3 di Universiti Malaya.
Ia juga memiliki latar pendidikan pesantren di Lirboyo. Pengalaman tersebut menjadi basis bagi gagasan mengenai pengembangan pesantren di tengah perubahan zaman.
Gus Zulfa dan Kekuatan Dakwah
KH Zulfa Mustofa lahir pada 7 Agustus 1977. Ia dikenal sebagai Pengasuh Majelis Taklim Darul Mustofa, Jakarta.
Perjalanan pendidikannya lebih kuat melalui jalur pesantren. Pendidikan formalnya tercatat hingga jenjang MTs/MA sederajat.
Selain dakwah, Gus Zulfa aktif dalam organisasi NU. Ia juga dikenal melalui karya tulis, kitab dan sastra.
Karakter tersebut membuatnya membawa warna berbeda dalam bursa. Jalur dakwah dan pesantren menjadi fondasi utama perjalanan pengabdiannya.
Gus Salam dan Regenerasi Kiai Muda
KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam lahir pada 26 Februari 1977. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.
Ia menempuh pendidikan pesantren di Al-Falah Ploso, Kediri. Setelah itu, kiprahnya berkembang di lingkungan pesantren Denanyar.
Sebagai salah satu pesantren yang memiliki sejarah panjang dalam NU, Denanyar menjadi basis sosial Gus Salam. Ia juga dikenal sebagai bagian dari generasi kiai muda dengan gagasan yang lebih progresif.
Delapan Figur, Satu Persoalan Besar
Jika delapan nama tersebut ditempatkan dalam satu peta, terlihat bahwa tidak ada satu tipe tunggal calon pemimpin NU.
Gus Kikin membawa warisan pesantren besar dan pengalaman senior. Gus Rozin membawa perjalanan kaderisasi dari bawah, pengalaman pesantren, pendidikan internasional dan kepemimpinan organisasi di tingkat wilayah.
Nasaruddin Umar membawa pengalaman akademik dan pemerintahan. Gus Yahya membawa pengalaman sebagai petahana sekaligus jaringan internasional.
Gus Yusuf memiliki kekuatan jaringan pesantren dan pergaulan sosial. Imam Jazuli menawarkan kombinasi pendidikan pesantren dan akademik global.
Sementara Gus Zulfa dan Gus Salam merepresentasikan generasi kiai yang tumbuh dari tradisi dakwah dan pesantren.
Perbedaan tersebut justru memperlihatkan tantangan utama Muktamar ke-35 NU. Pertanyaan terbesarnya bukan sekadar siapa yang memiliki nama paling besar, melainkan model kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan NU untuk periode berikutnya.
NU harus tetap berakar pada pesantren, tetapi tidak boleh tertinggal menghadapi perubahan. Organisasi membutuhkan pemimpin yang memahami tradisi keilmuan sekaligus mampu membaca perkembangan teknologi, ekonomi, pendidikan, politik kebangsaan dan dinamika global.
Dalam konteks itu, rekam jejak menjadi penting karena pengalaman masa lalu menjadi salah satu indikator untuk melihat kemampuan seseorang menghadapi persoalan organisasi di masa depan.
Gus Rozin, misalnya, memiliki perjalanan yang mempertemukan kaderisasi NU, pesantren, pendidikan tinggi dan kepemimpinan struktural. Pengalaman tersebut membuatnya memiliki perspektif yang lahir dari beberapa lapisan sekaligus.
Namun, dinamika bursa belum menjadi keputusan akhir. Muktamar tetap menjadi ruang penentuan, sementara dukungan politik organisasi dapat berubah seiring konsolidasi para muktamirin.
Pada akhirnya, pertarungan kepemimpinan PBNU bukan hanya pertarungan antarfigur. Ia merupakan pertarungan gagasan tentang bagaimana NU mempertahankan akar tradisinya sambil menentukan posisi organisasi di tengah perubahan dunia.