Surabaya, MEMANGGIL.CO - Pasca gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT), Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menyiapkan sejumlah langkah darurat bagi 58 mahasiswanya yang terdampak.

Rektor Dr. Harjo Seputro menyebut, mahasiswa terdampak mendapat relaksasi pembayaran kuliah hingga akhir Oktober 2026. 

Mereka juga diperbolehkan mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) meski belum melakukan pembayaran.

"Dari pendataan hari ini, ada 108 mahasiswa Untag berasal dari NTT. Dari jumlah itu, 58 mahasiswa terdampak dan akan kami berikan relaksasi pembayaran. Kami juga memfasilitasi pembelajaran," terang Harjo, Rabu (19/08/2026).

Relaksasi diberikan berupa penundaan pembayaran hingga akhir Oktober 2026. Mahasiswa yang belum membayar KRS tetap diperbolehkan mengisi tanpa harus membayar terlebih dahulu.

Untag juga memberikan fleksibilitas pembimbingan bagi 36 mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir. 

"Sementara 14 mahasiswa lainnya berada di Surabaya, namun keluarganya di NTT terdampak," kata Harjo. 

Untag juga memfasilitasi pembelajaran daring selama dua minggu pertama bagi mahasiswa yang masih berada di NTT. 

Sementara agenda wisuda tetap dilaksanakan seperti biasa dengan tambahan bantuan simbolis bagi mahasiswa terdampak.

Di bidang psikososial, Fakultas Psikologi Untag Surabaya menyiapkan tim relawan yang akan diberangkatkan ke NTT. 

"Kami akan menginformasikan hasil observasi. Jika membutuhkan bantuan konseling dan intervensi psikologi, kami siap memberikan layanan," jelas Dekan Psikologi Untag Surabaya Diah Sofiah.

Selain itu, Untag dan IKBA Untag menggalang donasi hingga 31 Agustus 2026. Dana alumni dari wisuda sekitar 2.000 orang ditargetkan mencapai Rp100 juta dan akan diserahkan secara simbolis ke IKBA.

"Dana alumni separuh akan diperuntukkan bagi korban yang ada di NTT," kata Wakil Rektor III Untag Surabaya, Dr. Sumiati, M.M.

Untag juga berkoordinasi dengan PT Pertamina Jatim untuk pengiriman dosen dan mahasiswa ke NTT. Hingga kini, 2 mahasiswa di Manggarai Barat belum bisa dihubungi.