Tuban, MEMANGGIL.CO – Kawasan lahan proyek kilang minyak Grass Root Refinery (GRR) Pertamina di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, kembali terbakar, Jumat (21/8/2026) sekitar pukul 11.43 WIB.
Hingga api berhasil dipadamkan, penyebab kebakaran tersebut masih belum diketahui secara pasti.
Kobaran api dengan cepat membesar dan merambat di kawasan lahan yang dipenuhi rumput serta ilalang kering. Tiupan angin pada siang hari turut membuat api lebih mudah menjalar.
Kebakaran tersebut juga berdampak terhadap pengguna jalan Pantura. Kepulan asap putih membumbung dan menutup sebagian pandangan pengendara yang melintas di jalan nasional sekitar lokasi.
Kondisi itu sempat mengganggu aktivitas pengguna jalan dan berpotensi membahayakan keselamatan pengendara karena jarak pandang menjadi terbatas.
Kabid Damkar Pemkab Tuban, Sutaji, mengatakan pihaknya menerima laporan kebakaran dari Polsek setempat. Setelah mendapat laporan, petugas langsung bergerak menuju kawasan lahan kilang minyak untuk melakukan pemadaman.
"Tim langsung bergerak ke kawasan lahan kilang minyak itu untuk melakukan pemadaman," kata Sutaji.
Menurutnya, sebanyak empat unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi. Pemadaman juga mendapat dukungan dua unit truk suplai air milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban.
"Pemadaman dibantu anggota Polsek, tim GRR, TPPI, dan BPBD Tuban," jelasnya.
Sutaji menjelaskan, petugas terlebih dahulu memprioritaskan pemadaman api yang berada di sisi jalan nasional. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi kepulan asap yang membahayakan pengguna jalan.
"Kami memadamkan api yang berada di pinggir jalan nasional dulu karena asapnya sangat membahayakan pengguna jalan," tambahnya.
Setelah api di sekitar jalan nasional berhasil dikendalikan, petugas melanjutkan pemadaman di bagian dalam kawasan lahan proyek GRR.
Sutaji menegaskan luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar satu hektare. Api akhirnya berhasil dipadamkan seluruhnya sekitar pukul 14.35 WIB.
"Total lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar satu hektare," ungkap Sutaji.
Meski api telah berhasil dipadamkan, penyebab kebakaran masih menjadi tanda tanya. Sutaji menyebut hingga kini pihaknya belum mengetahui secara pasti sumber api yang memicu kebakaran tersebut.
"Kebakaran sudah berhasil dipadamkan, namun penyebabnya masih belum diketahui," ujarnya.
Kebakaran lahan di kawasan proyek GRR tersebut bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, kawasan tersebut juga sempat terbakar pada awal September 2023.
Saat itu, ratusan balok jati yang telah ditembak di kawasan tersebut ikut terbakar.
Atas kejadian ini, Sutaji mengimbau pemilik maupun pengelola lahan dan kawasan hutan untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika kondisi rumput, semak, dan ilalang dalam keadaan kering.
Ia meminta pengelola lahan tidak melakukan pembakaran sampah atau material kering karena api berpotensi cepat merambat, terutama ketika disertai tiupan angin.
Selain itu, pengelola lahan diminta melakukan koordinasi dengan pihak terkait sebagai upaya mencegah terjadinya kebakaran serta menyiapkan peralatan pemadam apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.
"Semak-semak dan ilalang yang sudah mengering diminta segera dibersihkan," ungkapnya.
Namun, Sutaji menegaskan proses pembersihan tidak dilakukan dengan cara membakar. Menurutnya, cara tersebut justru berisiko memicu kebakaran yang lebih luas.
"Menyiapkan peralatan untuk memadamkan api jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran hutan ataupun lahan. Melakukan pembersihan semak-semak yang sudah kering, yakni tidak dengan cara membakar," pungkasnya.